Kerusakan Ekologis Nyata, Ratusan Mata Air Hilang

Lalu Mulyadi

SELONG
--Kerusakan ekologis kian santer terasa akibat deforestasi dan penambangan galian C. Kerusakan ini menyebabkan persoalan serius, seperti hilangnya sumber mata air.

Di Lombok Timur misalnya. Keberadaan mata air saat ini sudah sangat berkurang. Parahnya lagi, pengurangan ini dalam jumlah ratusan sumber mata air.

Data Dinas Lingkungan dan Kebersihan Hidup (LHK) Lombok Timur menyebutkan, pada tahun 2018 tercatat tidak kurang dari 500 lebih jumlah mata air. Berselang dua tahun di 2020, jumlah mata air yang tersisa hanya 216 saja.

"Ini persoalan serius. Tidak bisa dibiarkan terus seperti ini," ungkap Kepala Dinas LHK Lotim, Lalu Mulyadi, Kamis (10/12).

Persoalan ini, jelasnya, menjadi tanggung jawab semua pihak mengatasinya. Tanggung jawab ini tidak melulu ditimpakan kepada instansi yang dipimpinnya.

Mulyadi menegaskan, dibutuhkan kerjasama semua pihak menghadapi masalah tersebut. Semua elemen masyarakat harus bersatu padu mencari solusi jalan keluar masalah yang tengah terjadi.

Demi.mencegah terus meluasnya musibah ekologis ini, pihaknya memastikan mengambil langkah-langkah seriusm salah satunya dengan memperhatikan populasi pohon di sekitar mata air.

"Nanti di sekitar mata air itu akan kita tanami pohon. Ini penting untuk merawat mata air yang ada," jelasnya.

Agar proses penanaman bisa berjalan massif, jelasnya, pihaknya akan melibatkan banyak pihak. Salah satunya yakni aktivis pegiat sosial lingkungan.

Lewat penanaman pohon, bebernya, mauntidak mau pada gilirannya akan berdampak pada serapan air. Kondisi ini bisa terjadi terutama pada daerah aliran sungai (DAS) di tempat sumber mata air. 

Ia menyebutkan salah satu persoalan yang menyebabkan sumber mata air itu berkurang yaitu dengan hadirnya galian-galian C di lokasi sumber mata air. Karena itu, ke depan dirinya akan memperketat lagi izin-izin terkait dengan penerbitan galian C.

Bahkan, lanjutnya, paradigma yang lahir di masyarakat seputaran penambangan galian C bukanlah galian C. Namun masyarakat mengira itu adalah pembukaan lahan baru untuk persawahan.

"Warga sekitar galian C juga mengira itu bukanlah kriteria dari galian C. Namun warga kita terkadang beralasan hal itu untuk membuka lahan sawah atau lahan baru," tandasnya.

Sementara itu, ia terus menerus mensosialisasikan dampak dari pencemaran yang diakibatkan dari tindakan-tindakan yang bisa mengurangi dari sumber mata air tersebut.

Dengan melibatkan unsur desa yang merupakan paling dekat dengan warga, menurutnya itu adalah langkah awal untuk mengajarkan masyarakat tentang pentingnya fungsi sumber mata air bagi kehidupan di masa mendatang.

"Antara pembukaan lahan baru untuk persawahan dengan galian C nanti kita akan kroscek di lapangan, supaya warga kita paham perbedaanya. Tentunya kami tidak bisa lepas dari unsur Desa, Kecamatan dan sebagainya untuk menangani hal itu," tutupnya. (zaa)

Posting Komentar

0 Komentar