Jejak Terkini

Merdeka Belajar, Berkarakter Budaya, Bahagia untuk Semua

Oleh Maimunah S.Pd

SATU hal yang pasti: Saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Perubahan tidak bisa dimulai dari atas, semuanya berhulu dan bermuara dari Guru. Jangan menunggu aba aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama. Besok, di manapun anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas, ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Berikan kesempatan murid untuk menjadi diri sendiri. Cetuskan proyek bhakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.  Temukan suatu bakat dalam murid yang kurang percaya diri. Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang kesulitan. Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama, Indonesia pasti akan bergerak menuju ketepian. (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,Nadiem Anwar Makarim ). Isi kutipan pidato Menteri Pendidikan ini, mendapat tanggapan baik pro maupun kontra dari kalangan tenaga pendidik dan masyarakat umum di Indonesia out of the box.

 "Merdeka Belajar" disarikan oleh Mas Nadiem” (Sang Founder Gojek)” adalah  asas penciptaan manusia yang merdeka di antara pelbagai makhluk Tuhan, dengan fasilitas akal, untuk memilih jalannya sendiri, merdeka berkarya membuat suatu inovasi. Konsep merdeka belajar harus menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur berjalan beriringan. Inti "merdeka belajar" adalah memberikan kendali belajar yang lebih besar kepada peserta didik, bukan berarti independence learning, dalam arti "bebas semau gue", belajar tanpa guru. Guru yang meng"orkestrasi" proses pembelajaran sebagai pioner dalam proses pembelajaran. Karena pada hakekatnya tujuan Merdeka Belajar ialah para guru, peserta didik, orangtua dan masyarakat sebagai Stake Holder.

Ki Hadjar Dewantara dalam (buku Peringatan Taman-Siswa 30 Tahun, 1922-1952) menyatakan “Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri”. Kondisi peserta didik dalam proses belajar tidak akan merasa senang karena adanya paksaan dari guru, merasa jenuh mengikuti pelajaran yang monoton. Target nilai pun diatur juga secara tidak langsung akan membebani orang tua untuk mewajibkan anaknya mengikuti bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah yang menghabiskan biaya yang cendrung mahal. Kondisi pendidikan kita saat ini dapat digambarkan sebagai kelas tanpa guru. Anak-anak belajar ketika ada guru. Tapi langsung riuh ramai ketika guru meninggalkan kelas. Belajar yang sejatinya merupakan aktivitas alami anak, dirampas menjadi agenda orang dewasa yang dipaksakan. Pendidik mendikte dimana dan kapan waktu belajar, tanpa peduli apapun yang sedang dialami anak. Pendidik mendikte tujuan dan materi yang harus dipelajari anak, meski tidak relevan dalam kehidupan. Merdeka belajar bermakna memberikan kesempatan belajar sebebas-bebasnya dan senyaman-nyamannya kepada anak didik untuk santai dan gembira tanpa stres dan tanpa tekanan untuk mempelajari atau menguasai suatu bidang pengetahuan, sehingga mereka mempunyai portofolio yang sesuai dengan bakat dan hobinya.

Kemerdekaan cara berpikir, jangan selalu "dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, Biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri.  Bila kemerdekaan belajar terpenuhi maka akan tercipta "belajar merdeka" atau "pembelajaran yang merdeka" dan sekolahnya disebut sekolah yang merdeka atau sekolah yang membebaskan.  Maka hakekat merdeka belajar berhasil sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk berakal.  Dalam sebuah tulisan Ki Hajar Dewantara menyatakan "Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri" (temantakita.com. Diakses tanggal 12/12/2019).

Belajar merdeka mencirikan pembelajaran yang kritis, berkualitas, ekspres, transformatif, efektif, aplikatif, variatif, progresif, aktual dan faktual. Pelajar yang belajar berbasis kemerdekaan akan senantiasa enerjik, optimis, prospektif, kreatif dan selalu berani untuk mencoba. Para peserta didik yang merdeka belajar menganggap membaca buku yang bergizi tak kalah nikmatnya dengan menyantap makanan.  Mereka tertantang untuk menghadapi kesulitan belajar; selalu ingin bisa dan pantang menyerah sebelum mencoba,tidak bergantung kepada orangtua, guru, sekolah dan sistem/aturan. Di mana pun mereka berada, mereka menjadi pribad-pribadi yang menyenangkan, berpengaruh dan bermanfaat. Merdeka Belajar bukan hanya di ruangan kelas, belajar bisa diman saja, dengan siapa saja. Peserta didik bukan bermimpi sebatas menunjuk tangan tatkala dikasih pertanyaan, namun merdeka belajar mempunyai jiwa dan cita-cita melampaui ruang kelas, mampu menjelajah dunia secara global dan menembus Aqtor (angkasa).

Konsep Merdeka Belajar itu untuk menjawab tantangan dunia yang lebih mengedepankan kreativitas, rasa ingin tahu, tahan banting, empati, berpikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, percaya diri, kerja sama, berkarakter budaya Indonesia, serta memiliki jiwa pembelajar. Konsep Merdeka Belajar ini terdorong karena keinginan mas menteri Nadiem menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani dengan pencapaian skor atau nilai tertentu.

Ada empat pokok kebijakan baru Kemendikbud RI, yaitu:
Ujian Nasional (UN) digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA. Asesmen ini akan dilaksanakan di kelas 4, 8, dan 11.
Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) diserahkan ke sekolah. Menurut Kemendikbud, sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaian, seperti portofolio, karya tulis, atau bentuk penugasan lainnya.
Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP cukup dibuat satu halaman saja. Melalui penyederhanaan administrasi, diharapkan waktu guru dalam pembuatan administrasi dapat dialihkan untuk kegiatan belajar dan peningkatan.
Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), sistem zonasi diperluas. Bagi peserta didik yang melalui jalur afirmasi dan prestasi, diberikan kesempatan yang lebih banyak dari sistem PPDB.

Merdeka Belajar menggali potensi terbesar para guru sekolah dan peserta didik  untuk berinovasi meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan yang sesuai denagn  kurikulum 2013 bertujuan mewujudkan profil para peserta didik dengan enam indikator sebagai profil peserta didik Pancasila. Pertama,bernalar kritis dalam memecahkan masalah dengan kemampuan kognitif. Kedua,kemandirian peserta didik secara independen mengekplorasi kemampuan dibidang akademik dan non- akademik. Ketiga,kreatif, berinovasi secara mandiri, dan mempunyai rasa cinta terhadap kesenian dan budaya. Keempat, gotong-royong,berkolaborasi yang merupakan softskill utama yang terpenting di masa depan bekerja secara tim. Kelima, kebhinekaan global merupakan upaya agar peserta didik mencintai keberagaman budaya, agama dan ras/etnik di negaranya serta dunia secara global. Keenam, berakhlak mulia. moralitas, spiritualitas, berbudaya dan beretika. "Sudah pasti pendidikan karakter akan menjadi salah satu pilar inti,"

Merdeka Belajar menjadi salah satu program inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia. dan suasana yang happy untuk  para guru, peserta didik, orang tua dan untuk semua orang/ masyarakat.

* Guru SMAN 1 Praya Lombok Tengah



Posting Komentar

0 Komentar