728x90

ad

Belajar Menjaga Sungai dari Desa Jakem

BERSIH: Kepala Desa Jembatan Kembar (Jakem), Amrullah, menunjuk aliran sungai untuk irigasi pertanian warga yang nampak bersih.

GERUNG--Ledakan populasi belakangan ini menjadi persoalan serius yang dialami masyarakat dunia. Pesatnya populasi manusia beriringan dengan potensi masalah yang dtimbulkan.

Sebut saja kasus yang lumrah terjadi. Masalah sampah misalnya. Persoalan yang satu ini membuat para pemangku kebijakan berpikir ekstra mengentaskannya.

Sadar atau tidak, dari sampah senantiasa menimbulkan masalah ikutan. Lingkungan yang kotor, munculnya penyakit dan sungai yang tersendat merupakan bagian dari beberapa masalah yang selalu muncul.

Terhadap persoalan ini, ada baiknya menengok sistem tatakelola sampah yang sedang digencarkan Pemerintah Desa Jembatan Kembar (Jakem), Kecamatan Lembar, Lombok Barat. Fokus penanganan sampah di desa ini dititikberatkan terutama pada sungai.

Di Dusun Batu Rimpang Jakem misalnya. Di dusun ini terdapat sungai yang membelah tiga dusun. Selain Batu Rimpang, ada pula Gunung Sari dan Gundil.

Sungai yang melewati ketiga dusun ini tepatnya merupakan saluran irigasi primer. Sejatinya saluran sungai ini dibangun demi mengairi ratusan hektar lahan pertanian warga setempat.

"Panjang sungai ini sekitar 562 meter. Panjangnya ini khusus yang membelah Dusun Batu Rimpang," tutur Kepala Desa Jakem, Amrullah, Minggu (5/7).
Pada aliran sepanjang 562 meter di dusun tersebut, mengairi sekitar 20 hektar lahan pertanian warga. Aliran sungai yang beririsan dengan lahan pertanian dan pemukiman warga ini seolah menjadi urat nadi yang menentukan gagal tidaknya hasil pertanian warga.

Amrullah menceritakan, dulu sebelum November 2019, warga senantiasa kesulitan mendapatkan air untuk mengairi lahan mereka. Jangankan menanam padi, menanam jagung pun terasa cukup berat bagi petani sekitar.

Penyebab masalah itu sangat klasik. Pasokan air yang masuk ke lahan pertanian warga selalu terkendala.

"Kita punya saluran irigasi, tapi air sangat susah kita dapatkan," tuturnya.

Kesusahan yang dialami warga ini bukan karena air tidak ada. Air di saluran irigasi desa itu selalu ada, tapi dalam debit yang sangat kecil.

Belum lagi di badan sungai juga punya masalah sendiri. Sedimentasi dengan ketebalan akut akibat sampah-sampah warga menjadi biang keladi. Nyaris tiga per empat dari kedalaman sungai atau saluran irigasi yang ada dipenuhi sampah.

Kondisi ini diperparah dengan adanya warga yang memiliki rumah di tepian sungai dan beternak sapi. Baik kotoran dan sisa pakan dibuang begitu saja. Sampah dan sedimentasi tali-temali menjadi perkara kusut.

Selaku pemangku kebijakan, Amrullah tentu tidak berdiam diri. Ia tidak ingin membiarkan tanah kelahirannya didera masalah seperti itu.

"Saya berpikir bagaimana cara mengatasi masalah yang dihadapi warga. Pokok masalah ini setelah kami pelajari rupanya ada pada tumpukan sampah yang ada di sungai," bebernya.
Andai sampah-sampah di sungai dibiarkan menetap. Ia memastikan persoalan yang dihadapi para petani tidak akan terurai. Kelangkaan air akan terus menjadi momok yang berimbas pada kemungkinan terjadinya puso dan gagal tanam.

Parahnya, yang menjadi persoalan adalah minimnya kesadaran masyarakat. Kendati sudah tahu lahan mereka terancam tidak mendapat pasokan air, mereka malah tetap membuang sampah di saluran irigasi tersebut.

Singkat kisah, Amrullah mengajak warga membersihkan badan sungai dari tumpukan sampah dan sedimentasinya. Ia mengajak warga menggali saluran irigasi dengan lebar sekitar 3 meter ini sampai pada kedalaman 3 meter.

Sampah dibersihkan. Sedimentasi diangkut keluar.

Rupanya aktivitas itu menjadi titik mula buah pikiran ynag dirancang selama ini untuk mengentas persoalan ynag dihadapi petani. Dengan menggali hingga kedalaman 3 meter, saluran irigasi itu diharap punya stok air mandiri lewat air tanah. Tentu stok ini belum termasuk pasokan air dari hulu yang mengairi saluran tersebut.

Sejak saat itu, lahan pertanian warga sudah tidak bermasalah dengan air. Sejak dua kali masa tanam, hasil panen petani berlimpah.

"Dulu pada petak sawah yang luasnya 40 are, kita bisa panen sekitar 2 ton, tapi sekarang sudah 4 ton. Hasilnya dua kali lipat," ucapnya.

Masalah sudah mulai terurai perlahan, tapi belum selesai. Ia merasa khawatir jika tidak diintervensi secara berkelanjutan, kesadaran masyarakat kembali kambuh dan membuang sampah di sungai.

Terhadap para peternak sapi, Amrullah memberi peringatan keras. Warga yang beternak harus mengeringkan kotoran sapi mereka dan diangkut ke sawah sebagai pupuk. Jika dibuang ke sungai, sanksi sudah menanti.

Akan halnya terhadap warga yang membuang sampah. Tak tanggung-tanggung, ancaman dilayangkan dan siap-siap berhadapan dengan aparat penegak hukum.

Di balik ketegasan yang ditunjukan, Amrullah rupanya punya visi pendekatan yang sangat humanis. Agar sungai tetap bersih terhindar dari sampah, ia melepaskan ribuan ekor ikan.

Cara ini dianggap sangat ampuh mengadang masyarakat membuang sampah. Jika ada warga membuang sampah, kelangsungan hidup ikan yang dilepas akan terganggu.

Terlebih di sungai yang sudah dibersihkan itu, masyarakat bebas memancing ikan yang ada. Tak jarang kebutuhan asupan protein hewani di dapur warga sering dipasok dari ikan hasil pancingan di sungai ini.

"Dengan melepas ikan, warga merasa canggung buang sampah. Bukan karena mereka takut, tapi sayang jika ikan yang ada akan mati. Mereka sudah menganggap ikan-ikan di sungai sebagai milik mereka," ucapnya.
Tak hanya itu, Amrullah juga memberlakukan aturan lainnya. Di sepanjang aliran sungai itu, tak satupun warga boleh menjaring. Apalagi jika sampai nekat menggunakan racun ikan (putas).

"Mereka yang coba-coba melakukannya, siap-siap saja dikeroyok oleh warga," selorohnya.

Di tengah keberhasilannya merawat sungai irigasi tersebut, Amrullah tidak mau lengah. Ia belum puas dengan jerih payah yang diperbuat.

Kini ia berencana memasang paranet di sepanjang aliran sungai. Cara ini dianggap untuk melokalisir sampah-sampah yang kemungkinan dibuang warga. Paranet ini juga untuk membendung sampah yang hanyut dari hulu.

Dari sistem tatakelola sampah di sungai ini, jelasnya, membawa manfaat luar biasa. Persoalan sampah yang selalu menjadi keluhan bisa diatasi. Begitu juga dengan masalah pasokan air bagi petani.

"Belum lagi masalah kesehatan, lingkungan, ketersediaan pangan dan pertumbuhan ekonomi. Hampir semuanya bisa dilakukan dengan satu program ini," tandasnya. (jl)

Posting Komentar

1 Komentar