Jejak Terkini

Ini Strategi Hentikan Pneumonia pada Anak di NTB

Hj. Niken Saptarini Widyawati

MATARAM
--Jumlah kasus pneumonia yang ditemukan di NTB selama tahun 2019 sebanyak 22.413 kasus. Rinciannya, 12.162 pada balita laki-laki dan 10.251 pada balita perempuan.

Terhadap masalah ini, Pemprov NTB tetap mengkampanyekan strategi gerakan STOP Pneumonia pada anak meski pandemi covid-19. STOP Pneumonia sendiri merupakan akronim dari gerakan ASi eksklusif selama enam bulan, menyusui ditambah MPASI sampai 2 tahun.

Dalam gerakan ini juga mengandung misi tuntaskan imunisasi untuk anak, berobat ke fasilitas kesehatan jika anak sakit. Berikutnya, memastikan kecukupan gizi anak dan hidup bersih serta sehat.

Kampanye tersebut dilakukan dengan strategi menerapkan protokol kesehatan covid-19 yang ketat melalui Posyandu Keluarga yang menjadi program unggulan Provinsi NTB. Hal tersebut demi melindungi bayi dan anak dari serangan mematikan pneumonia.

Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, saat menjadi salah satu narasumber dalam acara memperingati hari Pneumonia Internasional secara daring di Pendopo Gubernur pada Kamis, (12/11). Dalam acara besutan 'Save the Children Indonesia' tersebut, turut hadir juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Selain itu, ada juga Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, para orangtua anak penyintas pneumonia se-Indonesia, serta perwakilan TP-PKK se-Indonesia dan stake holder terkait.

“Selain mengkapanyekan protokol kesehatan covid-19, kami Tim PKK NTB juga tetap mengkampanyekan STOP Pneumonia melaui program unggulan kami yakni Posyandu Keluarga,” jelas Bunda PAUD Nasional tersebut.

Selain mengkampanyekan edukasi terkait STOP Pneumonia melalui Program Unggulan Posyandu Keluarga, berbagai kegiatan juga telah dilakukan PKK selama ini untuk meningkatkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di provinsi NTB. 

Di antaranya, pembinaan PHBS di 50 Desa prioritas PKK yang bertujuan untuk memotivasi keluarga untuk terus ber PHBS. Lalu ada pelatihan kader untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam PHBS di keluarga. 

Berikutnya ada lomba PHBS di kabupaten kota yang bertujuan memotivasi pelaksanaan PHBS di desa. Pembinaan PHBS di sekolah untuk memotivasi siswa, guru agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS di sekolah.

Selain itu, ada pula pengadaan buku saku PHBS bagi kader untuk meningkatkan literasi kader dalam memotivasi masyarakat. Bahkan, selama pandemi, PKK menjalankan program maskerisasi khususnya pada anak bekerja sama dengan Pemprov NTB yang melahirkan PERDA NTB No. 7 TAHUN 2020 terkait kewajiban penggunaan masker.

“Maskerisasi anak benar-benar menjadi kampanye yang terus kami lakukan,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati menjelaskan, di dunia, pneumonia menyebabkan kematian lebih dari 800.000 balita setiap tahun. Dari jumlah tersebut grafiknya terjadi lebih dari 2.000 kasus per hari. 

Sekitar 80 persen kematian akibat pneumonia pada anak terjadi pada kelompok usia kurang dari dua tahun. Dimana kasus tersebut paling banyak terjadi di negara berkembang seperti di wilayah Asia Tenggara dan Afrika.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2018 terdapat 19.000 balita yang meninggal akibat pneumonia. Dari data ini disimpulkan lebih dari dua anak meninggal setiap jam akibat pneumonia. Bahkan pneumonia disebutkan menjadi penyebab kematian bayi dan balita nomor dua setelah kelahiran prematur.

“Karena itu melalui peringatan Hari Pneumonia Internasional ini kami harapkan semua pihak dapat kembali merapatkan barisan dan mencegah pneumonia. Ingat pneumonia bisa dicegah dan disembuhkan,” pesannya.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto juga kembali menekankan pentingnya mensosialisasikan gerakan Stop Pneumonia kepada orangtua dan masyarakat untuk mencegah terjangkitnya bayi akan penyakit ini. Menkes berpesan Stop pnemueia pada anak dengan asi ekslusif MPASI dua tahu, tuntaskan imunisasi untuk anak, obati jika sakit dan pastikan gizi anak terpenuhi dan hidup bersih.

“Jangan lupa manfaatkankan buku kesehatan yang telah dibagikan di setiap posyandu,” pesannya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar