728x90

ad

Sufisme dan Tranforamasi Sosial Ala Gus Ulil

Oleh Suaeb Qury 
KAMIS malam 25 Juli 2019 bertempat di pelataran kantor pimpinan wilayah Nadlatul Ulama NTB, dengan penuh semangat dan ala santri peserta menunggu kehadiran kiyai Ulil Abshar Abdillah atau yang dikenal dengan panggilan Gus Ulil hadir sebagai Guru semalam memberikan kajian kita Ihya Ulumuddin secara ringkas dan gamlang Gus Ulil menjelaskan bahwa substansi sufi akan lebih memilih untuk mengubah manusianya menjadi manusia bermoral dan berakhlaq.

Kemudian dalam konsentrasi ini akan menitik beratkan pada dua pendekatan,  yakni pendekatan internal dan eksternal atau secara sistem dan individual.

Pendekatan pertama,  pendekatan sistem (eksternal) dimana ketika sistem itu baik,  maka individunya akan ikut baik. Undang-undang merupakan sistem yang berlaku di luar diri manusia. Sistem tersebut ada karena adanya kebiasaan internal atau prilaku manusia yang tidak baik. Maka tentu akan membutuhkan pendekatan secara undang-undang untuk mengontrol nya.

Pendekatan kedua,  pendekatan individu (internal) dimana apabila individu baik,  maka sistem nya akan ikut baik. Maka disitulah pentingnya mengubah prilaku dan akhlak,  terlebih hati seorang manusia. Logika sederhananya adalah orang yang baik tidak akan membutuhkan undang-undang.

Tentu, undang-undang muncul karena adanya individu yang tidak baik,  atau adanya kepentingan.

Hal terpenting juga yang menjadi rujukan untuk generasi muda Nahdlatul Ulama,  yakni perlu belajar dari sebuah kondisi, sebagaimana yang pernah disampaikan Ali bin Abi Thalib kepada para sahabatnya yakni "siang hari menunggang kuda untuk perang layaknya kesatria untuk melakukan perubahan sosial,  dan malam hari masuk masjid untuk i'tikap layaknya seorang sufi". Hal yang sama juga dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha'illah juga menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki maqom masing-masing yang diberikan oleh Allah SWT,  dan jika manusia itu mengetahui maqom nya,  maka akan tumbuh menjadi manusia yang konsisten. Namun juga, masih da manusia yang maqom nya dalam lingkup asbab,  tapi dengan sengaja membungkus diri layaknya uzlah sufi, ini  merupakan manusia yang malas kerja.

Pada konteks kekinian dengan semakin berkembang dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kesadara lahiriah, pendekatan ilmu pengetahuan (sosial dan antropologi) lainya menjadi penting, jika dipadupadangkan dengan kekuatan batiniah yang secara individu sebagai sufi, secara sosial manjadi masyarakat yang utuh. Bukan sebaliknya melakukan uzlah tidak akan memiliki makna apa-apa dalam membangun bangsa. Bilamana manusia itu sendiri yang pada dasar maqom nya adalah pekerja,  namun sengaja menjadi uzlah. (Ibnu Atha'illah).

Kedepannya buat generasi muda Nadlatul Ulama adalah bagaimana  kembali menajamkan gerakan pimikiran dan gerakan untuk membangun umat, maka yang dilakukan hari ini dan esok adalah memerankan dua fungsi kebanian secara lahiriyah dan bahtianiah atau sekaligus sebagai insaider dan outsider.

*Penulis adalah Keetua LT-NU NTB.

Posting Komentar

0 Komentar