Jejak Terkini

Ini Masalah Literasi NTB di Masa Pandemi

Dr. H. Aidy Furqan saat menjadi pembicara kegiatan literasi.

MATARAM--Masalah literasi menjadi trand masa kini, tak terkecuali NTB. Literasi tak hanya soal mengeja lalu lancar membaca, namun maknanya lebih dari itu.

Tanggal 8 September dikenal dengan Hari Aksara Internasional (HAI). Acara peringatan hari litererasi tersebut dilakaksanakan berkat kerjasama empat instansi yakni Asosiasi Dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Inovasi NTB, Dinas Pendidikan dan  Kebudayaan dan Kementrian Agama NTB.

Keempat instansi tersebut menggelar webinar bertajuk 'Literasi NTB di Masa Pandemi. Acara itu setidaknya diikuti oleh 450 orang, dan 4264 melalui livestreaming Youtube dan Facebook.

Acara tersebut diisi oleh tokoh, aktivis dan akademisi yakni mantan Gubernur NTB yang juga sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan, Dr KH Muhammad Zainul Majdi. Ada juga pengurus Konsorsium NTB Membaca, salah satu dosen di UIN Mataram, Dr Hj Atun Wardatun, Ketua LPTK NTB yang sekarang menjabat Dekan FKIP UNRAM, Prof Dr A Wahab Jufri. Selain itu, ada juga Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr H Aidy Furqan dan District Coordinator Inovasi NTB, Muhtar Ahmad.

Ketua Panitia Pelaksana Webinar, H Iwan Jazadi mengatakan, selain kegiatan webiner ini, Hari Aksara Internasional ini juga dirayakan dengan beberapa kegiatan bernuansa literasi lain. Diantaranya yaitu workshop, kampanye literasi serta adapula serangkaian lomba menulis cerita anak.

Semua kegiatan ini, lanjut pria yang saat ini menjabat Ketua STKIP Paracendekia NW Sumbawa ini, bertujuan untuk mewujudkan gerakan bersama membangun literasi masyarakat NTB yang secara nasional masih tercatat berada di posisi bawah. Kondisi ini disebutnya mengkhawatirkan, terlebih karena posisi literasi Indonesia sendiri masuk pada kelompok terakhir.

“Semoga kesadaran kita untuk membangun gerakan membaca dan menulis dari tingkat dasar dapat mengalami peningkatan," ucapnya.

Ketua Organisasi Internasional Almuni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, Muhammad Zainul Majdi menegaskan, Islam memposisikan literasi di tempat tertinggi dalam membentuk peradaban manusia. Jatuh bangunnya kebudayaan suatu masyarakat, juga ditentukan oleh perkembangan literasi.

Menurut pria yang akrab disapa TGB ini, menekankan aspek kualitas bacaan sebagai poin kunci pembentukan peradaban dalam masyarakat. Semakin tinggi kualitas bacaan yang ada, maka semakin baik pula kualitas perkembangan kebudayaan yang akan dihasilkannya.

“Kunci ketinggian literasi tidak semata-mata terletak pada kuantitas literatur yang diakses masyarakat, namun yang tak kalah penting kualitas dan peran bahan bacaan tersebut bagi pembentukan peradaban suatu masyarakat,” ujar ulama yang satu ini.

Dr Hj Atun Wardatun menjelaskan, tentang praktik yang baik dalam pengembangan literasi masyarakat. Dia mensinyalir keterpurukan literasi masyarakat di NTB sampai saat ini dapat diatasi. Tak hanya dengan bergantung pada ketersediaan buku-buku dan bahan bacaan dari Pemerintah.

Namun, kegiatan literasi perlu dibangun dari rumah, dari hal-hal kecil, dan tidak identik dengan kemahalan. Ada banyak hal, menurut aktivis Fenimisme ini, yang bisa dilakukan di rumah oleh orang tua untuk membangun semangat literasi.

Beberapa cara sederhana , bebernya, yang dapat dilakukan orang tua terhadap anaknya sejak dini adalah membacakan buku cerita. Cara ini sebagai kegiatan rutin di sela waktu saat di rumah.

"Menyampaikan pengetahuan tertentu kepada anak dengan menyebutkan bahwa sumbernya adalah dari buku A atau B, dan berusaha membeli atau meminjam dari perpustakaan buku-buku yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak,” paparnya

Ketua Asosiasi Dekan LPTK Provinsi NTB, Prof Wahab Jufri, lebih memaparkan peran lembaga yang ia pimpin dalam pengembangan litetasi. LPTK memiliki peran strategis dalam mencetak tenaga pendidik atau guru di semua tingkatan, sehingga lembaga tersebut turut memiliki peran kunci dalam perkembangan literasi, khususnya di NTB.

Ia membeberkan, asosiasi dosen LPTK NTB sendiri saat ini memiliki 17 anggota institusi dengan jumlah mahasiswa calon guru yang tengah dididik hampir 20.000 orang. Ia menggarisbawahi kemajuan teknologi yang ditandai dengan hadirnya revolusi industri 4.0.

Menurut Dekan FKIP UNRAM ini, tenaga pendidik khususnya pengajar literasi mesti mampu menyesuaikan dengan perubahan yang ada.

“Mereka harus mampu menyerap perkembangan secara positif dan di sisi lain menekan pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut sehingga target pembelajaran anak dapat dicapai secara efektif,” tutur Prof. Wahab Jufri.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr H Aidy Furqan memaparkan, Pemprov NTB melalui Dinas Pendidikan terus mengembangkan kebijakan literasi inklusif. Kebijakan ini dikembangkan melalui penyediaan berbagai media dan sumber belajar berbasis audio, video, multimedia dan film.

Bahan itu ia sediakan diberbagai titik di sekolah maupun dalam masyarakat. Dengan niatan, dapat memaksimalkan akses bagi siswa baik yang normal maupun berkebutuhan khusus, serta masyarakat untuk membaca dan belajar.

"Kita hajatkan untuk mempermudah akses untuk semua lapisan," ucapnya.

Dalam acara itu, Kadis Dikbud mendeklirkan naskah gerakan literasi di NTB. Ada tiga poin penting yang diproklamirkan sebagai wujud komitmennya.

Yakni pertama, membudayakan gemar membaca dari diri sendiri, keluarga, dan dalam lingkup peran dan tugas masing-masing. Kedua, menciptakan dan mendukung program dan kegiatan yang membangun kemampuan baca tulis anak, remaja, orang tua, guru, dan elemen masyarakat lainnya.

Ketiga, memulai dari diri dan lingkungan kerja, lalu mengajak berbagai lapisan masyarakat untuk berpartisipasi menyediakan bahan bacaan yang mendidik, berkarakter, dan berbudaya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar