Jejak Terkini

"Sabuk Teja", Desain Klasik Penanaman Ideologi Politik Multikulturalisme Orang Sasak

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd


MATAHARI pagi di Timur jauh memanjakan bumi dengan sentuhan kehangatannya. Aerosol di boundary bumi memainkan sedikit ritual. Ia mendandani pancaran mentari dengan spectrum orange kemerahan. Kaki-kaki langit spontan menyesuaikan dengan busana adat pagi. Penduduk bumi melenggang menyambut hadirnya kehangatan dan pesona indah sentuhan “nakal” (kreatifitas) aerosol. Semua mata mereka tertuju menikmati “The sun rises.”  Indah nian!

Bayu sedikit usil. Sembari mengantar nelayan pulang membawa tangkapannya, hembusan bayu menggoda ketenangan permukaan samudera. Air samudera pun akhirnya menggulung dan berlari-lari ke tepian.  Dengan malu-malu, butir pasir dan kalkulus aneka warna memeluk erat gulungan gelombang samudera. Alam pagi seperti bicara tentang indahnya kebersamaan, persahabatan dan keberterimaan.

Ruang- ruang dialog alam tentang kebersamaan, persahabatan dan keberterimaan tiada henti hingga swastamita (matahari terbenam). Mata Dewa memberi isyarat agar raja malam segera menemani bumi. Wajah oval dan aura kemerah-merahan si Raja Malam menyapa. Bumi tersenyum gembira dan dengan pelan beranjak ke peraduan.  Angin pegunungan mengiringi pelayaran nelayan mengadu peruntungan di tengah samudera. Maha Sempurna Alloh memadukan serpihan-serpihan cinptaan-Nya hangga menjadi Maha Karya yang indah tiada batas. Alhamdulillah.

Ayat-ayat kauniah yang dipertontonkan lewat fenomena alam di atas merupakan ajaran tentang bangunan keindahan yang tidak mungkin dicipta hanya dari struktur materi yang homogen. Keindahan akan tercipta hanya dengan harmoni aneka cipta yang dirajut dengan ide dan cita yang menghadirkan cinta dan rasa keadilan.  Ayat-ayat kauniah di atas adalah ajaran “cinta”dan ideology politik berbangsa yang mengususung rasa persahabatan yang melampaui batas ras, suku, budaya, bahkan agama.

Alloh SWT menegaskan kembali ayat-ayat kauniah-Nya dalam QS. Al-Hujarat Ayat 13. Dalam ayat tersebut Alloh befirman: “ Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh adalah orang-orang yang paling taqwa. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Mengenal.

Pada QS. Ar-Rum ayat 22, Alloh SWT juga menyatakan dengan tegas bahwa: ” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Alloh menciptakan langit dan bumi, serta bahasa dan warna kulit yang berbeda-beda di antara kalian. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Dalam perspektif akademis, ajaran-ajaran, baik dalam qauliyah dan kauniyah Alloh Ta’ala di atas, dikenal akrab dengan term multikulturalisme. Para ahli mendefinisikan  multikulturalisme   sebagai pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia atau kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman dan berbagai macam budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat yang berhubungan dengn nilai-nilai sistem.

Pembudayaan nilai-nilai atau ideology politik multikulturalisme ini tentu sangat strategis. Fakta keanekaragaman bangsa-bangsa harus senantiasa dalam keteraturan. Effort ini untuk memacu energy keanekaragaman bangsa-bangsa menjadi kekuatan dan peluang terbangunya system yang memperkokoh rasa kesetaraan dan tradisi saling berbagi. Sangatlah buruk jika keanekaragaman bangsa-bangsa  ditelantarkan. Ia akan menjadi rantai makanan yang mengerikan. Mainstream akan memangsa yang lemah. Ujungnya, akan banyak kelompok kecil (klik-klik) yang akan punah sebelum sempat mengembangkan jenisnya. Yang lebih extreme lagi adalah: bumi akan menjadi arena pertarungan yang mematikan dan menjelma sebagai situs sejarah pertikaian sepanjang masa tanpa ruang kenyamanan.

Pembudayaan nilai-nilai atau ideology politik multikulturalisme memiliki tantangan yang tidak sederhana. Ia berhadapan dengan kenyataan bahwa perbedaan menjadi bagian yang sensitive dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupannya, setiap individu dan kelompok tidak mudah membangun sikap positip terhadap perbedaan. Kenyataan tersebut akhirnya menghadirkan pilihan-pilihan. Pertama, individu dan kelompok mengisolasi diri. Kedua, individu dan kelompok hidup bersama dengan kontrak dan transaksi yang kaku. Ketiga,  individu dan kelompok mempertajam perbedaan dengan konflik tanpa resolusi.

Sikap destructive yang tebangun di atas  pebedaan bangsa-bangsa tentu tidak lahir begitu saja. Sikap tersebut sangat berpeluang mengemuka karena kebutuhan dasar bangsa-bangsa untuk mempertahankan diri dan jenisnya.  Hadirnya komunitas yang berbeda, apalagi yang jauh lebih besar, akan dirasakan sebagai ancaman bagi keselamatan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Dengan perasaan terancam tersebut, bangsa-bangsa membangun defend mechanism. System   pertahanan ini  secara otomatis terbangun, walau perasaan terancam tesebut hanya sekedar phobia. Dalam keadaan yang extreme, tidak sedikit pertahanan diri bangsa-bangsa menjadi agresif , bahkan mungkin akan menimbulkan keadaan yang tidak pernah kita bayangkan.

Sikap destructive terhadap fakta kebe-ragaman tentu sangat beresiko. Sikap saling menerima (acceptance), menghormati, dan menghargai akan sulit diejawantahkan. Bagi Indonesia yang sangat majemuk, sikap destructive terhadap fakta kebe-ragaman akan menjadi ancaman keutuhan Negara Kesatuan Republik Indoneisa. Dengan demikian sikap tersebut sangat membutuhkan penanganan dan perhatian khusus.

Alternasi strategi menangani sikap destructive terhadap fakta kebe-ragaman atau pembudayaan multikulturalisme sesungguhnya tersedeia begitu banyak. Strategi penaganan pembudayaan multikulturalisme semakin kaya jika sasarannya adalah hamba-hamba Alloh yang beriman dan bertaqwa. Ada beberapa aspek yang mengedepankan optimism ini, yaitu:  hamba-hamba Alloh yang beriman memiliki kesadaran tentang: 1). Status penciptaan manusia yang sama, yakni hanya untuk beribadah kepada Alloh, 2). Faktor pembeda manusia yang sama, yakni ketaqwaan, 3). Amar atau perintah yang sama untuk “li ta’arofu” (saling menegnal).

Salah satu metode yang cukup popular dalam membangun multikulturalisme adalah metode deconstructive yang dikembangkan oleh Muhammad Abed Al-Jabiri. Metode ini untuk mengubah tradisi yang kurang relevan dengan realitas menjadi perilaku yang rasional dan tunduk pada kenyataan. Dalam kontek ini, tradisi yang dianggap tidak relevan dengan realitas adalah paradigm sikap social secara umum yang memposisikan multiculturalisme sebagai momok yang mengancam keselamatan dan kelangsungan mempertahankan jenis. Sementara itu tradisi yang relevan dan rasional adalah pemahaman hakekat persamaan atau kesamaan yang membangun sikap keberterimaan terhadap multikulturalisme sebagai suatu yang niscaya.

Metode deconstructive dalam menananamkan multikulturalisme dapat  memperkuat pemahaman tentang persamaan sebagai lawan dari perbedaan atau multiculturalisme. Menghadirkan rasa persamaan akan  bisa membidani rasa nyaman bagi sebuah kelompok. Ketika memahami persamaan atau kesamaan dengan tepat, maka kelompok tertentu memiliki kemauan untuk hidup bersama dengan kelompok lainnya.   

Sedikit berbeda dengan desain pembudayaan nilai-nilai multiculturalism di lingkungan Orang Sasak. Khusus dalam kehidupan klasik Orang Sasak, multiculturalism ditanamkan melalui pendidikan informal keluarga sejak dini. Pendekatan yang digunakan adalah tamsil-analog. Pendekatan ini adalah proses transfomasi ajaran dan keyakinan dengan melukiskan subtansi ajaran atau keyakinan dengan cerita, fenomena alam, dan lain-lain yang memiliki kemiripan sifat.

Pendekatan tamsil-analog yang diberdayakan orang Sasak dalam penanaman nilai-nilai multiculturalism adalah ritual menikmati kemunculan “Sabuk Teja.” Dalam Bahasa Sasak “Sabuk Teja”.terdri atas dua kata, yaitu “Sabuk  dan Teja.” Sabuk berarti ikat pinggang panjang yang dibuat dengan bahan dasar benang kapas asli. Proses pembuatannya mulai dari pemintalan benang, menenun, dan pewarnaan. Proses pembuatan sabuk ini diringi dengan pembacaan doa’a dan mantra-mantra. Dalam proses pembuatan sabuk tersebut diikuti pula oleh gawe belek (kenduri) yang sesungguhnya sebagai perwujudan rasa syukur atas berhasilnya kegiatan bertani dan berkebun orang Sasak. Sabuk yang sudah jadi, ditaruh di dalam “keben” atau kotak kado berbentuk empat persegi yang terbuat dari anyaman bambu. Keben berisi sabuk itu kemudian disimpan di bagian atas rumah dan diyakini memiliki kekuatan gaib. Sementara “teja” berarti warna merah kekuningan di kaki langit ketika matahari hendak terbenam. “Teja” dalam konteks tulisan ini diartikan sebagai pelangi.

Bila “Sabuk Teja” muncul, stiap pimpinan keluarga segera mengumpulkan anak-cucunya di halaman terbuka. Setelah anak-cucu berkumpul, mereka di arahkan menikmati indahnya “Sabuk Teja” atau pelangi tersebut. Sembari menemani anak-cucu mereka, para pimpinan keluarga menceritakan tentang perihal “sabuk Teja” dimulai dengan keindahan “sabuk Teja” hingga penciptanya. Dalam narasi-narasi tentang keindahan “sabuk Teja” itu, pimpinan keluarga berulang-ulang menunjukkan kekagumannya pada keindahan “sabuk Teja” dan keagungan Pencipta.

Ungkapan yang sering diualang-ulangi para pimpinan keluarga saat menyaksikan “sabuk Teja”  adalah “Andain spook doang ruen, endek jage sebagus marak sak nani “Sabuk Teja” niki. Mulen kuase Alloh Ta’ale.” (Andaikan warnanya hanya satu, mungkin pelangi ini tak sebagus yang kita saksikan sekarang. Benar-benar Alloh SWT Maha Pencipta Keindahan). Pengulangan narasi di atas, sesungguhnya menjadi proses penguatan agar anak-cucu keluarga Sasak dapat meresapi peran penting masing-masing warna yang melambangkan perbedaan. Jadi, narasi ini digunakan untuk membentuk kesadaran bahwa justeru perbedaan itu yang menyebabkan kehidupan akan berlangsung dengan indah.

Narasi lain yang diperdengarkan berulang-ulang adalah ketika anak-cucu mereka mulai kritis bertanya.” Papuk/amak, yak ne kembe sabuk Teja  niki?” (sedang apa pelangi ini pak/kakek?) Pimpinan keluarga kemudian menjawab, “kenyengken nginem to lek penemuk kokoh” ( mereka sedang minum di pertemuan dua atau tiga sungai). Jawaban ini mengilustrasikan bahwa kalaupun “sabuk Teja”  itu beraneka warna, tetapi semuanya bertujuan sama.

Tradisi ini selalu berulang setiap kemunculan “Sabuk Teja.” Walaupun sangat abstrak, setidak-tidaknya ikhtiyar Orang Sasak membangun sikap multikulturalisme benar-benar nyata dan benar adanya. Wallohu’alamu.

*Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor,  dan Tenaga pendidik di SMA NW Pancor

Posting Komentar

0 Komentar