Jejak Terkini

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (4)

Laskar Sapuq Putik, Milisi Pribumi Anti Kolonial

PENUH DEDIKASI: Dokter Raden Soedjono bersama warga Lombok Timur penderita cacar dan lepra di klinik Sepolong Labuan Haji. (Foto: Troppen Museum Belanda).
----------------------------

“Berbekal sebagai aktivis Boedi Oetomo semasa studi di STOVIA, kemampuan Soedjono mengorganisir massa tak diragukan. Sepertinya, bekal itu pula digunakan menghimpun kekuatan rakyat menolak kerja paksa yang diberlakukan kolonial Belanda.”

FATHUTR ROZIQIN — MATARAM

Pengujung abad 19 menjadi saksi berakhirnya intervensi Bali atas Lombok. Serangkaian perlawanan dilancarkan orang Lombok atas pendudukan Kerajaan Bali kala itu. 

Puncaknya di Praya sekitar tahun 1891. Warga Lombok bahu membahu menahan gempuran yang dilancarkan Kerajaan Karangasem. Perang yang berkecamuk itu merupakan rentetan perlawanan panjang dari perang-perang sebelumnya.

Kekuatan serdadu Bali yang terlalu perkasa rupanya membuat warga Lombok kelimpungan. Demi menyudahi pendudukan Bali, pada 20 Februari 1894, Lombok mengirim permintaan bala bantuan kepada Belanda.

Lekas saja setelah permintaan bantuan dikirimkan, di tahun yang sama ras kulit putih itu mendaratkan armadanya di Ampenan. Sejak saat itu, fase sejarah invasi di Lombok memasuki babakan baru. Bali pergi, Belanda datang.

Bagi Belanda, permintaan bala bantuan dari orang Lombok merupakan kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Undangan itu dianggap peluang memperlebar sayap intervensinya di Hindia Timur.

Belanda yang semula membantu mengusir Bali, lambat laun menunjukan karakter kolonialisnya. Bukannya terbebas dari intervensi Bali, cengkeraman intervensi Belanda justru berlipat-lipat perihnya.

Sejak menduduki Lombok, Belanda memberlakukan kebijakan yang menyengsarakan penduduk kala itu. Kerja paksa hingga membayar pajak dalam jumlah yang tak masuk akal merupakan catatan buram kejahatan yang ditorehkan kala itu.

Kerja rodi atau kerja paksa yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda sangat memberatkan warga. Beberapa hasil kerja paksa masa itu hingga kini masih bisa disaksikan.

“Jalan dan jembatan yang ada di Batu Tepong, Narmada Lombok Barat itu, orang Lombok Timur yang buat. Itu hasil dari kerja paksa yang diterapkan Belanda,” ucap Raden Rahadian.

Tak hanya jalan dan jembatan. Sejumlah irigasi pertanian juga menjadi saksi betapa kerja paksa kala itu menyedot tenaga manusia yang tak sedikit.

“Termasuk saluran irigasi yang ada di Narmada yang terbuat dari beton itu. Itu juga hasil kerja paksa. Para pekerjanya dari Lombok Timur,” tegas Rahadian.

Penderitaan itu saja belum cukup bagi Belanda. Merek juga memberlakukan pajak. Bagi warga yang tak sanggup membayar, tanah mereka dirampas paksa.

Mafhum bagi warga Lombok, kerja paksa yang diberlakukan Belanda biasa disebut Ngayah atau Pongor. Warga yang tak sanggup Ngayah, mereka harus membayar pajak. Jika itu juga tak sanggup, tanah mereka dirampas paksa.

Semua penderitaan yang dialami masyarakat Lombok kala itu, nyata disaksiskan di depan mata Soedjono. Tidak sedikit warga yang tak sanggup ngayah dibayarkan pajaknya kepada Belanda. Warga setempat dibebaskan dari kekejian prilaku para penjajah tersebut.

Dari serangkaian penderitaan itu, rupanya membuat Soedjono secara terselubung membangun kekuatan anti kolonial. Berbekal sebagai aktivis Boedi Oetomo di STOVIA, ia mendirikan Laskar Sapuq Putik.

Laskar yang terdiri dari kaum pribumi sikapnya jelas. Menentang penjajah Belanda. Laskar ini didirikan Bersama Lalu Badlah, salah seorang tokoh Gerakan politik di Lombok Timur kala itu.

“Lalu Badlah ini merupakan kakeknya Bu Isvie Rupaeda, ketua DPRD NTB yang sekarang. Lalu Badlah merupakan kakek beliau dari garis keturunan ibunya,” ucap Rahadian.

Namun terkait kehadiran Laskar Sapuq Putik ini, Rahadian tak memiliki banyak referensi tentang sepak terjangnya. Bahkan, gerakan-gerakan perlawanan yang dilancarkan milisi sipil ini juga tidak terdokumentasi begitu rapi dalam memori keturunan dokter Soedjono.

Yang jelas, tutur Rahadian, lahirnya Laskar Sapuq Putik merupakan manifestasi kekecewaan Soedjono dan rekan seperjuangannya kala itu. Mereka tak sudi jika warga Lombok dijadikan obyek penindasan dan penderitaan.

“Salah satu yang melatari Laskar Sapuq Putik ini adalah adanya ngayah atau pongor. Kakek tidak sudi melihat masyarakat saat itu diperalat dan disiksa,” tandasnya. (*)

Bersambung…

Posting Komentar

1 Komentar