Jejak Terkini

Bale Beleq, Mengenang Gelora Perlawanan Kerajaan Pejanggik

SITUS SEJARAH: Bale Beleq merupakan satu-satunya situs sejarah yang bisa ditemui untuk mengenang Kerajaan Pejanggik.


PRAYA—Keheningan laut tiba-tiba menyeruak pecah saat gemuruh yel-yel mengangkasa menusuk langit. Suaranya yang berderu tak tertandingi debur ombak. Puluhan, bahkan ratusan armada tempur membelah lautan hari itu.

Kapal-kapal tersebut bergerak melintas bak iring-iringan semut. Di dalamnya mengangkut 8 ribu bala tentara gagah berani. Mereka siap mati demi panji yang diimani.

Lengkap bersama persenjataannya, para serdadu membawa misi invasi. Sebuah misi penaklukan atas tanah Lombok.

Begitulah peristiwa catatan sejarah pada 25 Agustus 1891. Konvoi armada laut yang bergerak dari arah barat (Bali) itu membelah Selat Lombok. Dua armada berukuran besar dan lebih modern —Sri Mataram dan Sri Cakra-- tampil sebagai panglima di depan.

Segera konvoi armada perang Kerajaan Karangasem Bali itu mengabarkan kematian bagi tanah yang dituju. Sebuah upaya penumpasan atas perlawanan orang Sasak (suku asli Lombok) di Praya di bawah kendali Kerajaan Pejanggik.

Di seberang, gelombang serbu dari Pulau Dewata itu tak sedikitpun menciutkan nyali rakyat Pejanggik. Alih-alih bertekuk, menyerah pun mereka tak sudi.

Perlawanan tak kalah beraninya dilancarkan sebagai sambutan. Padahal nyata di depan mata, beberapa desa dibuat takluk. Serdadu Karangasem dengan mudah merangsek masuk terutama di kawasan pesisir.

Jangankan padam, gelora bara perlawanan warga Lombok semakin membumbung. Mereka tak gentar dengan persenjataan lengkap 8 ribu pasukan yang datang.

Tercatat, sekitar 2 tahun lebih pasukan pendatang dibuat kelimpungan. Orang-orang Lombok di Praya dengan strategi "pukul lari" rupanya membuat pasukan Kerajaan Karangasem kewalahan. Mereka tidak mudah dikalahkan kendati dengan persenjataan yang kalah lengkap.

Pusing dengan strategi pukul lari itu, Kerajaan Karangasem dibuat berang. Harus ada upaya lebih ekstra meredam perlawanan para penduduk lokal.

Tepat 8 September di tahun yang sama, pasukan bantuan segera menyusul. Sedikitnya ada 3 ribu pasukan Karangasem yang didrop ke medan pertempuran. Jumlah tersebut lengkap bersama 1.200 pasukan elit kerajaan itu.

Upaya ini rupanya membuahkan hasil. Perlawanan warga di Praya dibumihanguskan. Laskar Kerajaan Karangasem tak membiarkan sedikitpun potensi perlawanan yang mungkin muncul kembali.

Bangunan berupa rumah warga dan pusat pemerintahan Kerajaan Pejanggik dirubuhkan. Bangunan-bangunan itu rata dengan tanah.

Kini di pusat pemerintahan kerajaan Pejanggik berdiri sebuah bangunan yang dinamakan Bale Beleq. Bangunan itu berada di Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah.

Konon, bangunan ini diinisiasi mendiang TGH Sibawaih pada tahun 1972. Bangunan itu dihajatkan sebagai mercusuar mengenang bara perlawanan rakyat Pejanggik. Tepat di sekitar bangunan Bale Beleq inilah dulu keraton dan pusat pemerintahan kerajaan Pejanggik pernah ada.

Sekitar dua abad sudah peristiwa itu berlalu. Keruntuhan Kerajaan Pejanggik karena serbuan Kerajaan Karangasem saat ini hanya didapati dari cerita mulut ke mulut. Tidak ada bukti sejarah yang cukup untuk mengidentifikasi keberadaan kerajaan itu.

Merujuk Babad Lombok dan Babad Praya, Kerajaan Pejanggik didirikan oleh Mas Brang Tapen. Sosok ini merupakan satu dari beberapa adik Mraje Selaparang yang mendirikan Kerajaan Selaparang di Lombok Timur.

Konon, kekuasaan Kerajaan Pejanggik tidak saja di Lombok Tengah. Namun beberapa wilayah di bagian selatan Lombok Timur juga menjadi teritorialnya.

"Bale Beleq merupakan kraton yang didiami oleh sang raja sampai dengan pemerintahan raja terakhir Pemban Mas Meraja Kusuma," ucap Ketua Lembaga Adat Panggih Rahayu Desa Pejanggik, M Zainuddin, Selasa (21/7), dua pekan lalu.

Bangunan berukuran 9 kali 9 meter dengan tinggi 15 meter tersebut tak hanya kraton sang raja. Bangunan itu sekaligus menjadi masjid tempat melaksanakan ibadah.

Dari penuturan Zainuddin diketahui bahwa pergantian tahta kerajaan terjadi hanya dua kali sepanjang sejarah berdirinya kerajaan Pejanggik. Tapi pergantian kekuasaan itu sampai saat ini sulit ditemui lantaran terjadinya masa fatrah. Yakni suatu masa jeda dimana hal yang menyangkut keturunan dan kekuasaan pada waktu itu terlupakan.
ILUSTRASI: Foto ini hanya sekedar ilustrasi armada kapal perang masa lalu.
Pada masa pemerintahan Pemban Mas Mraja Kusuma, jelasnya, barulah dibangun kraton atau istana megah. Kejayaan kerajaan Pejanggik disebutnya sedang berada pada puncaknya.

Ini dibuktikan dengan berkembangnya seni kesusastraan kala itu. Beberapa yang bisa ditemui seperti epos Mandalika. Ada juga tari topeng Amaq Abit dan Cilinaye.

Siapa sangka di waktu yang sama, kekuasaan Pemban Mas Mraja Kusuma merupakan awal babakan sejarah baru. Kerajaan Pejanggik runtuh. Berakhirnya kejayaan Pejanggik karena dihancurkan penyerangan ketiga oleh kerajaan Bali yang dipimpin oleh Anak Agung  Alid dan Kabe-Kabe.

Porak porandanya kerajaan Pejanggik dilatarbelakangi situasi politik pada saat itu. Selain invasi Karangasem, Pejanggik keropos dari internal sendiri.

Selama berdirinya sampai saat ini, bangunan tersebut telah direnovasi selama empat kali. Pertama dipugar oleh Abah Udin Praya dan terakhir oleh tuan guru sepulau Lombok.

Tembok dasar Bale Beleq dibuat dari campuran tanah dengan kotoran sapi. Bangunan itu kokoh setinggi 10 meter dan induknya dikelilingi anyaman bambu. Pada bagian atas, atapnya terbuat dari ilalang. Di dalam Baleq Beleq didapati kursi singgasana kerajaan berukuran 2x1 meter persegi dan satu tiang agung yang berada di tengah.

Saat ini tempat tersebut dijadikan sebagai lokasi pengajian masyarakat sekitar. Pengajian dilaksanakan setiap malam Rabu.

Selain ditempati pengajian, juga sebagai lokasi pelaksanaan ritual seperti perang timbung, maulid adat, asah emas dan ritual lainnya. Di sekeliling pagar areal seluas 50 are itu, dikelilingi oleh pepohonan hidup inistiatif warga ketika pemugaran terakhir kali. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar