Langgar Pusaka, Saksi Masuknya Islam di Tanah Lombok

SAKSI SEJARAH: Langgar Pusaka di Desa Sapit menjadi saksi sejarah masa lalu penyebaran Islam.

SELONG
-- Mengungkap sejarah masuknya Islam di tanah Lombok sepertinya masih belum menemukan titik terang. Tidak ada sejarah detail yang membahas tentang masuknya agama yang kini menjadi mayoritas dipeluk penduduk warga Sasak (suku di Lombok).

Namun demikian, riwayat dan bukti penyebaran agama ini langit ini masih dapat ditemui dengan sejumlah peninggalan masa lalu. Di berbagai tempat di Lombok, nyaris terdapat bangunan masjid tua yang hingga kini masih kokoh berdiri.

Di Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur misalnya. Bukti penyebaran dan peninggalan Islam di masa lampau dengan mudah bisa dijumpai.

Seperti keberadaan Langgar Pusaka di desa itu. Langgar berukuran 9X9 ini masih tetap berdiri teguh di antara pemukiman warga.

Langgar ini di masa lalu konon berfungsi sebagai masjid. Di tempat inilah awal mula Islam diajarkan kepada penduduk setempat.

Kepada JEJAK LOMBOK, Tokoh Pemuda Sapit, Jannatan Firdaus menuturkan, masjid tua yang terbuat dari kayu tidak diketahui persis kapan berdiri. Namun informasi terakhir, tiang di dalam langgar itu baru diganti pada tahun 1775 silam.

"Masjid ini sangat lama dan belum ditahu pasti angka tahun berdirinya," kata Jannatan Firdaus, Kamis (10/12).

Namun dari penuturan para sepuh di desa itu, tidak sedikit yang bercerita jika langgar itu didirikan di pertengahan abad ke-13. Masjid ini diduga didirikan pada tahun 1370-an.

Meski terbilang bangunan tua, tapi langgar itu masih kokoh berdiri. Kokohnya bangunan ini tidak lepas dari kepedulian warga setempat yang terus memeliharanya.

Masjid ini sendiri sangat mudah dijumpai pengunjung. Bisa dipastikan semua penduduk di Desa Sapit mengetahui keberadaannya.

Di halaman masjid terdapat dua kolam berukuran 3x3. Sementara di dalam masjid masih tersedia mimbar khutbah yang terbuat dari kayu.

Selain mimbar, beberapa mushab tua juga dapat ditemui. Menurut cerita ada 7 Alqur'an bertulis tangan. Namun baru tiga yang sudah didapatkan.

Salah satu mushab itu, terangnya, berbeda dengan yang lainnya. Biasanya, jika Alquran selalu didahului dengan Surat Alfatihah, maka di mushab yang ditemukan di desa ini justru dimulai dengan Surat Al-Ikhlas.

"Namun tinggal 4 mushab belum kita temui dan masjid ini direnovasi 5 tahun sekali," ucap pria yang akrab disapa Jan ini.

Pemuda lainnya, Didik Kurniawan menjelaskan, masjid tua ini digunakan ketika ada perayaan ritual adat. Seperti acara maulid adat, bubur abang, dan berbagai jenis ritual adat lainnya

Saat ini, terang Didik, masjid ini menjadi cagar budaya. Dimana keberadaannya dilindungi oleh masyarakat dan pemerintah.

"Dibuka juga ketika ada wabah atau bahla, dan masyarakat melaksanakan ritual," tandas Didik. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar