Jejak Terkini

SANDE KALA

Oleh: Dr. Jamiluddin, M.Pd

(Antara Isyarat-Isyarat Dunia Lain dan Pemuliaan Waktu Dalam  Sufism  Klasik Masyarakat Sasak) 

MAKHLUK astral kadang-kadang sedikit nakal. Berkelebat secepat kilat. Bikin bergidik atau sebaliknya menggiring keinginan menyelidik. Pastinya, makhluk astral yang kadang nakal akan menggoda daya hayal. Bila tidak terkendali, daya hayal terus menjajal akal. Kalau akal dangkal maka material daya hayal tak urung menjadi sakral.

Pada tahapan inilah berpangkal ritual-ritual yang tentu menambah ruang kreatif paranormal. Ujungnya, ongkos-ongkos seremonial tentu menjadi bertambah mahal. Lain halnya jika akal teruji andal. Daya hayal akan berujung rasional, bahkan akhirnya bertransformasi menjadi tawakkal. Situasional ini akhirnya mengapresiasi produk-produk intelektual. Karya seni dan jurnal-jurnal menjadi sesuatu yang selalu aktual. Tentu ini merupakan hal potensial dalam mensupport pembangunan bangsa yang berkeadilan sosial.

Perang daya akal dan hayal yang di-trigger penampakan makhluk astral ini tentu sulit ditangkal. Fenomena atau peritiwa ini akan terus menjadi bagian siklus kehidupan. Pemicunya adalah keberadaan makhluk astral yang bukan makhluk alam hayal. Mereka penghuni alam lain. Dunia mereka lebih akrab dengan sebutan alam gaib.  Adalah sebuah alam yang tidak terjamah oleh kapasitas jasmani-lahiriyah. Lazim teramati oleh kekuatan batin atau oleh manusia “separuh dewa” yang diberikan kemampuan istimewa. 

Dalam pandangan Islam, makhluk astral ini nyata dan ada. Dalam kalimat ta’awwuz disebutkan. “Aku berlindung dari godaan syetan yang terkutuk.”  Dalam QS. An-Nas ayat terahir juga dinyatakan, “Dari jin dan manusia.”  Dalam ayat lain, tepatnya pada QS. Adz-Zaariyaat Ayat 56 ditegaskan, “ Dan tidak Aku ciptakan jin serta manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Sementara pada QS. Al-a’raf Ayat 11 Alloh SWT berfirman, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian, lalu Kami bentuk tubuh kalian, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kalian kepada Adam,” maka mereka pun bersujud, kecuali iblis.

Dalam ayat-ayat di atas, makhluk astral setidak-tidaknya terdiri atas syetan, jin, dan iblis. Tiga makhluk astral, yaitu syetan, iblis, dan sebagian jin memang nakal. Mereka telah bersumpah mencegah manusia menunaikan ibadah sebagaimana diterangkan dalam QS al-A’raf Ayat 15-17 yang artinya: “Karena Engkau telah menghukum kami sebagai makhluk yang sesat, maka kami akan benar-benar mengganggu mereka agar tidak menempuh jalan-Mu yang benar lagi lurus. Kemudian kami akan menggoda mereka dari depan, belakang, kiri, dan kanan sehingga Engkau tidak akan menemui mereka menjadi orang-orang yang bersyukur.

Penjelasan sumber ilmu yang super ilmiah di atas akhirnya memberikan petunjuk yang jelas tentang penampakan-penampakan makhluk astral tersebut. Penampakan mereka adalah pengalihan haluan. Penampakan mereka adalah misi dan agresi yang keji. Penampakan mereka adalah gerakan pengkafiran. Penampakan mereka adalah uasaha pelemahan iman dan peluasan pengaruh di arena perang pembangkangan. Inti target penampakan mereka adalah misi sumpah melawan Tuhan.

Dalam keyakinan dan pengalaman magisme–mistisme sebagian masyarakat dunia, penampakan makhluk astral sering terjadi pada saat senja tiba. Dalam kultur kontemporer kalau tidak boleh disebut modern, senja setara dengan moment matahari terbenam (sunset).  Khusus di Indonesia, senja hari disebut juga dengan “sandi kala.” Sedangkan pada beberapa dialek, temasuk dalam tradisi bahasa-bahasa di lingkungan masyarakat Sasak, “sandi kala” atau menjelang terbenamnya matahari disebut “sande kala.”  Bagi sebagian masyarakat Indonesia, Frase “sande kala” mengandung kekuatan tertentu yang suggestible. Tidak terkecuali di lingkungan masyarakat Sasak, “sande kala”  ini dikait-kaitkan dengan kekuatan hitam yang jahat.

Bagi masyarakat Sasak tempo dulu, saat “sande kala” adalah sebuah pergantian atau shift aktifitas semesta. Diyakini bahwa bersamaan dengan “sande kala”  tiba, terjadi pergantian siang menjadi petang yang diringi oleh terjadinya pergantian dominasi aktifitas alam oleh makhluk-makhluk astral.  “Sande kala” adalah waktu keluarnya makhluk-makhluk astral. “Sande kala”   adalah saat dimulainya aksi pelaksanaan sumpah makhluk-makhluk astral. Mereka merayu, menggoda, bahkan menakut-nakuti manusia. Tujuan akhirnya adalah  agar manusia memilih persekongkolan atau konspirasi dengan mereka.   

Dalam riwayat keyakinan masyarakat Sasak klasik, “sande kala” tak terpisah dengan “bebodo atau boro.” Makhluk ini bagian dari tiga malhkluk astral, yaitu syetan, iblis, atau jin. Bebodo atau boro akan berkeliaran mencari target saat “sande kala.” Mereka biasa mencari anak-anak dan menyembunyikannya di suatu tempat di alam lain.  Peistiwa ini kerap kali terjadi. Oleh karena itu, ketika “sande kala” tiba, nyaris semua orang tua memerintahkan anak-anak mereka pulang ke rumah masing-masing. Manakala bebodo atau boro berhasil memburu target, masyaakat beramai-ramai dibawah pimpinan paranormal dan sesepuh desa melakukan ritual pukul atau pantol blek serta lantunan do’a maupun mantera sampai dengan bebodo atau boro mengembalikan targetnya. Betapa nyata dan kuatnya pengaruh “sande kala,” di dunia persepak bolaan Lombok Timur pun ia menjadi sebuah icon. Salah satu kesebelasan legendaries Lombok Timur menggunakannya sebagai nama club.  Anehnya, kesebelasan “sande kala” tersebut sering membobol dan melumpuhkan lawan-lawannya melalui dwo striker mereka, yaitu Jumat Dachlan dan Noar saat “sande kala” tiba.

Keyakinan masyarakat Sasak klasik tentang “sandi kala” sekaligus dengan bebodo atau boro, sesungguhnya menjadi wujud bagian aqidah sufisme yang lambat laun menjadi bangunan mistisme. Pada kajian “Islamic Study” kandungan sufisme ini merupakan lingkaran pengaman bagi “negative heuristic” (materi kebenaran mutlak). Argumentasi ini menguat karena “sandi kala” sebagai wujud bagian aqidah sufisme merupakan hasil breakdown dari sebuah sunnah Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh shoheh Bukhori nomor 5623 dan shoheh Muslim Nomor 3756, Rasulullah SAW bersabda, “ Bila hari telah senja, tahan anak-anak kalian karena syetan sedang berkeliaran. Dan apabila sudah masuk waktu sebagian malam, silahkan biarkan mereka. Tutuplah pintu dan sebutlah nama Alloh karena syetan tidak dapat membuka pintu yang tertutup manakala ditutup dengan menyebut nama Alloh. Tutup semua kendi kalian dengan menyebut nama Alloh, demikian pula bejana-bejana kalian serta sebisanya dengan membentangkan sesuatu di atasnya. Jika kalian hendak berbaring atau tidur, padamkanlah lampu atau lentera-lentera yang terpasang di rumah kalian.  

“Sandi kala” sebagai wujud bagian aqidah sufisme masyarakat Sasak klasik pada awalnya merupakan ikhtiyar pertahanan sekaligus perlawanan terhadap pelaksanaan sumpah pembangkangan syetan dan iblis yang terkutuk. Implementasi syari’atnya adalah menjaga waktu “sandi kala” dengan mentaati sabda Rasulullah SAW sebagai “negative heuristic” (materi kebenaran mutlak). Sebagai verifikasi ketaatan dimaksud adalah: menahan anak di rumah dan bila sedang di luar, para orang tua memerintah anak-anak mereka pulang. Sementara itu, setelah beberapa saat, mereka mengajar anak-anak membaca al-qur’an, serta beribadah sesuai tuntunan atau syar’i.

Oleh sebagian kecil komunitas, “Sandi kala” sebagai wujud bagian aqidah sufisme masyarakat Sasak klasik sering dianggap keliru. Jika “Sandi kala” dipahami keliru oleh masyarakat Sasak klasik di era yang lalu, maka akan muncul praktek-praktek sinkretisme yang membingungkan. Jika kekeliruan pemahaman terhadap fenomena “Sandi kala” ini terjadi pada kelompok-kelompok yang memegang pola absolutely absolute dalam tradisi beragama “Islam,” maka praktek ini dikelompokkan dalam genre yang dolal atau sesat. Sedangkan jika para budayawan memiliki pemahaman yang tidak utuh atau komprehensif terhadap “Sandi kala,” maka tentu akan menghadirkan sekulerisme. 

Ala kuli haal, akhirnya kita dituntut meniscayakan agar semua pihak bekenan memahami  “Sandi kala” sebagai wujud bagian aqidah sufisme masyarakat Sasak klasik secra utuh. Harapan utamanya adalah agar “Sandi kala”  betul-betul dipahami sebagai lingkaran pengaman bagi seluruh  “negative heuristic” (materi kebenaran mutlak). Dengan demikian kita dapat mengantisipasi kemungkinan labeling, seperti sinkretisme yang membingungkan, sesat, dan sekuleisme, sebagaimana sense of academic crisis di atas. Akhirnya penulis berharap, semoga ulasan ini bermanfaat sekaligus mohon maaf jika di dalam ulasan ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan dan relevan. Wallohu’alamu.

*Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.


Posting Komentar

0 Komentar