728x90

ad

Belajar di Thohir Yasin, Mengentas Sampah dengan Maggot

PANEN: Jajaran pengasuh Ponpes MDSM Thohir Yasin tengah panen maggot.

SELONG--Pondok pesantren kerap kali memproduksi sampah dalam jumlah massal. Baik itu sampah organik maupun non organik.

Volume sampah dalam jumlah massal itu terutama jika di lingkungan ponpes tersebut memondokan santri didalamnya. Tak heran dengan kondisi itu kerap kali kawasan pondok menjadi kumuh, terutama di areal pemondokan.

Namun kondisi ini menjadi berbeda di lingkungan Ponpes Thohir Yasin, Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik Lombok Timur. Kendati memiliki santri yang mondok, sampah di ponpes ini relatif tertangani dengan baik.

"Awalnya kami kelimpungan dengan sampah-sampah santri yang mondok ini. Kami di sini juga jijik melihatnya," ucap Kepala Madrasah Diniyah Salafiyah Modern (MDSM) Thohir Yasin, Ahmad Patoni, Minggu (7/6)


Kondisi itu disebutnya berlangsung lama. Tak heran jika angkutan sampah rutin menyambangi ponpes itu setiap hari.

Dalam sehari saja angkutan sampah yang masuk di lingkungan ponpes ini sampai dua unit. Bahkan, tak jarang angkutan sampah juga bolak-balik lebih dari itu.

Di tengah situasi seperti itu, kalangan pengelola ponpes dibuat cukup pusing. Mau tak mau mereka dibuat putar otak mencari ide mengentaskan sampah yang diproduksi santri setiap hari.

Dari sampah ynag diproduksi kalangan santri ini terutama dari jenis sampah organik. Terbanyak sampah itu disumbang dari sisa makanan yang tidak dihabiskan.

Sampah sisa makanan yang tidak terangkut, lanjutnya, kerap kali mejadi preseden buruk. Sisa makan tersebut tidak saja mengundang lalat, tapi kerap kali berulat dan menjijikkan.

Masalah sampah belum selesai, di lain sisi ponpes ini juga dipusingkan dengan ikan-ikan yang dipelihara. Ikan yang dihajatkan sebagai sumber pangan bagi santri rupanya menyedot pembiayaan yang tidak sedikit. Harga pakan ikan-ikan tersebut menyedot keuangan ponpes.

"Ada 6 bioplok dan 8 kolam yang kami miliki. Semuanya butuh sekitar 12 kwintal pakan hingga panen," terangnya.


Harga per kwintal pakan, terangnya, sekitar Rp 250 ribu. Jika ditotal harga pakan yang dibutuhkan hingga panen mencapai sekitar Rp 6-7 juta.

Dari serangkaian masalah itu, tak disangka pihak ponpes tercetus pikiran memelihara maggot. Lalat dari jenis Black Soldier Fly (BSF) ini berbeda dari jenis lalat lainnya yang cenderung membawa parasit. 

BSF merupakan lalat "berkah" yang bertugas mengurai sampah. Ulat atau maggot dari telur yang diasilkannya bisa menjadi sumber pakan ternak unggas, sekaligus ikan.

Sejak itu, ide tersebut langsung dicoba untuk diimplementasikan. Bak sekali mendayung, rantai masalah yang membelit di sekitar ponpes itu langsung terjawab.

Masalah sampah santri tuntas. Masalah pakan ikan juga tuntas.

Namun persoalan yang dihadapi pihak ponpes tidak simsalabim. Ada rentang waktu sekitar setahun hingga proses budidaya maggot bisa berhasil diternakkan.

Singkat cerita, masalah sampah santri sudah teratasi. Sisa-sisa makanan dan sampah organik di lingkungan pondok menjadi sumber makanan yang diberikan ke maggot. 

"Sekarang kami bahkan kekurangan sampah. Sudah tidak ada lagi angkutan sampah yang bolak-balik ke pondok," bebernya.

Akan halnya dengan masalah pakan ternak unggas dan ikan. Sejak maggot sudah dihasilkan, pihak ponpes sudah bisa menghemat biaya pakan hingga 60 persen.

Patoni menjelaskan, di Ponpes Thohir Yasin tidak saja memelihara ikan. Namun di ponpes ini juga memilhara ayam. Untuk saat ini saja, pihaknya akan mendatangkan sebanyak 12 ribu ekor.

Kehadiran maggot di lingkungan ponpes, bebernya, sangat terasa dampak positifnya. Saat ini saja, pihak ponpes sudah mampu memanen sebanyak 40 kilogram maggot dalam durasi 14 hari.

"14 hari itu adalah rentang usia lama hidupnya maggot. Rentang usia inilah menjadi hitungan kapan bisa panen," jelasnya.

Sayangnya, kesuksesan memelihara maggot ini rupanya masih dinikmati sendiri kalangan ponpes. Belum ada langkah serius mengomersilkan maggot yang telah dipanen. 

"Kecuali ada yang pesan, kita siap menjual. Tapi sejauh ini belum kita serius upaya komersilnya," imbuhnya.

Kendati tidak dikomersilkan, jika ada pemesan, dipastikan pihak ponpes siap melayani. Per kilo maggot dijual Rp 40 ribu. Maggot yang dijual sudah dalam kondisi kering.

Patoni yakin, persoalan sampah dirasakan bukan hanya oleh Thohir Yasin, tapi juga sebagian besar ponpes yang memondokan santri. Karena itu, pihaknya mengaku terbuka jika ada ponpes lain yang ingin belajar budidaya maggot.

Lewat cara ini, diharapkan persoalan sampah yang terjadi di lingkungan ponpes bisa teratasi. Harapannya, di masa depan citra ponpes yang kumuh dan jorok bisa dilawan secara bersama-sama.

"Paling tidak, jika ponpes dicitrakan bersih, akan semakin banyak masyarakat yang berminat menitip anaknya menimba ilmu," paparnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar