728x90

ad

LELAMPAN

(Telaah Tentang Peran Pada Kehidupan Sosial Politik Dengan Pisau Bedah Lelampan Dalam Nalar Sasak Sebagai Kembaran Teori Dramaturgis Erving Goffman) 

Dr. Jamaluddin, MP.d

Kehidupan adalah perjalanan. Suatu waktu menapak, menanjak, bahkan kadang terjun turun. Sesekali dan mungkin juga kerap kali tersesat, macet,  dan menjebak hasrat, sampai mematikan syahwat. Namun tentu pula perjalanan ada saatnya terbang menjulang jauh tinggi sampai mendarat dengan selamat.  Kata orang bijak, “ kehidupan ada kalanya di atas, ada pula waktunya di bawah. Ada suka, ada duka, ada resah, gelisah. dan juga ada gairah. Semuanya silih berganti dan yang pasti, siapa pun akan menaruh harapan, agar kehidupan berakhir indah pada waktunya.”

Kehidupan mengalir dan beralur mengikuti sebuah skenario .  Kehidupan sangat kaya akan peran yang ditawarkan begitu terbuka. Ada peran protagonis dan ada pula antagonis. Aktor tinggal memilih. Namun demikian, aktor  masih harus patuh pada sutradara.  Jika tidak, maka aktor  sangat mungkin gagal menenggelamkan diri dalam karakter peran-peran yang dimaksudkan oleh sang author. Akibatnya tidak hanya gagal aksi, tetapi mereduksi pesan peran dalam skenario  dan memicu kekecewaan para pemirsa..  

Kalau bicara kehidupan, skenario , peran, aktor ,  author, dan pemirsa, maka panggung samasekali tidak boleh dilupa.  Suasana panggung pementasan tentu memiliki effect tersendiri. Sebaik apa pun  skenario  yang disusun author, peran, aktor , dan sutradara, tanpa suasana panggung yang mendukung, tentu akan menyebabkan pementasan menjadi membosankan. Aktor dan lakon yang dipentaskan dengan panggung yang  tanggung, akan menjadi lemah dalam menciptakan kontak sekaligus mengundang keterlibatan emosional para pemirsa. Peristiwa ini tidak boleh terjadi karena pementasan akan kehilangan makna dan ruhnya. 

Dalam kehidupan, skenario  dan peran mengikat aspek-aspek yang lain. Sutradara yang kaya kreasi wajib berorientasi pada skenario  dan peran. Sehebat apa pun seorang aktor, ia hanya beraksi sesuai perannya. Panggung pun demikian. Panggung niscaya disituasikan dan diciptakan menurut ruh skenario  dan peran. Pemirsa sebagai penikmat harus tulus digiring mengikuti alur skenario  dan acting peran para aktor .

Kekuatan skenario  dan peran mengikat aspek-aspek yang lain disebabkan karena ia adalah hard core atau kebenaran mutlak. Skenario  dan peran adalah firman al-Khalik. Sebagai firman, skenario  dan peran adalah petunjuk dalam kehidupan. Maka dari itu, firman adalah jalan bagi setiap orang menuju ekspektasi yang paling tinggi. Karena merupakan jalan dari kehidupan material hingga perjumpaan dengan Alloh Taala, maka skenario  dan peran sebagai firman meliputi jalan atau thoriqoh inward maupun outward.. 

Skenario  dan peran memang untuk hamba-Nya. Namun begitu, skenario  dan peran atau firman ini tidak diberi langsung kepada masing-masing hamba. Ia diturunkan dalam bentuk wahyu kepada hamba pilihan yang disebut Rasulullah. Hamba terpilih inilah yang kemudian memformulasikan wahyu dalam sabda-sabda dan disampaikan kepada ummat atau hamba Alloh Taala. Maka sabbda Rasulullah ini adalah hard core yang juga bebas dari debatable. 

Skenario  dan peran dalam nalar Sasak disebut lelampan. Ada juga yang menyebutnya kelampan atau mungkin ada sebutan lain yang belum dapat diungkap oleh penulis. Lelampan adalah sebuah fungsi mengikuti alur dan proses untuk mencapai sebuah tujuan. Lelampan tidak selalu mulus mengantar manusia meraih kemapanan. Dalam lelampan selalu ada persimpangan. Mungkin saja persimpangan ini menjadi ujian tingkat konsistensi hamba-Nya. Hal ini diperkuat oleh firman Alloh Taala dalam QS As-Shaams Ayat 8, “ Bahwa Alloh mengilhamkan dua jalan yanitu kefasikan dan ketaqwaan.” Salah sedikit menentukan arah disetiap persimpangan, maka lelampan akan tertawan di area yang rawan. Dalam keadaan ini, lelampan laksana telur di ujung tanduk. 

Lelampan dalam nalar Sasak juga setara dengan alur kisah atau cerita. Sebuah alur tidak pernah datar. Alur dalam sebuah kisah selalu berisi ide tentang keseimbangan atau normalitas, kemudian diikuti dengan konflik, bahkam sampai klimaks yang diikuti dengan titik balik, serta lompatan-lompatan yang menarik. Lelampan tidak selalu berakhir happy ending. Tetapi banyak pula yang sad ending. Akhir sebuah lelampan sangat ditentukan oleh visi dan misi penuturan, peran, dan kapasitas aktor . Bila totalitas lelampan dihajatkan sebagai pembelajaran, maka penentu endingnya adalah visi-misi yang terkonstruksi. Jika pilihan-pilihan pelaku sebagai penakar pembentukan karakter, maka peran dominan sebagai penentu akhir sebuah kisah atau lelampan. Sedangkan bila focus lelampan adalah sisi penghayatan dan singkronisasi peran, maka kekuatan karakter aktor  akan cukup mewarnai akhir sebuah cerita.

 Peran secara khusus merupakan ruh dalam totalitas lelampan. Tiada skenario  tanpa peran. Aktor sendiri akan kehilangan fungsi tanpa sebuah peran. Demikian pula sutadara, mereka akan terpenjara dalam mengurai dan mencipta sentuhan yang menawan untuk membumbui pementasan. Jika dalam situasi seperti ini, bagaimana panggung bisa dikondisikan mengikuti irama peran?   Dalam kehidupan nyata pun, alam sebagai panggung pergulatan dan penghambaann tidak akan sepadan, bahkan mungkin tidak tercipta jika peran tidak ada. Alasannya karena Alloh tekah berfirman dalam QS. Ali Imran Ayat 191 bahwa “Dia tak mungkin menciptakan hal yang sia-sia.” Ujungnya perlu juga dipertanyakan. “Apa yang kemudian dapat disuguhkan bagi pemirsa jika sebuah pementasan tanpa peran?”

Karena sedemikian strategis, sebuah peran dalam kehidupan nyata menjadi focus penciptaan intwraksi oleh para pihak yang bekepentingan. Dalam dunia sosial politik praktek ini menjadi rahasia umum.  Di tingkat yang extreme, khususnya pada kehidupan sosial politik yang tanpa kendali, pengkondisian peran untuk memformat interaksi hingga mewujudkan target, seringkali tidak mengindahkan side effect yang berpeluang meremeh-temehkan keberadaan kebenaran dan martabat pihak-pihak lain. Fakta ini kemudian meniscaykan kita untuk memandang bahwa chaos atau kekacauan di kancah social politik adalah sebuah kelaziman.

Erving Goffman pada Teori Dramaturgis yang dituangkan dalam bukunya “Pesentation Of Self In Everyday Life” dan implementasi sikap konsistensinya  tehadap interaksionisme simbolik mengurai hal yang sama dengan analisis di atas. Erving Goffman menyebutkan bahwa:  “ Banyak kesamaan antara pementasan teater dengan tindakan dan interaksi  social yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu interaksi social sering terlihat rapuh dan adanya pembiaran oleh kinerja social yang buruk, persis seperti pementasan sebuah teater.” Artinya, power social politik benar-benar potensial merekayasa model interaksi dengan penguatan peran-peran tertentu sehingga terbuka ruang yang lapang untuk mewujudkan target yang telah mereka rancang.

Mencermati paparan di atas maka terhadap peran-peran yang kita lakoni, apalagi yang kita hadapi, hendaklah kiranya disikapi dengan kritis. Hindari sikap naïf karena peran bisa jadi menampilkan sisi depan (front region) sebagai pengecoh untuk memudahkan aksi-aksi dengan sisi belakang (back region) peran yang tentu penuh siasat, bahkan mungkin niat jahat. Ala kuli hal, bedasarkan uraian ini kita memang haus cedas dan waspada menilai peran karena memang lelampan di dunia adalah tipu daya (QS Al-Hadid Ayat 20). Wallohu’alamu.

*Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan Tenaga Pendidik Di SMA N 2 Selong

Posting Komentar

2 Komentar