728x90

ad

Jejak Purba di Pesisir Selatan Pulau Lombok Bernama Semeti

BATUAN PURBA: Bebatuan yang mengitari Pantai Semeti diduga berasal dari magma gunung berapi purba. (Foto: Istimewa)

PRAYA--Sepanjang pesisir selatan Pulau Lombok, Tuhan anugerahkan pantai-pantai dengan keindahan surgawi. Mulai dari Bangko-Bangko di Lombok Barat, hingga di Pantai Pink Lombok Timur. Semua gugusan pantai itu sanggup membuat mata siapa saja takjub.

Dari banyak gugusan pantai itu, ada satu yang tak lazim. Ia berbeda dibanding pantai-pantai lainnya. Jika sebagian besar pantai di wilayah pesisir selatan Lombok terkenal karena berpasir putih, maka pantai yang satu ini terkenal karena struktur bebatuan di sekelilingnya. Pantai Semeti namanya.

Pantai yang berada di antara Selong Belanak dan Mawi di Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah ini menyuguhkan keindahan dalam versi lain. Menapaki sekeliling pantai ini sanggup membawa berpasangan-pasang mata yang menyaksikannya seolah berpetualang menerobos ke dalam dimensi waktu 20 juta tahun lalu. Sebuah masa dimana peradaban di Pulau Lombok belum ada.

Jangankan peradaban, umur pulau yang karib disebut Seribu Masjid inipun barangkali belum terbentuk. Setidaknya pada rentang masa 20 juta tahun yang lalu itu merupakan masa purbakala.

Ya. Di rentang masa itu dalam babakan geologi disebut masa Oligosen. Suatu kala pada skala waktu geologi yang berlangsung ditandai dengan kepunahan massal. Masa itu ditandai pula dengan minimnya mamalia.

Kepunahan massal pada masa itu, konon akibat tumbukan benda luar angkasa. Tumbukan inilah yang menyebabkan kepunahan.

Tidak berlebihan memberi deskripsi demikian. Ini karena pemandangan di pantai itu menghamparkan bebatuan andesit berwarna hitam kelabu. Jenis batuan yang susun menyusun di pantai ini besar dugaan merupakan bekas lava gunung berapi masa purba.

Batuan andesit sendiri diambil dari nama Pegunungan Andes. Sebuah gunung dengan gugus terpanjang di dunia yang membentang sepanjang pantai barat Amerika Selatan. Dengan panjang 7000 kilometer, pegunungan ini melewati negara-negara macam Bolivia, Chile, Brazil, Colombia dan beberapa negara lainnya.
Geolog menyimpulkan, andesit lazim ditemukan di lingkungan subduksi tektonik wilayah perbatasan lautan. Atau jika tidak, andesit umumnya ditemukan di daerah-daerah dengan aktivitas vulkanik yang tinggi.

Penegasan ihwal latar belakang purbakala pada jenis andesit ini ada pada formasinya. Bukit-bukit batu yang mengitari Pantai Semeti oleh para geolog menyebutnya sebagai rekahan meniang atau kekar tiang. Formasi rekahan ini lazim berasal dari masa Oligosen akhir hingga Miosen awal.

Geolog kenamaan, Spry A.H (1962) misalnya. Kekar tiang menurutnya ditandai dengan penampakan batuan yang vesikuler atau banyak rongga. Kondisi ini terjadi akibat lepasnya gas ke udara. Dari rongga itu pula diketahui bahwa jenis batuan yang ada merupakan magma.

Dugaan sementara, gunung api berada tidak jauh di sekitar perairan dangkal pantai itu. Aliran lavanya diduga pula mengalir menuju daratan.

Dalam laman Geopark Rinjani, keberadaan gunung api ini masih membutuhkan penelitian lanjutan. Mengingat sejauh ini belum ditemukan kemungkinan adanya gunung api di sekitar tempat itu.

Yang pasti, jenis bebatuan andesit kekar tiang di Pantai Semeti merupakan satu-satunya di Pulau Lombok. Sementara di Indonesia, hanya beberapa daerah saja yang memilikinya. Di antaranya yakni, Situs Megalitikum Gunung Parang di Cianjur dan ada juga di Kebumen, Jawa Tengah.

Di belahan dunia lain, andesit rekahan tiang seolah menjadi berkah. Tidak saja sebagai jejak purba, tapi juga sebagai situs destinasi wisata berbasis geologi.

Di Irlandia Utara, masyarakat setempat begitu bangga menjadikan The Giant Causeway sebagai obyek wisata nasional. Obyek destinasi ini merupakan rekahan tiang yang formasinya tidak jauh berbeda dengan bebatuan di Pantai Semeti.

Kebanggaan serupa juga diagungkan masyarakat Amerika dengan Devil's Tower milik mereka. Andesit rekahan tiang yang mereka miliki ini justru tersohor lantaran dibumbui keberadaan legenda beruang raksasa.

Batuan rekahan tiang lazim juga disebut struktur sarang laba-laba. Dalam formasi paling sempurna, rekahan tersebut bisa membentuk kolom-kolom persegi. Puncak kesempurnaan kolom itu bila membentuk 6 persegi.

Dari banyak kekar tiang yang ada, umumnya membentuk kolom 3, 4, hingga 5 persegi.

Salah seorang pejabat teras lingkup Pemprov NTB, Chairul Mahsul dalam laman Facebook-nya 20 April 2018 lalu menulis keberadaan Pantai Semeti. Dalam salah satu penggalan kalimatnya mengatakan, batuan andesit rekahan tiang di pantai itu sangat berharga dan harus dilindungi.

"Kedepan batuan ini harus masuk situs dan menjadi destinasi pariwisata berbasis geologi," tulisnya.
Tentang keberadaan Pantai Semeti, tidak sedikit yang dibuat penasaran. Tak heran jika traveller kalangan millenial sempat memburu pantai ini sebagai obyek berswafoto.

Hasrat menjadikan pantai ini sebagai latar belakang foto sangat dimaklumi. Tidak saja karena keindahannya, tapi juga karen adanya unsur magis purbakala yang terkesan aneh.

Untuk bisa sampai ke pantai ini, pengunjung membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Mataram. Sementara dari Bandara Internasional Abdul Madjid (BIZAM), membutuhkan waktu tempuh sekitar setengah jam saja. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar