Burung Puyuh Bisa Jadi Solusi Usaha di Tengah Pandemi

MENJANJIKAN: Peternak burung puyuh, Sahir menyebut usahanya cukup menjanjikan.

SELONG
--Usaha di musim pandemi ini terbilang sulit. Rata-rata semua usaha mengalami dampak dari wabah itu.

Sebagai jalan keluar dari kepungan wabah Corona ini, salah satunya alternatif usaha yang bisa dilakoni yakni ternak burung puyuh. Usaha satu ini dapat dibilang sedang taren, terutama di kalangan peternak.

"Saya sudah dua tahun usaha burung puyuh," kata peternak burung puyuh Sahir, kepada JEJAK LOMBOK, Jumat (4/12).

Ia menceritakan, sebelumnya ia hanya seorang perantau di negeri jiran. Namun setelah pulang ia selalu merasa sepi lantaran tak ada pekerjaan yang menghasilkan.

Bolak balik ke Malaysia rupanya membuatnya berfikir mencari modal usaha. Saat sedang di luar negeri itu ia melihat seorang pengusaha keturunan Tiongkok tengah beternak puyuh.

Pada saat itu ia tertarik dan mulai belajar bagaimana merawat burung tersebut. Dia melihat, memelihara burung itu tak serumit beternak ayam, bebek dan lain sebagainya.

"Saya lihat tak serumit memelihara ayam atau bebek," terangnya.

Pria yang akrab dipanggil Amaq Alpin ini menerangkan, ia memelihara burung puyuh petelur. Usaha ini dilakoni karena melihat ada pangsa yang menjanjikan.

Ia membandingkan dengan usaha ayam yang membutuhkan modal besar. Kendati demikian ia tak ingin membocorkan modal awal usahanya tersebut.

Dia membandingkan, jika ayam rentan terkena penyakit, tapi burung puyuh sangat tahan dengan semua kondisi.

"Burung puyuh ini tidak biasa pada hawa dingin. Karena itu, pintar-pintarnya kita ngatur suhu," terangnya.

Usaha yang digeluti selama dua tahun itu, terbilang belum cukup memenuhi pasar. Sebab setiap harinya ada saja permintaan cukup tinggi.

Pria kelahiran Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur itu mengungkapkan, dari 1.200 ekor yang dipelihara hanya mampu menghasilkan 10 sampai 13 trai perharinya. Di lain sisi, permintaan telur sampai lebih dari itu.

Dia mengatakan, satu trai telur ia hargakan Rp 30 ribu dengan sistem antar. Tapi jika diambil ditempat harga Rp 28 ribu pertrai.

Saat ini, pembeli datang dari berbagai desa di Lombok Timur. Mereka yang datang terutama para pedagang cilok. Permintaan itu belum termasuk dari kios-kios terdekat.

Untuk pemasaran, ucap dia, hanya memanfaatkan media sosial. Seperti membuat laman panfage Facebook atau melalui WhatsApp grup.

Kendati tak memiliki strategi menguasai pasar, dia mengakui jika pemesanan terus berdatangan. Bahkan, terbaru, ada pula konsumen dari Kota Mataram yang datang menawarkan kerjasama dengan dirinya.

Terhadap tawaran itu, ia mengaku belum mampu memenuhi kebutuhan. Ini karena permintaan yang diinginkan melebihi hasil kapasitas produksi.

Saat ini, ujar dia, dari usaha tersebut ia mampu membeli sapi sebagai usaha tambahan. Bahkan ia dapat membantu sedikit modal pembuatan rumah.

Dia mengaku, meski di musim Covid-19 usahanya tersebut tak surut. 

"Alhamdulilah tetap laku, bahkan kadang kita kelimpungan dengan permintaan," tandasnya. (sy)

Posting Komentar

0 Komentar