Jejak Terkini

Di Gubuk Reot, Nengah Rindi Mengusik Rasa Kemanusiaan

SEBATANG KARA: Kehidupan Nengah Rindi diliputi derita dan sebatang kara mendiami gubuk reot.

GERUNG--Asap mengepul menerobos celah-celah gubuk zenk. Aroma makanan sisa kemarin melebur bersama partikel udara. Baunya tajam menusuk penciuman.

Dari asap yang keluar sudah bisa diduga, pembakaran di dalam gubuk itu berbahan kayu. Asap keputihan itu bergerak tak beraturan karena ditingkahi angin.

Di dalam gubuk, sesekali suara batuk perempuan tua terdengar. Bisa jadi batuknya dikarenakan aroma makanan yang sedang dihangatkan.

Gubuk zenk berukuran 2X2,5 meter jelas bukan dapur. Gubuk itu merupakan tempat tinggal Ni Nengah Rindi. Perempuan berusia baya yang kini menapaki usia lebih setengah abad, 60 tahun tepatnya.

Di usia senjanya, perempuan yang berasal dari Dusun Peninjauan, Desa Golong Kecamatan Narmada Lombok Barat ini tinggal seorang diri. Tak ada sanak keluarga yang menemaninya.

"Ini dapur saya sekaligus tempat tidur saya," tuturnya saat disapa JEJAK LOMBOK, Sabtu (12/9).

Ekspresi datar yang ditunjukan perempuan ini tak bisa menyembunyikan getirnya cobaan hidup. Pagar zenk di gubuk itu, banyak pula lubang-lubang yang bermunculan karena dimakan karat.

Pada bagian yang berlubang itu, Nengah Rindi menutupinya dengan karung semen bekas. Atau kalau tidak, ditutupi menggunakan terpal dan lapisan lain berbahan plastik.

Sesekali Nengah Rindi menengokkan kepalanya ke arah gubuknya. Sebuah tanda jika ia harus mengawasi masakan yang sedang dihangatkan.

"Saya lihat dulu masakan saya. Nanti gosong," ucapnya memotong di sela-sela pembicaraan.

Tak ingin membiarkan perempuan ini berlalu begitu saja, media ini menyusul langkahnya memasuki gubuk tersebut.

Memasuki gubuk itu kontan mengacak-acak rasa kemanusiaan. Tak hanya pengap karena asap, tapi juga cukup panas. Pagar dan atap zenk gubuk itu memantulkan suhu lebih panas dari sekelilingnya. Belum lagi lantai gubuk itu yang beralas tanah membuat pemandangan di dalamnya nampak kumuh.

Di sisa hidupnya dengan kesehatan yang terus menurun, Nengah Rindi terus menegarkan diri. Mau tak mau, ia harus kuat memikul beban hidup yang membelitnya.

Rupanya penderitaan Nengah Rindi ini mengundang empati para tetangganya. Tidak sedikit dari mereka mencoba mengulurkan bantuan.

“Saya sangat prihatin dengan keadaan bibik Rindi. Saya menginginkan beliau supaya mendapatkan bantuan Rumah Layak Huni seperti rumah-rumah warga lain yang mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ujar Kepala Dusun Peninjauan, Made Wadistya.

Warganya ini, tuturnya, memang hidup jauh dari kelayakan dan membutuhkan perhatian pemerintah maupun donatur. Bantuan itu terutama agar rumah yang bersangkutan bisa diperbaiki.

"Warga kita atas nama Rindi ini tinggal seorang diri. Ada keluarganya tapi kurang diperhatikan di rumah itu dan sangat miris keadaannya,” lanjutnya.

Karena tempat tinggal Nengah Rindi dianggap tak layak, bersama warga lainnya Made Wadistya mencoba urunan.

Ada yang membantu berupa semen, pasir dan uang. Namun demikian, warga belum berani memulai memperbaiki rumah Nengah Rindi.

Wadistya mengaku sudah berkoordinasi dengan saudara Rindi yang bekerja di Pulau Bali. Yang bersangkutan bersedia pulang membantu agar rumah yang akan ditempati dapat diperbaiki.

Untuk menghidupi diri sehari-hari, Nengah Rindu menawarkan jasa kepada tetangganya. Ia tak berat menawarkan diri mencuci piring dan pakaian demi terus bertahan hidup. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar