728x90

ad

"Kak Bencikak", Pendidikan Anti Hoax dan Corrupt dalam Syai’r Leluhur Orang Sasak

Dr. Jamiluddin MPd
KEMASAN hoax dan haq nyaris sama. Beda tipis, setipis kulit bawang. Kalau tidak sensitive dan cermat, maka keduanya sangat sulit dibedakan. Bila tidak cermat, siapa pun bisa terkecoh dengan modus operandinya. Jika tidak sensitif, siapa pun dapat tertipu oleh siapa pelakunya. Oleh sebab itu, be careful !

Hari ini, “hoax” sangat lazim berdandan “haq.”  Karena hoax intervention dengan desain tipu dayanya, atribut yang tetukar sangat mungkin dihadirkan. Yang hoax bisa seolah-olah menjadi haq dan yang haq dapat pula terkesan seperti hoax. Fakta dan fenomena inilah yang memudahkan “hoax” meresap ke setiap ruang, bahkan ke perangkat pikiran atau perasaan orang-orang yang mulia dan dimuliakan sekalipun.

“Hoax” sumber malapetaka. Dengan sifatnya yang memfitnah, ia menanam benih-benih pertikaian. Dengan sifat dustanya, ia menghancurkan rasa saling percaya. Dengan sifat adu dombanya, ia menabuh genderang perang dan konflik antar kelompok, suku, ras, pemeluk agama, bahkan bangsa-bangsa di belahan dunia. Dengan sifat ke-tak jujurannya, ia dengan mudah dapat membuka akses bagi para maling untuk membobol “ safe deposit box (brangkas harta) yang bukan miliknya. “Hoax” tampaknya menjadi akar terdalam dari kejahatan dan konflik yang extra ordinary.

Hoax and Corrupts are inseparable behaviors. Di negara kita, hoax adalah sisi lain yang tak terpisahkan dengan corrupt. Hoax dengan kelicikannya memainkan peran ketidak-jujuran untuk memberi umpan tarik kepada pelaku corrupt. Umpan-umpan cermat hoax tersebut tidak disia-siakan. Para koruptor dengan lihai menyundul atau menyepak untuk meng-ekskusi. Pembobolan pun mulus tak terbendung. Koruptor mengulum senyum dengan puas, sementara pemilik brangkas menangis sedih dan terpaksa menelan pil pahit karena dibodohi zig-zag para pemain hoax dan corrupt.

Rekayasa kebijakan anggaran, pemetaan proyek, mark up, proses tender proyek, formalitas controlling, gratifikasi, permainan administrasi, penindakan yang syarat serba-serbi scenario,  adalah contoh-contoh hoax yang memperlebar jalan bagi praktek corrupt. Tidak sekedar itu, hoax pun bak ritual yang harus dirayakan. Beberapa media tak ragu mengemasnya sebagai headline sehingga seolah-olah menjadi sesuatu yang haq. Menurut pemberitaan Republika online, sampai tahun 2020, Keminfo mencatat 800.000 situs penyebar konten hoax di Indonesia. Bayangkan jika semua situs itu dalam satu minggu menyebar satu saja konten hoax. Indonesia tidak lagi berharap menjadi “baldatun toyyibatun warobbun ghafur” karena lebih separuh waktunya menghadapi “bala’ fitnah yang menggempur.”   

Hipotesis yang tak terbantahkan jika dinyatakan hoax yang massif menghadirkan corrupt yang meluas dan menghawatirkan. Kompas com- mengabarkan bahwa Transparency International Indonesia (TII) telah merilis Data Indeks Persepsi Korupsi ( Corruption Perception Index) . Dalam rilis tersebut dinyatakan bahwa Indonesia pada tahun 2019 menduduki posisi ranking 85 dari 180 negara dan teritori. Sementara pada tahun 2020, Indonesia mengantongi skor 38-40 point. Jika skor 0 menunjukkan Negara yang paling corrupt dan 100 adalah Negara yang paling bersih, maka Indonesia sampai hari ini masih berada di area Negara-negara dan teritori yang corrupt. Maknanya, Indonesia harus lebih serius lagi berperang melawan hoax dan corrupt.

Memerangi hoax dan corrupt bukan saja menyelematkan Negara dan bangsa. Berperang untuk menumpas hoax dan corrupt adalah menapaki syara’. Alloh SWT berfirman dalam QS. Al-Muthofifin Ayat 1-6, “Celakalah orang-orang yang curang atau orang yang mengurangi takaran. Mereka adalah orang-orang yang apabila menerima barang dengan takaran orang lain akan meminta agar dipenuhi secara maksimal. Sedangkan bila memberikan barang kepada orang lain dengan takaran mereka, takaran akan dikurangi. Tidakkah mereka mengira bahwa sesungguhnya Alloh akan membangkitkan mereka pada suatu hari yang luar biasa. Ketahuilah bahwa saat-saat yang luar biasa tersebut manusia berdiri di hadapan Tuhan Semesta Alam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pada QS. al-Baqaah Ayat 188, Alloh menegaskan, “ Janganlah kalian mendapatkan harta yang bersumber dari sekitar kalian dengan cara yang batil juga memperkarakan harta yang batil tersebut di hadapan hakim yang menyebabkan kalian dapat menikmati harta orang lain dengan cara yang kotor, sementara kalian mengetahu. Sementara itu, dalam al-Mukmin Ayat 28, Alloh Ta’ala menegaskan: “Sesungguhnya Alloh tidak memberikan petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan suka berdusta.

Membaca ayat-ayat dalam Firman Alloh SWT di atas, maka hoax dan corrupt adalah dua pekerjaan yang akan mengantar pelakunya berkelindan pada jalan yang sesat lagi menyesatkan. Ketika manusia dalam kesesatan, maka ia sangat mungkin mengambil alternative yang sangat beresiko, baik yang mengancam keselamatan dirinya maupun orang lain. Perilaku orang-orang sesat sebagaimana dijelaskan di atas dipastikan akan menjadi refrence, terutama bagi orang yang mengalami rekam jejak yang penuh dengan hoax dan corrupt. Saat menjadi refrence inilah pelaku  hoax dan corrupt bertindak selaku orang-orang yang menyesatkan.

Kalau tidak karena sangat strategis, mungkin Alloh tidak  sedemikian tegasnya memberikan peringatan tentang dampak extreme hoax dan corrupt.  Hal ini direspon serius secara universal. Tidak terkecuali Bangsa Sasak, jauh sebelum UU anti Korupsi dan ITE, mereka sejak dini membangun nalar bangsanya agar mengatakan “tidak!” untuk hoax dan corrupt. Salah satu cara yang ditempuh adalah memberikan pendidikan anti hoax dan corrupt melalui sya’ir atau lelakak para leluhur. Salah satu contoh sya’ir lelakak itu adalah “Kak Bencikak,” sebagaimana berikut ini:
Ega-ega majid lampak 3x
Klinjik kelanjak
Kemberas lek boun batu
Kungingik kungangak
Ne kembelas gitak aku
Kak bencikak
Sai lekak ie melak
Ha… ha… ha… ha….

Makna yang terungkap setelah membaca sya’ir ini adalah: Ega-ega majid lampak, yang berarti: lihatlah maling-maling yang berjalan kaku dan menakutkan. Kalimat ini dapat dimaknai sebagai penggambaran tentang karakter para maling atau koruptor yang kehilangan petunjuk dalam hidupnya. Mereka kasar dan sangat tidak tekendali. Tujuan harus tercapai, tidak peduli cara memperosesnya. Satu-satunya kepentingan mereka berhasil menipu daya dan mencuri harta pihak lain.

Klinjik kelanjak, berarti berjalan hati-hati dengan berjinjit dan sesekali melompat. Frase ini menggambarkan strategi dan siasat licik yang digunakan oleh para maling. Kemasan-kemasan praktek merampas milik orang lain, temasuk Negara, dibuat serapi dan secermat mungkin. Dengan kemasan yang nyaris menyerupai perbuatan haq, banyak para pihak tertipu daya dan ujungnya menjadi korban pembobolan para maling.

Kemberas lek boun batu, berarti gentong berisi beras atau bahan makanan pokok di atas batu. Kalimat ini memiliki makna yang menjelaskan tentang target modus operandi maling dan koruptor. Target mereka adalah harta perorangan, organisasi, dan Negara. Sisi kenekatan dan kesesatan para maling atau koruptor membangun ketakperdulian terhadap factor kesulitan maupun akibat terburuk yang akan menjadi buah dari perbuatan jahat mereka.

Kungingik kungangak, Ne kembelas gitak aku, berarti aku akan tertawa lebar memperlihatkan taringku yang seram agar kamu para maling dan koruptor takut dan lari terbirit-birit. Dalam rangkaian kalimat ini ditemukan makna yang luar biasa. Kalimat ini menegaskan bahwa setiap perbuatan jahat, maling, korupsi, dan dusta dilihat dan dicatat oleh kekuatan gaib Yang Maha Sempurna. Pada saatnya nanti, semua catatan kejahatan itu akan dibawa ke siding pengadilan yang Maha Adil untuk diberikan balasan dengan siksaan yang sangat pedih.

Kak bencikak, Sai lekak ie melak, Ha… ha… ha… ha….yang artinya, teriakan yang sangat lantang untuk memberikan efek takut yang luar biasa. Selanjutnya teriakan itu pun penuh energy untuk memastikan bahwa pendusta adalah maling atau koruptor. Penegasan dan teriakan tersebut kemudian ditutup dengan lengkingan tawa yang membuat bulu roma setiap orang berdiri dan menghadirkan rasa takut yang tak terbayangkan.

Sya’ir lelakak leluhur bangsa Sasak ini menjadi dongeng pengantar tidur bagi generasi-generasi mereka di masa yang lalu. Seolah menjadi rukun tidur malam. Hal ini dilakukan untuk menanamkan kepada anak-anak Sasak, bahwa hoax dan corrupt atau dusta dan maling adalah haram dan mengancam kelangsungan ketahanan hidup diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara. Bagi penulis, ini adalah pendidikan karakter yang luar biasa. Mari kita lestarikan, moga bermanfaat. Wallohu’alamu.

*Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW. Dosen IAIH NW Pancor, dan tenaga pendidik di SMA NW Pancor.

Posting Komentar

0 Komentar