Jejak Terkini

Riwayat Tunggul, Rahasia Kekayaan Motif Kain Tenun Asal Pringgasela

TUNGGUL: Salah seorang keluarga ahli waris, saat merapikan kembali kain Tunggul dari tempatnya.

SELONG--Supiadi bergegas melajukan sepeda motornya selepas telepon genggamnya berdering. Di ujung telepon sebelum percakapan disudahi, ia dikabarkan tentang seorang tamu tengah menunggu.

Sedianya sore itu, Jumat (14/8), warga Dusun Tanak Gadang, Pringgasela, Kecamatan Pringgasela Lombok Timur sedang sibuk. Para pria di dusun itu tengah membantu salah seorang tetangga mereka mempersiapkan hajat kawinan.

Tak kalah sibuknya, beberapa kaum Hawa repot menyajikan kopi dan jamuan bagi para tamu.

Lewat pengeras suara di lokasi, irama musik dangdut dan pop dinyanyikan bergantian. Lagu-lagu yang diperdengarkan diniatkan menghibur warga yang larut dalam kesibukan massal tersebut.

Betapa tidak, di lokasi hajatan hari itu, para pria berjibaku dengan bebagai pekerjaan. Ada yang memasang terop, ada pula yang mondar-mandir menyiapkan persiapan lainnya.

Sejurus kemudian, dari arah barat, Supiadi sudah menampakkan batang hidungnya. Di atas motor, laki-laki berusia 47 tahun itu terlihat mengenakan pakaian seadanya.

Belum saja Supiadi menghentikan laju motor, sang rekan meminta pria kelahiran 1973 ini segera membalikkan arah tunggangannya tersebut. Ia diminta segera menyertakan sang tamu dibawa ke rumahnya.

"Ini dia mau wawancara tentang kain Tunggul itu," kata Andi Budiman, rekan Supriadi yang beberapa waktu lalu menelpon.

Andi Budiman yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Supriadi inilah yang menjadi narahubung JEJAK LOMBOK dengan ahli waris pemilik kain Tunggul tersebut.

Ya, kain Tunggul. Begitulah warga setempat menyebut kain berukuran panjang sekitar 10 meter itu dan lebar 50 sentimeter tersebut.

Kain ini sudah menjadi barang pusaka berusia ratusan tahun. Usianya lebih tua dari riwayat kolonialisme Bali, Belanda dan Jepang. Kain Tunggul disimpan rapi di atas plafon rumah demi mengamankan barang berharga tersebut.

"Dulu pihak UNESCO pernah meminta untuk dibawa. Tapi pihak keluarga tidak mengizinkan," tutur Supriadi yang mengaku sebagai generasi ke 15 dari pusaka tersebut.

Lantaran pihak keluarga tidak mengizinkan, perwakilan Unesco pun mengalah. Namun begitu, kepada pihak keluarga dipesan agar tetap merawat kain tersebut. Barang pusaka itu jangan sampai disia-siakan.

Dari penuturan pria yang karib dipanggil Doron ini diketahui, Tunggul yang kini diwarisinya turun-temurun itu merupakan kumpulan beragam motif kain tenun hasil buatan warga Pringgasela di masa lalu. Tidak kurang dari puluhan ragam jenis motif di kain tersebut.

Rata-rata dari banyak motif yang ada di kain itu merupakan motif yang indah. Dari keindahannya sudah bisa memancarkan tingkat kerumitan dalam proses pembuatannya.

Lazim bagi para perempuan Desa Pringgasela kala itu, terangnya, dikenal sebagai para penenun ulung. Di setiap rumah di desa itu dengan mudah ditemukan mesin tenun tradisional yang disebut Sesekan.

Tradisi nyesek (menenun) bagi perempuan di desa itu sudah mendarah daging. Bahkan dalam tradisi yang berkembang, perempuan di desa itu tidak akan dinikahkan sebelum memiliki keterampilan menenun.

"Yang hilang saat ini adalah alat pemintal benang kami. Keberadaannya hampir musnah," bebernya.
PEMINTAL: Inilah bentuk mesin pemintal benang tradisional masa lalu di  Museum NTB  yang keberadaannya nyaris musnah.

Tergerusnya alat pemintal benang, imbuhnya, lantaran bahan baku berupa kapas sudah jarang ditemukan. Belum lagi perkembangan industri benang yang massal pada gilirannya menyingkirkan alat tradisional tersebut.

Alhasil, alat pemintal benang itu hanya bisa dikenang. Keberadaannya paling cepat bisa dijumpai di museum. Atau kalau tidak, ada di beberapa tempat (desa) saja yang masih menjaga tradisi nyesek di Lombok.

Panjang lebar Doron bercerita penuh semangat mengenang kekayaan khazanah masa lalu di desanya. Pandangannya yang menerawang seolah mengabarkan betapa luar biasa nenek moyang mereka di masa lalu.

Kain Tunggul yang kini dalam pengawasan keluarganya itu disebutnya sebagai kumpulan motif kehebatan menenun perempuan Pringgasela di masa lampau. Motif-motif yang ada di kain itu saat ini sudah sukar ditemukan.

Penyebabnya tidak lain karena tingkat kerumitan dalam pembuatan jenis motif yang ada. Karena kerumitannya ini pula lah yang membuat para penenun belakangan ini sedikit enggan bereksperimen membuat motif serupa.

Beberapa motif dasar yang lazim diketahui dan masih terus berkembang di tengah para penenun Pringgasela diantaranya yakni motif Sri Menanti, Pucuk Rebung, Ragi Poleng, Ragi Timor dan beberapa lainnya. Jenis-jenis motif ini masih mudah ditemui hingga saat ini.

"Semua motif yang ada saat ini masih bisa ditemukan di kain Tunggul itu," bebernya.

Hanya saja, seiring berlalunya waktu. Untuk jenis motif yang sama, rupanya tidak selalu sama persis. Motif Pucuk Rebung misalnya. Motif yang satu ini bisa nampak jelas dilihat pada kain yang dibubuhkan motif tersebut. Ia terlihat dari kejauhan, apalagi jarak berdekatan.

Berbeda dengan motif Pucuk Rebung pada kain Tunggul. Motif ini dapat terlihat dari kejauhan. Ajaibnya, motif tersebut tidak bisa dilihat dari jarak dekat. Penggalan kain Tunggul yang diukir motif tersebut nampak polos. Keberadaannya seolah tidak terlihat kasat mata.

"Itulah hebatnya motif yang ada di kain Tunggul itu. Sampai sekarang, para penenun di desa ini masih terheran-heran bagaimana menciptakan motif tersebut," ujar Doron.

Pernah suatu waktu, kisahnya, saat masa penjajahan tempo dulu. Penjajah Belanda meminta agar dibuatkan motif tersebut. Mereka tertarik dengan beragam ukiran di dalam kain yang bisa dilihat dari kejauhan, tapi tidak dari jarak dekat.

Kehadiran beragam motif dalam tradisi menenun di Pringgasela disebutnya menunjukkan betapa insutri tenun kala itu begitu pesat. Tak heran jika saat ini desa tersebut masih dikenal sebagai desa tenun di Pulau Lombok.

Tunggul sebagai Panji Anti Kolonialisme

Keberadaan kain Tunggul rupanya tidak saja mengungkap pesan-pesan kearifan. Di baliknya, ada pula rahasia kekayaan motif tenunan di desa itu.

Bahkan, jejak perlawanan pada sulaman para perempuan Pringgasela ini juga bisa dilacaki. Konon, kain Tunggul ini merupakan umbul-umbul yang menjadi panji perang.

Dalam riwayatnya, kain Tunggul ini pertama kali dipegang oleh seorang kiai bernama Srigawi. Sosok ini menjadi tokoh sentral di masa hayatnya. Ia dikenal tidak saja karena kedalaman ilmu agamanya, tapi juga keberanian dan kedigdayaannya.

"Kiai Srigawi inilah nenek moyang kami. Dialah yang pertama menyimpan Tunggul dan diwariskan hingga sampai di generasi kami saat ini," terangnya.

Setiap kali pergi ke Selong hendak berperang melawan Belanda, tutur Doron, pada malam hari sebelum perang pecah, kau Tunggul itu ditancapkan ke tanah. Bila keesokan harinya kain itu masih tegak berdiri, tak terbersit keraguan sedikitpun bagi warga Desa Pringgasela turun ke arena tempur.

Sebaliknya, jika Tunggul itu rebah, Srigawi bersama warga memilih tidak ikut terlibat dalam pertempuran. Rebahnya Tunggul dari tancapannya dianggap sebagai isyarat kekalahan.

Kini Tunggul itu sudah berusia sekitar 260 tahun. Sepanjang umur Doron, baru sekali kain itu dikeluarkan.
UTUH: Inilah kain Tunggul di Desa Pringgasela yang keberadaanya masih dirawat hingga saat ini.

Terakhir kali, Tunggul itu dikeluarkan ke khalayak ketika bibiknya dinikahkan. Dikeluarkannya Tunggul itupun harus melalui proses ritual. Tak tanggung-tanggung, empat ekor sapi harus menjadi tumbal jika kain itu dikeluarkan dalam setiap ritualnya.

Doron menyebut Tunggul merupakan Jenin kain tertua di Pulau Lombok. Klaim ini disebutnya lantaran hanya di Desa Pringgasela yang mendokumentasikan hasil tenun nenek moyangnya. Berbeda dengan desa-desa tenun lainnya di Lombok yang tidak memiliki dokumentasi hasil karya masa lalu.

Kain Tunggul sendiri disebutnya ada dua. Satu di Pringgasela. Satunya lagi ada di Desa Rumbuk. Namun Tunggul yang ada di Rumbuk lenyap karena kebakaran di desa itu.

Kain Tunggul yang kini tersisa, terangnya, merupakan jenis kain berkelamin maskulin. Sementara pasangannya yang ada di Rumbuk berjenis feminin.

Kendati kain ini sudah berusia ratusan tahun, bebernya, warna tenunan pada kain itu sedikitpun tak luntur. Bahkan benangnya pun tidak lapuk. Pewarnaan pada kain itu disebutnya merupakan warna alam.

"Warna yang ada di kain ini menggunakan kulit-kulit pohon kayu. Tidak ada warna buatan yang menjadi pewarna pada kain itu," lanjutnya.

Bagi Doron, utuhnya kain Tunggul ini tidak lepas dari cara pembuatannya. Belum lagi pewarna alami yang digunakan menjadi sebab kuat dan utuhnya Tunggul tersebut.

Doron memastikan, Tunggul itu akan terus dirawat dan dijaga keluarganya. Kepastian itu dilontarkan lantaran menyadari bahwa kain itu merupakan warisan budaya yang sangat bernilai tinggi. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar