Jejak Terkini

Selober, Musik Pesan Asmara dari Pengadangan

MUSIK TRADISIONAL: Para seniman asal Desa Pengadangan saat memainkan alat musik Selober dalam suatu kesempatan.

SELONG--Senja baru saja beringsut menutup hari. Petang yang kemerahan seolah berjelaga penuh gelora. Pantulan warna merah jingga serupa perasaan muda-mudi yang sedang merekah.

Sore itu, di simpang empat Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela Lombok Timur tampak lalu lalang anak muda silih berganti. Kebanyakan mereka berusia remaja yang sudah mengenal cinta.

Tidak saja mengendarai sepeda motor, beberapa dari mereka juga berjalan kaki. Namun demikian, mereka sudah tampak rapi dan menebar aroma wangi.

Bukan tidak mungkin, muda-mudi ini bergegas berkemas membersihkan diri menyambut malam Minggu. Malam dimana mereka segera bertemu pacar, pujaan hati.

Di langit belahan barat, matahari sudah hanya memantulkan biasnya. Satu persatu orangtua di desa itu menyongsong suara azan Magrib. Mereka ke masjid menunaikan salat penutup hari.

Seperti halnya orangtua di desa itu, nampak beberapa muda-mudi turut menjajarkan langkah pergi beribadah. Sejenak, hati dan raga mereka yang tengah merekah dihadapkan kepada Tuhan.

Selepas Magrib, keramaian muda-mudi ini kembali terlihat. Namun layaknya muda-mudi yang telah dibesarkan modernisme dan teknologi, tak satu pun dari mereka yang memegang Selober. Sebuah alat musik tiup dari daun enau yang sering dimainkan muda-mudi di desa itu tempo dulu.

Alat musik tradisional khas dari Desa Pengadangan ini masih eksis hingga sekarang. Hanya saja, keberadaannya cukup terbatas. Tidak banyak pula yang bisa memainkan alat musik tersebut.

Berbeda dengan seruling yang terbuat dari bambu, Selober justru dibuat dari daun enau kering. Pada seruling, susunan nada dengan mudah dimainkan lewat enam lubang yang dimilikinya.

"Kalau Selober ini lebih banyak menggunakan insting dan perasaan," ungkap Sekdes Pengadangan, Amrul Arhab kepada JEJAK LOMBOK, Sabtu (22/8).

Karena cara memainkannya yang lebih pada penggunaan insting dan bakat inilah Selober lebih rumit dibanding seruling atau alat musik tiup lainnya. Keterampilan mulut pemainnya dituntut bekerja ekstra untuk bisa menciptakan alunan nada yang pas di telinga.

Kerumitan memainkan Selober bukan itu saja. Agar timbul nada yang pas, pemainnya juga memainkan ritme angin. Sang pemain memutar dan menggerakkan tangan di samping Selober yang berada di mulut.

"Cukup rumit. Apalagi bagi orang yang tidak pernah memainkannya," ucapnya.

Selober di Desa Pengadangangan ini memiliki kemiripan dengan Genggong. Alat musik tradisional ini bisa dijumpai di Desa Lenek, Kecamatan Lenek Lombok Timur. Hanya saja, Genggong dibuat dari daun pandan.

Dalam riwayatnya, Selober di masa lalu digunakan muda-mudi kala itu. Selober menjadi penanda bagi sepasang kekasih saat sedang ingin ngapel atau bertamu.

Pemuda yang hendak menemui pacarnya saat hendak bertamu, terlebih dulu memainkan Selober. Alat musik itu dimainkan untuk memberitahukan kekasihnya yang berada di dalam rumah agar segera menemuinya.

Nantinya sang kekasih yang mendengar Selober yang dimainkan akan memberikan balasan dengan mainkan alat musik yang sama. Balasan itu sebagai tanda jika ia bersedia ditemui.

Sebaliknya, jika pemuda yang datang ke rumah pujaan hatinya dan memainkan alat musik itu, lalu tidak mendapat sahutan. Itu menjadi tanda jika gadis tersebut tidak berkenan ditemui.

"Makanya Selober itu ada dua. Ada yang nine (cewek) dan ada yang mame (cowok)," tuturnya.

Baik Selober cewek maupun cowok, terangnya, memiliki kekhasan tersendiri. Nada yang ditimbulkanpun berbeda.

Sayangnya riwayat alat musik ini tidak seperti dulu. Keberadaannya hanya dimainkan para seniman Selober.

Kata Amrul, Selober merupakan satu dari 9 jenis alat musik tradisional yang berkembang di desa itu. 8 lainnya yakni, klenang, cungklik, gendang beleq, tokol, kecimol dan rantok.

Sembilan jenis alat musik ini hingga sekarang masih bisa dijumpai. Ini tidak lepas dari intervensi pemerintah desa setempat yang cukup peduli dengan aktivitas seni dan budaya.

Di Desa Pengadangan, secara khusus pemerintah setempat menganggarkan Rp 30 juta per tahun. Anggaran itu dihajatkan untuk aktivitas berkesenian masyarakatnya. Bahkan, dukungan ini sangat tampak dengan disediakannya panggung pementasan di depan kantor desa.

"Kalau sekarang, khusus Selober ini dimainkan 7-9 orang. Alat musik ini dipadankan dengan alat musik yang lainnya," tandasnya. (jl)




Posting Komentar

0 Komentar