Jejak Terkini

Aset Pemerintah Daerah Banyak Terlantar, Ini Gagasan Cerdas M16

Direktur M16 Bambang Mei Finarwanto didampingi Kepala Divisi Litbang M16, Zainul Pahmi.

MATARAM
-- Aset pemerintah daerah banyak terlantar sejauh ini. Aset tersebut diantaranya berupa bangunan yang tak dihuni dan membuat kesan kumuh. 

Tak saja bangunan berbentuk rumah, ada juga berupa ruko yang terletak di kawasan niaga.

Terlantarnya aset berupa bangunan itu tidak rupanya mendapat sorotan serius dari Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6. Bangunan-bangunan tersebut sebaiknya dimanfaatkan.

"Aset terlantar ini tersebar hampir di semua kabupaten kota yang dimiliki Pemkab, Pemkot dan Pemprov," ujar Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto Jum'at (27/8).

Bentuk pemanfaatan bangunan itu, jelasnya, sebaiknya diarahkan untuk para penyintas Covid-19. Di bangunan yang terlantar itu bisa digunakan untuk pemberdayaan ekonomi kreatif.

Lebih rinci ia menjelaskan contoh yang bisa dilakukan pemerintah daerah. Di bangunan tersebut bisa digunakan untuk budidaya burung walet, misalnya.

Ia menilai, pengembangan budidaya burung walet melibatkan kelompok masyarakat akan memberi nilai tambah ekonomis dan pasti untung. Selain itu, bangunan rumah atau perkantoran yang tadinya nganggur dan terkesan kumuh, bisa disulap lebih indah dan produktif. 

"Ini bagian dari strategis tata kota yang bermuara ke ekonomi masyarakat. Sarang walet kan nilai ekonomisnya cukup tinggi," katanya.

Menurutnya, sejauh ini solusi untuk bangunan aset pemerintah daerah hanya dilakukan dengan menyewakan bangunan tersebut. 

Selebihnya, bangunan mangkrak (asset idle)  dibiarkan kosong dan terkesan tidak terurus. Hal ini membuat wajah kota kabupaten terkesan kumuh meskipun di jalur utama.

Padahal, lanjutnya, meski disewakan pun harganya tidak seberapa dan tak mampu menutup biaya pemeliharaan.

"Nah kalau dimanfaatkan untuk budidaya walet tentu nilai ekonomis akan lebih terasa," imbuhnya.

Pria yang akrab disapa Didu ini menambahkan sejumlah budidaya walet dikelola swasta sudah banyak berjalan di NTB.  Komoditas sarang walet menjadi hal yang menjanjikan secara ekonomi karena harga jual yang mahal dan pasar yang luas.

"Burung walet sendiri merupakan burung yang memiliki ciri fisik, dengan bagian ekor yang panjang dan sayap yang agak meruncing, dengan bagian bawah tubuh berwarna cokelat dan bagian atas berwarna hitam. Burung yang memiliki nama latin Collocalia Vestita ini juga senang dan banyak hidup di daerah pantai," urainya. 

Selanjutnya Didu menjelaskan ternyata bukan burungnya yang bisa dimanfaatkan, karena yang membuat burung ini istimewa adalah sarang burungnya. Sarang burung walet sangat diburu orang, sehingga banyak orang yang sengaja membudidayakan burung walet, karena sarangnya memiliki harga yang fantastis. 

Pasalnya, sarang burung walet merupakan sarang yang dibuat menggunakan air liur mereka sendiri dan memiliki manfaat luar biasa terutama untuk kesehatan.

Sementara itu, Kepala Divisi Litbang Mi6, Zainul Pahmi mengusulkan tidak ada salahnya budidaya walet memanfaatkan aset pemda yang nganggur. Pelibatan penyintas Covid-19 sebagai simbol optimisme dan membangun harapan hidup baru. 

"Jika penyintas Covid-19 dilibatkan dalam pemanfaatan aset pemda. Ini perlu dimaknai  membangun optimisme dan harapan kepada masyarakat ditengah ujian badai pandemi," paparnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar