728x90

ad

Pariwisata Anjlok, Ekraf Terpukul, Ini Langkah Dispar Lobar Kembali Bangkit

BIMTEK: Para peserta Bimtek Kriya khidmat mengikuti proses opening seremoni kegiatan.

GERUNG
-- Pandemi Covid-19 yang melanda sejak akhir tahun 2019 lalu berdampak pada industri pariwisata di seluruh dunia. Pandemi menyebabkan anjloknya kedatangan wisatawan domestik maupun mancanegara. 

Drastisnya penurunan kedatangan ini disebabkan pemberlakuan berbagai pembatasan perjalanan oleh banyak negara. Pembatasan itu sebagai usaha membendung penyebaran dan penularan virus yang bisa berakibat fatal. 

Indonesia, sebagai salah satu negara pilihan tujuan wisata juga tidak luput dari imbas pandemi. Sama seperti yang terjadi di seluruh dunia, Indonesia menanggung imbas dari merosotnya industri pariwisata.

Dampak itu telah dialami oleh para  pelaku jasa pariwisata, termasuk pelaku UMKM.

Pemerintah sendiri telah melakukan berbagai hal membantu pemulihan ekonomi pada sektor ini. Mulai dari bantuan langsung hingga mengadakan program peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata selama masa pandemi.

Di Lombok Barat (Lobar) kendati sedikit demi sedikit sudah mulai beranjak dari keterpurukan. Namun hal itu masih jauh dari keadaan normal sebelum pandemi terjadi. 

Di sisi lain keadaan ini disikapi pemerintah daerah sebagai ajang menyiapkan SDM yang lebih berdaya saing ke depannya.

“Pandemi ini membuat wisatawan sepi, dalam kondisi ini kita bisa semakin menyiapkan diri untuk lebih mengembangkan SDM kita,” ucap Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Lobar, H Saiful Ahkam, Kamis (27/5).

Lontaran itu disampaikan saat memberikan sambutan pada Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kriya (Ukiran Kayu dan Batu) di Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar.

Dalam membangun dan mengembangkan kepariwisataan, lanjutnya, harus melibatkan semua pihak. Baik dari pemerintah, para pelaku hingga masyarakat.

"Kami punya mimpi untuk mengembangkan kawasan Senggigi dan pendukungnya untuk dikelola lebih sistematik lagi dalam bentuk DMO (Destination Management Organisation)," ujarnya.

Dengan pendekatan DMO, terangnya, akan ada jaminan antara industri, masyarakat, dan para pelaku di dalam pentahelik kepariwisataan. Mereka bisa bekerja bersama-sama, bukan bersama-sama untuk mencapai satu tujuan.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan Bimtek Kriya yang dilaksanakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif (Kemenparekraf) RI ini, Ahkam menyebutkan, kawasan wisata seperti Senggigi harus tetap berupaya berkembang dan tidak cepat puas dengan keadaan serta kondisi saat ini.

Sebagai destinasi wisata yang konsep utamanya adalah atraksi alam, sudah tentu seiring berjalan waktu akan ada resiko kemunduran dengan kondisi alam tersebut. Seperti dengan adanya abrasi, gelombang tinggi dan lain sebagainya yang akan mengurangi keindahan dan keunikan dari destinasi yang ada.

Namun dengan adanya Bimtek Kriya ini, ia berharap Senggigi bisa terus berkembang dengan menawarkan keunikan lain, selain keindahan alam yang sudah ada.

"Kalau kita tidak terus perkaya tentu akan terjadi stagnansi sedemikian rupa. Saya berharap dengan adanya Bimtek Kriya ini akan kembali menggaungkan #AyoKembaliKeSenggigi," harapnya.

Di tempat sama, perwakilan Kemenparekraf RI Jemmy Alexander yang merupakan Koordinator Regional II mengungkapkan, kegiatan bimtek kriya ini merupakan salah satu program di Direktorat Pengembangan SDM, Kemenparekraf RI. Tujuannya untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi dari setiap pengerajin yang ada di seluruh Indonesia.

Dengan adanya bimtek kali ini diharapkan para peserta mampu membuat produk kriya yang dihasilkan bisa memiliki nilai tambah yang lebih lagi.

"Kami berharap karya para peserta bisa menjadi pendukung pariwisata di wilayah Senggigi pada khususnya," harap Jemmy.

Kedepan, Jemmy berharap produk-produk kriya yang dihasilkan para peserta bisa menjadi ciri khas dari wilayah Senggigi. Terlebih kawasan destinasi ini merupakan primadona pariwisata di NTB. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar