Jejak Terkini

Mengunjungi Bukit Teletubbies di Ujung Anggaraksa

Sajikan Hamparan  Keindahan dan Situs Bersejarah

INDAH: Keindahan Bukit Teletubbies sanggup memanjakan mata para pengunjung.

"Tidak sedikit destinasi yang menawarkan keindahan, tapi di lain sisi juga mengajak ingatan terbang ke masa lalu. Salah satu destinasi itu yakni, Bukit Teletubbies di ujung Desa Anggaraksa."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG

Hari baru saja menunjukkan pukul 10.00 WITA. Sepagi itu, terik matahari sudah terasa berjelaga kala memasuki perkampungan warga di Dusun Mudung.

Lekas, langkah kaki bergegas menyusuri jalan perkampungan yang berada di Desa Anggaraksa, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur tersebut. Berjalan pelan sama halnya dengan membiarkan matahari kian sewenang-wenang membakar kulit dan ubun-ubun.

Sebelum menyusuri perkampungan, untuk sampai ke Dusun Mudung membutuhkan perjuangan yan tidak sedikit. Jalan aspal yang rusak dipenuhi lubang salah satu ujian yang harus dilalui. 

Belum lagi kondisi jalan yang menanjak, menjadi bagian cerita perjalanan yang terasa lebih menantang.

Namun setiba di perkampungan dan menaiki Bukit Teletubbies di dusun itu, semuanya terbayar lunas. Lelah menjadi impas dengan hamparan pemandangan indah di sepanjang punggung bukit.

Lazimnya tempat yang berada di ketinggian. Mata akan dimanjakan dengan hamparan pemandangan di berbagai penjuru.

Di Timur nun jauh, Selat Alas membentang memisahkan Pulau Lombok dan Sumbawa. Kapal lalu lalang yang nampak dalam ukuran kecil terlihat membelah lautan.

Sementara di punggung bukit, di hari yang belum juga siang. Aroma basa tanah sisa hujan semalam menjadi senyawa aromatik yang melebur ke udara. Senyawa itu membuat Indra penciuman semakin betah berlama-lama di bukit tersebut.

Di tambah ilalang yang mulai menjulang sepanjang punggung bukit, rupanya menjadi berkah yang sanggup menghipnotis setiap pengunjung. Pandangan di sekeliling terasa begitu luar biasa.

Di balik keindahan yang tersaji, siap sangka bukit tersebut punya kisah tersendiri. Dari mulut ke mulut warga setempat, bukit itu merupakan tempat persembunyian Jepang. 

Para serdadu Negeri Matahari Terbit itu memilih bukit tersebut sebagai persembunyian lantaran dipukul mundur kekuatan Belanda. Pasukan Negeri Kincir Angin membuat serdadu Jepang terdesak dan harus menyelematkan diri di atas bukit.

"Itu salah satu cerita yang berkembang di penduduk desa ini," ungkap Ketua Kelompok Cagar Budaya, Rusli, Selasa (22/12).

Kepada JEJAK LOMBOK, Rusli bercerita. Bukit ini dinamakan Teletubbies lantaran bentuk dan pemandangannya mirip seperti dalam serial film anak-anak itu. Dibatas bukit ini pula masih ditemukan adanya gua.

Kata Rusli, gua ini merupakan buatan serdadu Jepang. Gua ini dibuat lantaran terdesak kekuatan tentara Belanda. Diduga gua itu dibangun di akhir periode pendudukan Jepang.

Dugaan tentang keberadaan Jepang di bukit ini cukup kuat. Para penambang pasir di sekitar bukit pernah menemukan granat nanas. Beruntung granat yang ditemukan itu sudah tidak aktif. 

Tak hanya gua, ditempat itu juga terdapat makam. Makam tersebut sampai saat ini masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat. 

Ia tidak detail dan runtut bercerita tentang situs dan sejarah di bukit itu. Rusli sepertinya lebih tertarik mengulas keindahan bukit tersebut.

Sejak 2017 lalu, saat menaiki bukit itu, Rusli mengaku sudah kepincut menjadikannya sebagai destinasi camping ground. Tempat ini disebutnya cocok menghabiskan malam dan menikmati keindahan alam.

Sepertinya dari tempat itu pengunjung akan mendapatkan sunset dan sunrise point sekaligus.

Tahun 2018 lalu, bukit itu pernah menjadi primadona bagi masyarakat setempat. Mereka datang untuk sekedar berswafoto mengabadikan moment terutama pada saat sore harinya. Tak hanya abadikan keindahan namun juga ada juga yang mengahabiskan malam ditempat itu dengan berkemah.

Apa yang dilontarkan Rusli cukup beralasan. Ini karena punggung bukit itu sangat lapang. Mudah bagi para pengunjung mendirikan tenda di tempat itu.

"Namun mungkin karena takut, ada granat lagi, kita khawatir beroperasi. Pemdes juga belum bisa kelola lantaran belum dibentuk Pokdarwis," ujarnya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar