728x90

ad

NYAMBUNG POTON TALIN BENANG

Kajian Tentang Fenomena Disonansi Dalam Sistem  Organisasi  dengan Piranti Telisik Gagasan Leon Festinger

Dr. Jamaluddin, MPd.

Siapa bilang, “menjadi pengembang oganisasi itu gampang.”  Kalau “menantang” ya ialah dan tentulah tak terbantah. Tidak gampang dan menantang karena organisasi itu unik dan sistemik. Unik karena dinamikanya yang cepat, bergantung pada perubahan era yang  potensial diiringi oleh sebuah revolusi. 

Sementara, dinamikanya tersebut bisa menghebat dan berbanding searah atau bisa pula menghambat dan berbanding terbalik dengan era beserta perubahan yang menyertainya. Disebut sebagai sesuatu yang sistemik karena organisasi memiliki elemen yang terintegrasi. Masing-masing elemen membentuk pola hubungan yang pasti saling memengaruhi. Baik terhadap sifat unik maupun sistemiknya. para pengembang atau pegiat organisasi  wajib me-manaj atau melolanya secara efektif. Kata Prof. Amin Abdullah, “me-manaj atau melola sesuatu yang unik dan sistemik haruslah dengan profesionalitas berkelas, humility (rendah hati), modest (sesuai batasan) dan humanity (manusiawi).”

Profesionalitas berkelas, humility, modest dan humanity bagi setoap pegiat atau pimpinan organisasi memiliki korelasi yang positif dan signifikan dengan  kematangan dalam membuat keputusan, membentuk koalisi, membangun unit-unit kerja baru, dan memacu ijtihad ataupun ikhtiar organisasi. Tanpa profesionalitas berkelas, humility, modest dan humanity tersebut, seluruh ijtihad dan ikhtiar organisasi cenderung akan prematur. Dampak yang sangat mungkin menjadi momok dari keadaan yang premature adalah disonansi. 

Secara umum disonansi adalah perasaan tidak nyaman saat menghadapi dua nilai yang berbeda atau ketika melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan belief atau keyakinan yang dianut. Leon Festinger dalam sebuah karya besarnya, yaitu “disonansi kognitif” menyebut disonansi sebagai salah satu bentuk hubungan antar elemen perilaku komunikasi yang menggambarkan salah satu elemen kognitif yang terdiri atas sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku, tidak konsisten dan tidak seiring selangkah sehingga sulit diikuti oleh elemen lainnya. 

Merujuk definisi di atas maka disonansi dapat dinyatakan sebagai sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku yang tidak sekedar nyeleneh atau werd, tetapi menyimpang dari awik-awik dan kelaziman. Sementara itu kondisi seperti di atas dapat mengunggah gundah, gelisah, atau ketidak nyamanan subjek, baik secara personal maupun bersama-sama sehingga memaksa mereka untuk mencari solusi hingga berestorasi.

Beberapa contoh problem disonansi adalah: sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku yang menunjukkan 1). Pelanggaran terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, 2). Pengebirian kultur maupun tradisi organisasi, 3). Memutuskan atau meninggalkan hubungan kesejarahan dengan induk genealogi, baik secara fisik maupun spiritualualitas, dan 4). Melakuan segala bentuk perbuatan yang dalam perspektif apapun merugikan organisasi. 

Problem disonansi membutuhkan penangan segera dan efektif.  Jika salah dan lamban dalam penanganan, maka akan memicu ketegangan, baik di dalam struktur internal atau pun eksternal organisasi. Ketegangan ini potensial menjadi konflik oganisasi yang tentu semakin ruet dan kompleks. Jika tidak terkendali, konflik yang ruet dan kompleks ini  dapat menjadi sebab organisasi mengalami kolaps.  

Dalam nalar Sasak, menghadapi disonansi sesungguhnya tidak rumit. Karena ia disebabkan oleh inkonsistensi, maka solusinya tentu mengubah sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku menjadi konsisten. Proses mengubah inkonsistensi menjadi konsisten dalam nalar Sasak dikenal dengan “Nyambung Poton Talin Benang.”  Sebelum kajian ini disusun penulis, terminology di atas memiliki makna spesifikasi yaitu menjalin kembali hubungan yang sudah cukup lama terputus. Misalnya saja tersambungnya kembali hubungan pertemanan melalui proses pernikahan generasi dua keluaga sahabat lama yang terpisah karena sebab-sebab, seperti jarak domisili atau tempat kerja, dan lain sebagainya. 

Pada kajian ini  penulis berijtihad memberi generalisasi atau perluasan makna bagi terminologi “Nyambung Poton Talin Benang,”   Dalam kontek ini, selain menggnakan makna spesifikasi, penulis juga memaknai “Nyambung Poton Talin Benang”  sebagai suatu ijtihad dan ikhtiyar personal atau kelompok untuk mengkondisikan inkonsistensi menjadi konsisten dengan tujuan memberikan suasana nyaman dan kondusif, baik untuk diri, komunitas, telebih lagi untuk setiap elemen yang terpapar dan terkomfirmasi oleh dampak inkonsistensi yang terjadi. 

Dalam konteks tujuan. “Nyambung Poton Talin Benang” merupakan proses mendapatkan pengembalian citra (rehabilitasi) dan dalam tingkatan yang lebih serius setara dengan usaha mengajukan permohonan pengampunan atau   amnesty. Dengan pemerolehan rehabilitasi atau amnesty tersebut diharapkan tercipta kenyamanan, kepercayaan diri, dan menguatnya semangat kerja memajukan diri atau pun organisasi.    

“Nyambung Poton Talin Benang”  dalam al-Qur’an merupakan sebuah kesadaran yang terbangun setelah mengalami sejumlah azab karena dengan sengaja menyembunyikan sebuah kebenaran. Kesadaan tersebut terformat dalam wujud taubat, islah (melakukan perbaikan), dan menyampaikan kebenaran yang telah disembunyikan. Hal ini diterangkan dalam firman Alloh pada QS al-Baqaroh Ayat 159 – 160  yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang telah menyembunyikan kebenaran yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk,  serta telah Kami terangkan dalam al-Kitab kepada manusia, akan dilaknat oleh-Ku dan  mereka yang melaknat, kecuali mereka yang bertaubat, melakukan pebaikan, dan menyampaikan kebenaran. Dan ketahuilah bahwa Aku Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. 

“Nyambung Poton Talin Benang”   sepertinya tidak terlalu sulit. Tuntutannya sangat simple, yaitu menaklukkan ego untuk segera berbenah dalam tuntunan hidayah. Tuntutan ini semakin mudah karena setiap manusia memang dilengkapi dengan fitrah “berbenah ” Buktinya Mereka manusia selalu bermohon tetap berada di jalan yang benar lagi lurus (QS. Al-fatihah Ayat 6). Dalam Teori Konsistensi Kognitif,  fitrah berbenah manusia juga diakui. Dinyatakan pada teori tersebut “Bahwa manusia adalah pemeroses  aktif  yang mencoba  memahami totalitas yang dirasakan, dipikirkan, dan dialami dengan menyusun serta menginterpretasi selirih petunjuk kauniyah dan qauliyah untuk mewujudkan konsistensi setiap peristiwa, fakta, terutama yang terkait dengan upaya menyikapinya.

Kendati simple dan mudah, tetapi ternyata banyak yang menyerah kalah. Khususnya di dalam system organisasi, kenyataan ini tidak terbantahkan.  Sudah cukup banyak satuan-satuan atau organisasi yang sulit mengimplementasi ajaran “Nyambung Poton Talin Benang.” Jangankan mengimplementasikan, justeru banyak yang mengusung atau merangsang  syahwat berkuasa hingga makin memperlebar inkonsistensi. 

Disonansi dengan kondisi sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku yang berbenturan akhirnya  tak terelak serta kemudian merusak atmosphere kenyamanan beroganisasi.    Dalam keadaan seperti ini, sengketa oganisasi akan terpicu. Untuk kepentingan syahwat berkuasa, pelanggaran prinsip, azas, aqidah, dan belief organisasi akan menjadi  berpeluang. Jika sengketa tak terselesaikan, peristiwa terbelahnya organisasi bukan hal yang tak lazim.. Sementara, dalam hal organisasi terbelah, dipastikan salah satu atau mungkin kedua belah pihak akan meninggalkan induk genealogi, minimal secara fisik.  

 Artinya salah satu akan meninggalkan kota lahir, tatanan, sunnah hasanah (kultur dan tradisi), embrio institusi organisasi, dan segala aspek kesejarahan organisasi. Misal organisasi Cemara dibentuk di  Venus dan merupakan penggabungan dari  satuan X dan Y. Bila terjadi sengketa yang mengakibatkan Cemara terbelah, maka salah satu atau kedua pecahannya akan meninggalkan  kota Venus, bahkan untuk sebuah resistensi atau perlawanan cenderung memutus hubungan kesejarahan dengan membuat satuan-satuan lain setara X dan Y. Inilah yang akan sangat memberi ruang yang lebar bagi mekarnya disonansi. Saat-saat ini pula yang paling berbahaya. Bagi pihak yang memutus hubungan kesejarahan dengan induk genealogi, sangat mungkin mengambil langkah keliru dengan memberi cap buruk pada genealogi induknya. Bersamaan dengan sikap itu, maka pihak tersebut telah kehilangan ruh pergerakan sekaligus hak-hak dasar dari genealogi induknya. Uraian ini tidak berarti membenarkan atau menyalahkan, baik pihak yang konsisten mempertahankan induk genealogi atau  pihak yang kebetulan memilih untuk memutus hubungan dengan induk genealogi dan seluruh cakupannya, tetapi menggambarkan siklus kemunculan disonansi yang sangat rentan memicu kesalahan dan ketergesa-gesaan pengambilan keputusan dalam mencari solusi atas problem organisasi. Ala kuli hal, sepahit apa pun pilihan yang tersedia, “Nyambung Poton Talin Benang”   adalah salah satu alternatif yang sangat memungkinkan untuk mengentas dan meredakan disonansi dalam sistem organisasi karena dalam “Nyambung Poton Talin Benang” sarat dengan ajakan  ber-islah (restorasi). Wallohu’lamu.  

* Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor,  dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong

Posting Komentar

0 Komentar