Jejak Terkini

Bencana Bertubi-tubi, Taman Koservasi Suranadi Memprihatinkan

MEMPRIHATINKAN: Kawasan Taman Suranadi kondisinya memprihatinkan lantaran kerusakan sejumlah fasilitas di dalamnya.

GERUNG
-- Kawasan wisata Taman Suranadi merupakan taman konservasi yang telah lama menjadi destinasi andalan di Lombok Barat. 

Kawasan seluas 13,100 hektare ini belakangan kondisinya memprihatinkan. Kondisi ini tidak lepas akibat bencana bertubi-tubi yang menghantam daerah ini.

Tepat pada Agustus 2018 lalu, Pulau Lombok diguncang gempa bermagnitudo 7.0. Menyusul di awal 2019 pandemi Covid-19 merayap di Pulau Lombok.

"Kunjungan wisatawan sepi dan membuat sejumlah bangunan tidak terawat di lokasi ini," ucap Kepala Dusun Suranadi, Desa Suranadi Kecamatan Narmada Lombok Barat, Mardian, Jum'at pagi (6/8).

Lontaran itu disampaikan di sela aktivitas bersih-bersih yang dilakukan Dinas Pariwisata Lombok Barat di kawasan tersebut.

Kini, buntut bencana yang bertubi-tubi itu membuat kawasan Taman Suranadi sangat memprihatinkan. Sejumlah fasilitas di tempat itu rusak parah.

Seperti bangunan induk penginapan di lokasi itu misalnya. Hampir semua bangunan pendukung yang dahulunya berperan menjadi penginapan sudah sangat tidak layak huni dan rusak akibat gempa.

Khusus tiga tahun lalu, ketika gempa mengguncang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat ada 280 gempa susulan mengguncang Lombok. Gempa beruntun yang melanda Lombok selama 3 pekan itu mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa.

"Kondisi bangunan rusak semua. Di sini ada sekitar tujuh bangunan utama yang dulunya merupakan penginapan. Total ada lima belas kamar. Semuanya rusak berat," terangnya.

Menimpali hal itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Saiful Ahkam mendorong agar kawasan ini dapat direvitalisasi. Selain karena fasilitas yang kurang terawat, dari aspek pengelolaan pun harus diperhatikan.

Menurutnya sebagian besar bangunan berarsitektur khas masa lalu itu juga harus direstorasi. Untuk langkah tersebut, membutuhkan nilai investasi yang besar.

"Dahulu tempat ini dikelola oleh swasta. Saat ini pengelolaannya dilaksanakan oleh BUMD kita, Tripat. Mudah-mudahan bisa menarik investor lain untuk bisa digandeng karena potensi bisnisnya masih menjanjikan," harap Ahkam.

Kawasan wisata Suranadi sendiri berada di Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Seperti halnya taman peninggalan masa lalu, taman inipun kental dengan arsitektur Bali dan Belanda. 

Di kawasan wisata Suranadi juga terdapat Pura Suranadi. Di Pura Suranadi, pengunjung bisa melihat jejak-jejak kebudayaan Hindu dan kerajaan Bali. 

Tidak hanya wisata alam dan religi, pengunjung juga dapat menikmati wisata kuliner andalan Lombok Barat, yakni Sate Bulayak. Di tempat ini pengelola menyediakan spot khusus untuk menikmati sate bulayak bersama kerabat dan sanak keluarga.

Kehadiran Ahkam bersama jajaran Dinas Pariwisata Lombok Barat di Taman Suranadi tidak hanya meninjau lokasi. Kehadirannya juga dalam rangka kegiatan rutin "Ayo Berwisata Sambil Bersih-bersih di Kawasan Wisata". 

Kali ini Dinas Pariwisata menggandeng Mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Mahasiswa PKL STP Bandung, masyarakat sekitar, dan para pekerja di taman. Kawasan ini sendiri dibangun sebagai prototipe Gunung Rinjani dengan Segara Anak, seperti halnya Taman Narmada. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar