Jejak Terkini

Desa Pandan Wangi Jadi Percontohan Sistem Tanam Jarwo

TANAM: Inilah suasana tanam padi dengan sistem Jarwo di Desa Pandan Wangi.

SELONG
--Desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur menjadi salah satu desa percontohan penanaman padi dengan sistem jajar legowo (Jarwo). 

Program yang baru diluncurkan ini disebut sebagai Kampung Jarwo. Dimana areal tanamnya mencapai seluas 65 hektare, dengan tiga kelompok tani di desa itu.

Agenda tersebut diprakarsai oleh Sekolah Lapangan Petani (Farmers Fields School) Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP). 

Kepala Balai Pelatihan Tanaman Pangan dan Perkebunan (Bapeltanbun) NTB, Hendro Yulistiono mengatakan, teknologi jarwo salah satu cara tanam yang menjadi program Pemprov. Menurutnya, sistem tersebut menjadi rekomendasi bagi petani.

"Jarwo ini sebenarnya sistem jarak tanam," kata Hendro Yulistiono, kepada JEJAK LOMBOK, Kamis, (28/1).

Sebenarnya, terang Hendro, teknologi tersebut adalah pilihan. Ini karena banyak sistem pertanian tak hanya jarwo.

Namun kebetulan di lokasi itu sangat cocok dengan teknologi satu ini. Buktinya dengan sistem ini, petani setempat merasakan adanya produktivitas berupa hasil panen yang meningkat.

Berarti, ujarnya, sistem pertanian tersebut sangat cocok diterapkan di tempat tersebut.

Sistem jajar legowo ini, sebutnya, memiliki jarak tanam tersendiri mulai dari 1x2 dan 1x4 cm.  Namun di tempat itu, petani lebih banyak menggunakan 1x4 cm. 

"Ini pilihan sebenarnya, manakala dengan jarak 1x4 cm ini produksinya lebih tinggi mungkin itu yang terus dipakai," terangnya.

Namun demikian, jelasnya, hal itu dapat dilihat nantinya pada saat evaluasi berlangsung. 

Hendro mengklaim, di kabupaten dan kota di NTB telah banyak mengadopsi sistem tersebut, khususnya pada tanaman padi. Diadopsinya sistem ini lantaran dapat meningkatkan produksi.

Dia mengatakan, tak hanya NTB, tapi sistem itu telah diterapkan di seluruh Indonesia. Lantaran itu ia berharap kepada petani jangan sampai lemah atau putus semangat, kendati ditengah pandemi yang menyeruak.

"Kami di Bapeltanbun sangat mengapresiasi kepada petani yang mau menerapkan teknologi ini," sebutnya.

Koordinator Konsultan Pertanian Wilayah NTB dan NTT ini, Hj Sukmawati, bersyukur sistem tersebut dapat diterapkan di desa tersebut. Terlebih di lokasi itu, metode itu dikawinkan dengan berbasis organik.

"Jadi ini sesuatu yang menarik dan menantang untuk jangka panjang," sebutnya.

Dia mengatakan, pertanian berbasis organik akan berdampak pada kesehatan tubuh, tanah, lingkungan dan aman untuk dikonsumsi.

Zaman sekarang ini, lanjut Dekan Fakultas Pertanian di salah satu universitas swasta ini, tanah saat ini sudah semakin miskin unsur hara. Buntutnya generasi mendatang tak bisa lagi makan padi.

Sebab, petani cenderung memaksa tanah ditanami padi sampai dengan tiga kali. Dan hal ini tak boleh, seharusnya diistirahatkan dengan cara menanamkan tumbuhan lain seperti palawija misalnya.

Di lain sisi, tanaman pangan satu ini sangat menjanjikan. Jadi tak heran jika petani memaksa tanah itu, bahkan menanaminya sampai tiga kali dengan tumbuhan serupa.

Dirinya meminta agar petani memelihara tanah miliknya. Sebab, jika terurus pasti akan menghasilkan yang terbaik.

"Jadi jangan sampai tanah kita dipaksa kerja, kerja dan kerja. Tapi tidak diberikan makanan yang bernutrisi," jelasnya

Jika dua hal ini terus dipertahankan, bebernya, bisa saja tempat ini menjadi salah satu ikon agrowisata dan dapat dikenal dan kunjungi oleh orang luar. Terlebih dil kawasan ini, tanahnya berjenis grumosol, yang merupakan tanah dengan Power of Hydrogen (pH) tinggi.

"Bukan hanya N atau urea yang kita harapkan, tapi juga posfatnya," ujar Sukmawati. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar