728x90

ad

4 Desa Wisata di Lobar Dapat Dampingan Asosiasi Pelaku

RAKOR: Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Saiful Ahkam (kanan) saat mengikuti rakor Teknis Pendampingan Desa Wisata.

GERUNG
-- Ada empat desa wisata di Lombok Barat mendapat pendampingan dari asosiasi pelaku pariwisata untuk mampu mengembangkan diri. Keempat desa wisata itu yakni, Sekotong Tengah, Banyumulek, Sesaot dan Mekar Sari.

Desa Sekotong Tengah di  Kecamatan Sekotong akan didampingi oleh INDECON, Desa Banyumulek di  Kecamatan Kediri oleh ASPPI atau INDECON. Berikutnya Desa Sesaot dan Desa Mekar Sari di Kecamatan Narmada oleh ASPPI atau INDECON.

Empat desa tersebut termasuk dalam 17 desa se-Provinsi NTB dan tergabung dalam 67 desa se-Indonesia yang didampingi oleh asosiasi dan komunitas pelaku pariwisata.

Selain 67 desa itu, masih ada 20 desa wisata lainnya juga didampingi oleh perguruan tinggi.

Desa-desa tersebut dipastikan mendapatkan pendampingan oleh Direktorat Pengembangan SDM Pariwisata. Kepastian itu setelah digelar Rapat Koordinator Teknis Pendampingan Desa Wisata yang dilaksanakan di Avenzel Hotel and Convention Cibubur, Kamis-Jumat (10-11/6).

"Kita di Dinas Pariwisata Lombok Barat cukup antusias dengan program pendampingan yang dibuat kementerian. Walaupun cuma empat, tapi kita bisa menjadikan pola pendampingan itu sebagai role model buat kita di Pemkab untuk bisa menggenjot 56 desa lainnya," ujar Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Saepul Akhkam, yang hadir dalam rapat tersebut.

Plt. Direktur Pengembangan SDM Pariwisata, Adelia Raung menyampaikan pentingnya rakor tersebut. Baginya rakor ini untuk penyamaan persepsi antara kementerian dengan asosiasi dan komunitas serta perguruan tinggi.

"Kegiatan rakor ini ditujukan untuk kesesuaian antara visi dan misi kementerian dengan asosiasi dan komunitas dalam mengembangkan desa wisata," papar Plt. Adelia Raung.

Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari ini diisi dengan paparan rencana aksi dari berbagai asosiasi dan komunitas pelaku pariwisata. Demikian pula halnya dengan perguruan tinggi, di mana untuk NTB akan dilaksanakan oleh Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram.

Dalam kesempatan berbeda, Sadewa dari Panorama Foundation mengingatkan agar seluruh pendamping tidak hanya mendampingi desa untuk mengembangkan potensi dirinya saja.

"Pendamping harus juga  memperhatikan potensi pasar, tidak hanya potensi alam dan budaya. Pendamping pun harus peka terhadap berbagai Isyu atau masalah kelembagaan yang ada di desa wisata," terang Sadewa selaku narasumber pertama kegiatan ini. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar