Jejak Terkini

EMPOK MATEN TRENG

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

(Kecerdasan Spiritual dan Kultural Klasik Masyarakat Sasak Di Balik Fenomena Alam Kemarau Panjang) 

KEMARAU panjang memang menantang. Kemarau panjang tak jarang pula meregang kehidupan makhluk-makhluk Tuhan yang tak kuat bertahan. Manusia, binatang, apalagi tetumbuhan menjadi gerah, jengah, dan mungkin tak betah akibat bara yang memerah. Mereka tak urung menjadi rapuh dan akhirnya berjatuhan.  Bagi manusia, kemarau panjang dengan gelombang panasnya menjadi pengalaman yang merisaukan. Prambors Band sendiri memberi ilustrasi tentang kemarau panjang yang ngeri. Dalam lirik lagu, mereka mengurai. “Tiada ranting yang rimbun. Daun berguguran. Mata air kering. Titik embun enggan terjun turun. Alam gersang, berdebu pula, Inilah kemarau panjang yang menantang insan tuk berusaha bertahan. Tiada pohon yang rindang untuk berteduh. Air mata kering. Suara hati parau menghalau kemarau panjang yang memanggang.” Kegalauan Prambors Band akhirnya disahuti Conny Dio dengan sebuah pertanyaan dalam lagu Setitik Air. ”Kemarau panjang, kapankah berganti?

Masyarakat Sasak ternyata tidak menjadi pengecualian. Mereka juga memandang kemarau panjang sebagai pemanggang. Persepsi masyarakat Sasak tersebut sampai melahirkan frasa-frasa yang menggoda perasa. Misalnya saja “Empok Maten Treng” sebagaimana yang penulis pilih sebagai judul artikel sederhana ini. Frasa “Empok Maten Treng,” sering disandingkan dengan beberapa term, di antaranya, Panas Bulan Siwak, Endaik, Ngalu Aik, dan lain-lain.

“Empok Maten Treng” dalam nalar Sasak klasik digunakan untuk menjelaskan sebuah fenomena alam (natural phenomenon) yang terjadi pada klimaks musim kemarau panjang. Natural phenomenon dimaksud berupa letupan-letupan buku bambu atau explosion of bamboo bagian penyangga atap rumah yang dikenal akrab dengan sebutan usuk.  Pada nalar Sasak, “Empok Maten Treng,” merupakan penanda tibanya puncak musim panas atau kemarau. Di Lombok Timur Selatan, termasuk Lombok Tengah Selatan, fenomena “Empok Maten Treng,” ini dikenal dengan “Panas Bulan Siwak.” Tidak sedikit frasa “Panas Bulan Siwak,” ini dijadikan sampiran untuk isi lelakak atau pantun yang menyatakan“ Empes Klopes Bungkak Awak” (terik panas yang hebat, hingga kulit punggung menggelembung dan terkelupas).

“Panas Bulan Siwak” atau  “Empok Maten Treng,” sebagai penanda tibanya klimaks kemarau panjang sesungguhnya bukan hal biasa. Dua Natural phenomenon ini adalah peristiwa hebat, not only (tidak hanya) dalam perspektif lahiriyah, but also (tapi juga) dalam tinjauan positive  effect yang dihadirkan. Di antara positive  effect yang dibidani  dua Natural phenomenon tersebut adalah value atau nilai spiritual maupun sosial dalam kultur masyarakat Sasak klasik.

Value atau nilai-nilai yang dibidani Natural phenomenon, “Panas Bulan Siwak” atau  “Empok Maten Treng,” terejawantah dengan tidak begitu mudah. Value atau nilai-nilai itu terformat melalui mata rantai yang tertata dan terpola. Kalau kita urai maka pola pembentukan value atau nilai-nilai mulai dari 1). Tejadinya natural phenomenon “Panas Bulan Siwak” atau  “Empok Maten Treng” yang diikuti oleh munculnya anomaly dan kebutuhan baru, 2). Lahirnya gagasan dan alternasi, 3), hadirnya pilihan dan prioritas solisi, dan 4). Menguatnya sebuaj prioritas sebagai solusi, tradisi, bahkan kultur yang pada akhirnya membentuk atau memformat Value atau nilai-nilai. Untuk memahami pembentukan Value atau nilai-nilai sebagaimana penjelasan di atas, pada bagian berikut akan penulis urai secara kontektual dengan menganalisa term Endaik dan Ngalu Aik sebagai dua effect paling mencolok dari natural phenomenon “Panas Bulan Siwak” atau  “Empok Maten Treng.” 

Petama, Endaik adalah tradisi masyarakat klasik Sasak di wilayah tadah hujan berupa usaha mencari dan mengumpulkan ait, baik secara sendiri-sendiri atau berkelompok dari sumber-sumber mata air untuk kebutuhan minum, mandi, ibadah atau bersuci, mencuci, dan menanak nasi. Tradisi Endaik ini lebih sering disaksikan di zona Lombok Selatan. Endaik tentu dipicu oleh kekeringan yang tejadi karena kemarau panjang. Peristiwa kemarau yang berkepanjangan dan kekeringan mengakibatkan anomaly, seperti kesulitan memenuhi kegiatan keseharian, seperti minum, mandi, ibadah atau bersuci, mencuci, dan menanak nasi. Fakta ini tentu tidak menjadikan masyarakat menyerah karena menyerah berarti “punah.”  Oleh sebab itu, masyarakat Sasak kemudian menggagas altenasi berupa mencari dan mengumpulkan air di sumber-sumber mata air. Setelah menemukan sumber mata air yang cukup, masyarakat Sasak melakukan Endaik, baik secara sendiri-sendiri atau berkelompok. Pada tahapan inilah value atau nilai-nilai mulai bersemi. Misalnya saja 1). nilai kemauan bekerja keras mencari dan mengumpulkan air di sumber mata air yang pasti membutuhkan energy, 2). Nilai kerjasama dan gotong royong bila Endaik dilaksanakan secara bersama, 3). Nilai kesabaran karena Endaik bukanlah solusi yang mudah, 4). Milai dan budaya antre ketika masyarakat secara bersama-sama mendapatkan sumber mata air yang kapasitasnya terbatas, dan lain-lain.

Kedua, Ngalu Aik adalah tradisi klasik masyarakat Sasak yang terkesan sakral. Ritual Ngalu Aik ini meliputi kegiatan ziarah makam para ulama se-Pulau Lombok untuk memanjatkan do’a, agar Alloh Ta’ala segera meridhoi dan menurunkan hujan dengan maksud mengatasi kekeringan di musim kemarau panjang. Sebagaimana Endaik, tradisi Ngalu Aik sarat nilai yang tekonstruk melalui tahapan-tahapan yang elegan. Jika tahapan-tahapan tesebut diurai, maka akan mengedepan 4 tahapan sebagaimana prosesi konstruksi value atau nilai pada tradisi Endaik. Sedangkan jika 4 tahapan tersebut ditelaah lebih dalam, maka akan didapatkan beberapa fakta yaitu: Ngalu Aik sebagaimana tradusu Endaik, dipicu pula oleh kekeringan yang tejadi karena kemarau panjang. Peristiwa kemarau yang berkepanjangan dan kekeringan mengakibatkan anomaly, khususnya terkait dengan masalah melemahnya poduksi pertanian-perkebunan yang mengakibatkan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pokok hidup masyarakat. Selain itu, kekeringan juga men-trigger kesulitan memenuhi kegiatan keseharian, seperti minum, mandi, ibadah atau bersuci, mencuci, dan menanak nasi. Fakta ini tentu tidak memacu semangat bertahan hidup masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat Sasak kemudian menggagas altenasi berupa mencari dan mengumpulkan air di sumber-sumber mata air yang dimulai dengan upacara do’a berjamaah atau syafaatul kubro di tempat-tempat yang dimuliakan, seperti masjid, musholla, majelis ta’lim, dan makam-makam ulama. 

Pada tahapan inilah value atau nilai-nilai tampak bertumbuh. Misalnya saja 1). nilai iman dan taqwa yang ditunjukkan dengan pilihan bermohon kepada Alloh Taala agar hujan diturunkan, 2). Rela berkorban dalam mengeluarkan biaya untuk ziarah makam keliling Lombok, 3). Tekad bekerja keras mencari dan mengumpulkan air di sumber mata air yang tentu butuh waktu, biaya, dan tenaga, 4). Nilai kerjasama dan gotong royong dalam menyukseskan kegiatan Ngalu Aik, 5). Nilai ketaatan kepada pemuka desa atau kampung sebagai mobilisator kegiatan Ngalu Aik, dan lain-lain.

Prosesi konstruksi hingga hadirnya value atau nilai-nilai dari mata rantai natural phenomenon “Panas Bulan Siwak” atau  “Empok Maten Treng” dapat dipandang sebagai kecerdasan spiritual dan cultural klasik masyarakat Sasak yang seksi. Bagaimana tidak, hadirnya nilai merupakan ujung mata rantai peristiwa heroic berjibaku memecah musibah yang sarat anomaly. Bagaimana tidak, value atau nilai-nilaidi dari mata rantai natural phenomenon tersebut tumbuh melalui proses kesadaran penyerahan diri kepada Alloh Ta’ala yang dilakukan secara bersama dengan akad dan tekad yang mantap penuh khidmad. Bagaimana tidak, value atau nilai-nilaidi dari mata rantai natural phenomenon “Panas Bulan Siwak” atau  “Empok Maten Treng” dibidani oleh ruh Firman Alloh dalam QS al-Baqarah Ayat 155-157. Yang artinya “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”  Maka demikianlah adanya bahwa ternyata beberapa kecerdasan spiritual dan kultual klasik masyarakat Sasak lahir tidak hanya dengan sebab normal saja, tetapi dengan sebab anomaly seperti natural phenomenon “Panas Bulan Siwak” atau  “Empok Maten Treng” pun kecerdasan tersebut bisa dibidani. Wallahu’alamu.

*Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.

Posting Komentar

0 Komentar