Jejak Terkini

Kisah Mulyadi, Perajin yang Pernah Merasa Paling Kaya

Mulyadi

SELONG -- Para pria itu duduk tak beraturan. Tangan mereka cekatan menganyam bambu menjadi berbagai varian kerajinan.

Disertai percakapan ringan sesekali melontarkan gelak tawa tak membuat mereka kehilangan fokus dengan bambu yang berada di tangan. Mereka seolah tenggelam dalam aktivitas yang mereka tekuni.

Begitulah pemandangan yang terjadi Rabu (16/6), di Dusun Loyok Induk, Desa Loyok Kecamatan Sikur Lombok Timur. Para pria ini merupakan para perajin di desa yang sudah sejak dulu dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu tersebut.

Dari banyak para perajin itu, nama Mulyadi rupanya tak asing. Ia merupakan salah satu nama yang tersohor di antara mereka.

Mulyadi cukup terkenal dikalangan pengerajin di wilayah tersebut. Pasalnya, ia telah menggeluti kegiatan itu sejak berumur belia.

Kepada JEJAK LOMBOK, Mulyadi mengaku menekuni aktivitasnya sebagai perajin saat masih berumur 8 tahun. Di usia itu, ia sudah bisa membuat salah satu produk kerajinan.

Ia ingat betul, saat itu masih kelas satu SD. Namun di usianya yang masih sangat belia itu, ia sudah mampu membuat karya seni berdasar bahan bambu tersebut. 

"Jauh dari sebelumnya, saya juga itu sudah dapat merangkai dengan sederhana," ucapnya.

Kemampuannya bertambah, pada saat di bawah bimbingan salah seorang pengrajin setempat. Tutornya itu biasa ia panggil Oak Ramli.

Karya pertama yang dibuatnya berupa sebuah lembaran tempat majalah. Produk pertamanya itupun langsung laku dijual dengan harga Rp 400 ribu.

Mendapatkan pundi rupiah yang menggiurkan rupanya membuat Mulyadi semakin bersemangat. Apalagi memegang uang dalam jumlah itu pada waktu tersebut merupakan hal yang luar biasa.

"Dulu saya merasa paling banyak uang," terangnya.

Kesenangannya itu semakin bertambah ketika dirinya mampu memenangkan lomba seni. Saat itu ia membuat produk dari anyaman bambu.

Ia mengingat, dulu dirinya mengikuti lomba sejak kelas 2 di SDN 4 Selong. Dalam lomba tersebut, ia meraih juara satu di gelaran tersebut.

Sebagai pemenang lomba, tentu dirinya mendapat hadiah berupa sepatu dan buku tulis. 

Ia menceritakan, pada tahun itu sepatu masih belum ada yang punya di tempat tinggal dan siswa di sekolahnya. Kontan barang yang menjadi hadiahnya itu menjadi kebanggaan tersendiri.

"Sayangnya, saya tidak bisa pakai sepatu. Kaki terasa berat, makanya tidak pernah saya pakai sekolah," selorohnya.

Kebahagiaan selanjutnya yang dirasakan Mulyadi ketika mendapatkan buku tulis. Buku hadiahnya disebutnya paling bagus pada waktu itu.

"Masih saya ingat sampul buku itu bergambar robot, saking bagusnya buku itu diminta oleh guru sekolah," tuturnya.

Pria empat puluh tahun itu sempat merasakan di puncak kesenangannya sebagai pekerja seni anyaman. Saat zaman gerabah, dan bahan dasarnya dibuat berbahan lontar.

Kegiatan tersebut dilakoninya sambil bersekolah. Waktu itu, ia telah duduk di bangku kelas 2 Aliyah.

"Dulu, ingat saya ada pesanan borongan, saya diupah Rp 200 ribu. Uang segitu paling banyak waktu itu," ujarnya.

Tapi naas, kebahagiaan itu sirna bertepatan dengan krisis ekonomi tahun 1997 sampai 1998. Ditambah lagi peristiwa bom Bali, tahun 2002 lalu.

Pada waktu itu, tuturnya, produksi mati total. Penghasilan pun tak ada. Buntut dari itu terpaksa ia harus menjadi TKI ke negeri jiran Malaysia selama 2 tahun lamanya.

Ia pun balik ke Lombok setelah bisa produksi lagi. Itu pun, dirinya ditelepon lantaran antara borongan. Saat itu pemesan datang dari Jepang.

Selain sebagai pengrajin, dirinya juga tercatat sebagai pemain musik tradisional. Bahkan waktu itu, saat sedang menari dilihat oleh salah seorang guru Aliyah, dimana ia menimba ilmu.

Dan gurunya pada waktu itu sempat kecewa. Lantaran ikut sebagai salah satu pemain seni itu.

Namun demikian, jalan yang diciptakan Tuhan untuknya yakni melalui seni anyaman. Tahun 2005, ia sempat dikontrak untuk mengajar di beberapa sekolah sebagai guru seni.

Saat ini, dirinya dalam sehari mampu menciptakan 100 buah produksi kendati menggunakan peralatan yang tergolong tradisional. Hal itu tergantung dari jenis kerumitan barangnya.

"Sampai bosan, kalau dulu yang dia kerjakan dari nol, ibu-ibu juga tetap membantu," ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar