728x90

ad

Belibae, Market Place untuk Pelaku UMKM

KREATIF: Empat remaja asal Desa Seruni Mumbul membuat dan mencetuskan aplikasi Belibae untuk belanja online.

SELONG
--Prilaku pasar saat ini berubah jauh jika dibandingkan beberapa tahun belakangan. Kemajuan teknologi sepertinya memberi andil sangat besar mempengaruhi hal itu.

Melihat hal itu empat remaja Dusun Kampung Mandar, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, membuat sebuah aplikasi jualan yang diberi nama belibae.id. Keempat remaja tersebut ialah, Eko Agus Moh Iqbal, Dodi Ray, Isaiful Nuhadri dan Imam Bani M.

Kepada JEJAK LOMBOK Founder Blibae, Eko Agus Moh Iqbal menceritakan, aplikasi itu lahir dari kegalauannya sebagai konsumen. Kegalauan itu dipicu karena sering tak mendapatkan barang tak sesuai pesanannya.

"Jadi pengalaman saya dan teman-teman sering sekali mendapatkan barang tidak sesuai yang kami pesan," terang Eko Agus Moh Iqbal, Senin (25/1).

Dia mengatakan, rencana itu sebenarnya direncanakan pada tahun 2018 yang lalu. Namun sempat tertunda lantaran ada kerjaan lain yang harus dituntaskan. 

Ditengah proses pandemi menyeruak, ia melihat kondisi ini sebagai salah satu peluang. Mengingat selama pandemi berlaku adanya pembatasan aktivitas di luar rumah.

Namun aplikasi ini baru dapat dieksekusi pada tahun 2020, tepatnya bulan Desember. Aplikasi ini kemudian diluncurkan pada 10 Januari 2021 kemarin.

Aplikasi ini, beber pria 26 tahun ini, tak hanya keresahan pembeli. Namun ia juga melihat ada perasaan serupa yang dialami oleh penjual, khususnya bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). 

Alasan itulah disebutnya lahirnya aplikasi ini. Sebuah market place yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku UMKM, khususnya di bumi seribu masjid. 

Di lain sisi, jika memesan barang dari luar kadang lebih besar ongkos kirim dibandingkan dengan harga barang. Payahnya lagi, sering sekali saat sampai tak sesuai pesanan.

Dinamakan belibae, lantaran ia ingin menonjolkan khas bahasa di Lombok. Tujuannya agar masyarakat cepat mengerti tanpa dijelaskan panjang lebar.

"Saya juga teringat masa kanak-kanak dulu, saat main-main. Kita sering kalau sama teman kaya kan belibae," ujarnya.

Aplikasi ini terangnya, dibuatnya sendiri. Bahkan ketika hendak meluncurkan aplikasi ini, ia sampai rela merogoh kantong sekitar Rp 5 juta. Namun itu disebutnya murah, jika menggunakan pihak ketiga maka Rp 10 juta hanya baru dapat aplikasinya. Ia menerangkan, beruntung dirinya ada pengalaman dalam membuat aplikasi serupa, pada saat tinggal di Yogyakarta.

Aplikasi tersebut sebenarnya, masih dalam bentuk upp atau web. Namun demikian sudah bisa menjadi tempat transaksi.

Sejak diluncurkan, jelasnya, sudah ada15 toko yang mendaftarkan diri sebagai pengguna jasa market place tersebut. Kendati ia mengakui, belum ada proses belanja dari aplikasi itu.

"Aplikasi ini sama dengam market place lainnya. Untuk bisa mengaksesnya harus membuat akun," sebutnya.

Eko menjelaskan, bagi para pelaku UMKM yang ingin mendaftarkan toko dan barang dagangannya, tak dipungut biaya.

Di blibae, sebutnya, semua jenis produk dapat didaftarkan kecuali makanan siap saji. Seperti nasi bungkus, es boba dan lain sebagainya.

Pengguna jasa hanya meng-upload barang dagangannya yang ingin dijual. Nantinya jika ada pemesan, pihak blibae yang akan mengambil barang tersebut ke toko yang bersangkutan. Kemudian pihaknya mengantar ke pelanggan yang telah memesan.

Karena ini bisnis, terangnya, pihaknya hanya menaikan harga 10 persen dari harga toko. Harga ini sebagai pemasukan ke perusahaan.

"Misalnya ada pesanan spidol, harga Rp 3 ribu. Maka pihak blibae akan jual seharga Rp 3.500," beber pria lulusan Universitas Teknologi Yogyakarta ini.

Tak hanya toko, aplikasi tersebut juga dapat digunakan oleh member produk, seperti Olshop. Menurutnya, saat suplaier produk pemasarannya hanya melalui akun media sosial saja.

Dengan strategi itu, suplaier harus menyimpan foto dagangan di gawainya. Buntutnya handphone akan menjadi lemot, lantaran ruang penyimpanan yang semakin berkurang.

Bagi konsumen yang belanja di aplikasi itu, terangnya, tak dikenakan ongkos kirim (ongkir). Keutungan selanjutnya, barang dapat ditukar jika tak sesuai pesanan.

Jika ingin membatalkan transaksi dan barang sudah siap, pihaknya mengenakan biaya 5 ribu jika wilayahnya di satu kecamatan. Namun di luar Kecamatan akan mengenakan Rp 9 ribu.

Untuk saat ini, terangnya, pihaknya masih dor too dor dalam memasarkan aplikasi itu. Tujuannya agar lebih banyak toko, yang masuk. Pembeli pun akan banyak varian pilihan.

Tapi, menyambut bulan suci Ramadan ini, targetnya semua toko se-Pulau Lombok. Ramadan ditargetkan lantaran diyakini permintaan dan belanja akan melonjak drastis di bulan itu.

"Target kami, bulan puasa ini banyak toko dan produk yang masuk. Ini bisa jadi lapangan kerja buat yang lain apalagi ditengah pandemi ini," terangnya. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar