728x90

ad

"Tiang Panoang", Sisi Romantika Klasik Perempuan Petani Sasak

Oleh: Dr. Jamiluddin M.Pd
The sun rises in the east. Sebuah Maha Karya yang mempesona. Ditakdirkan menjadi penanda agar kelelawar si petualang malam pulang ke peraduan.  Semakin menjadi wow, ketika penanda tersebut diikuti gugusan nebula tipis yang melayang rendah. Menjauh rapi dituntun hembusan bayu.  Seolah bermurah hati memberi bentang  biru leluasa mempertontonkan indahnya. Suasana cerah membiru sesekali mengundang kenari, kutilang, dan burung-burung kecil bernyanyi merdu. Bangau putih pun satu persatu mulai tergoda mendarat sempurna di pematang sawah yang mulai menghijau. Serangga dan beberapa ekor kodok tak kalah kreatif. Mereka kompak mengisi peran masing-masing. Dewi Sri semakin memperteduh alam pagi persawahan. Seolah menyemangati kerja tiada henti para petani. Sungguh merupakan ayat-ayat kauniyah Alloh Ta’ala yang menyajikan menu-menu hikmah bagi hamba-Nya yang berpikir. Hal yang demikian dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah Ayat 164: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia, segala bentuk yang diturunkan oleh  Alloh dari langit, termasuk air yang dengannya dihidupkannya bumi setelah mengalami kekeringan, penciptaan dan penyebaran segala jenis hewan di bumi, hembusan angin maupun awan yang dikendalikan di antara langit dan bumi, merupakan sesuatu yang di dalamnya tedapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Alloh bagi orang yang berpikir.

Penggambaran suasana alam persawahan klasik yang indah di atas, bak sayur yang terasa hambar. Mesti dibubuhi garam dengan adukan yang merata. kata Franky Sahilatua, “Adalah “lenggang lenggok gadis kebaya yang patut dihadirkan untuk mencukupkan cita rasa hingga lezat berasa. Penulis sama-sekali tak berdebat soal tawaran bang Franky, karena artikel ini pun sesungguhnya focus membedah soal-soal yang senada, yaitu: kisah klasik romantika klasik perempuan petani Sasak.

Para perempuan petani Sasak patuh menjalani ritual kebaktiannya dalam keluaga. Selain mengurus rumah, merawat bije-jari (putera-puteri), perempuan Sasak pun menumbuhkan dan merawat hubungan asmara dengan pasangan mereka. Uniknya, para perempuan Sasak merawat hubungan asmara dengan sangat sederhana. Tidak hanya berusaha tampil menarik, tetapi sebagai sebini’an (isteri), perempuan Sasak selalu turut serta ke sawah atau ladang mensupport pasangan, terutama dalam mengolah sawah. Ada yang khas dalam kesertaan perempuan Sasak membantu pasangan mereka. Umumnya perempuan Sasak berangkat ke sawah atau ladang  beberapa jam setelah keberangkatan suami-suami mereka. Ketika suami-suami mereka berangkat lebih awal, Perempuan Sasak melepas dengan ungkapan yang sudah mentradisi. Ungkapan tersebut adalah: “ Kakak, silak plinggih Pano juluan, bareh Tiang Panoang.” (silahkan kakak ke sawah duluan, nanti saya susul).

Ungkapan perempuan Sasak di atas seolah memiliki energy spiritual-magic yang kuat. Setiap kali diungkapkan, senyum semringah suami-suami mereka memancar penuh hasrat. Langkah-langkah kaki menjadi tegap dan sigap. Otot-otot lengan mereka pun tiada mengenal linu mengendalikan energy yang tersalur ke tangan dan perangkat kerja bertani, seperti cangkul, parang dan sabit. What behind that expression?

Pertanyaan “ada apa di balik ungkapan Tiang Panoang” tersebut, menuntun penulis berpetualang menelusur setiap kemungkinan yang dapat memberikan kepastian. Dengan upaya yang tidak main-main, penulis akhirnya menemukan beberapa isyarat berupa informasi pengguna kata yang berkaitan dengan  frase “Tiang Panoang”. Misalnya saja: Pertama, penulis menemukan kata Pano atau Vano di kalangan bangsa Skandinavia dam Portugis, Kedua, kata van dalam istilah teknologi outomotive. Ketiga, kata mano dan pano dalam Bahasa Sanskerta, dan Keempat, kata “mappano” pada istilah adat masyarakat Bulisu Kecamatan Batulappa Sulawesi.

Penulis mengambil kata-kata dari pelbagai pengguna di atas karena frasa “ Tiang Panoang”  memiliki variasi dalam Bahasa Sasak. Variasi-variasi tersebut antara lain: Pano-Panoang dan Mano-Manoang. Kedua variasi ini kerap kali digunakan oleh pengguna Bahasa Sasak, khususnya di kalangan keluarga petani tempo dulu, bahkan di beberapa dusun, masih terdengar sampai sekarang, walaupun sudah sangat jarang.

Kata “pano” dalam Bahasa Portugis searti dengan kain dalam Bahasa Indonesia. Sementara dalam Bahasa Sasak semakna dengan kereng, lempot, bendang, atau dodot. Secara umum, kereng, lempot, bendang, atau dodot, dapat disebut pakaian, atau dalam Bahasa Sasak disebut dengan frasa “kereng kelambi”. Dapat dipastikan. “kereng kelambi” yang dimaksud adalah pakaian adat Sasak, yaitu Lambung dan dodot.

Dalam Bahasa Skandinavia “pano” berarti suatu tempat subur yang disekitarnya terdapat alian air yang jernh. Dapat pula dimaknai bahwa yang dimaksud dengan “pano” dalam Bahasa Skandinavia adalah areal persawahan dengan ketersediaan sumber mata air hingga menjadi gembur dan subur.  Sementara itu, “van” dalam dunia teknologi automotive diartikan sebagai sebuah kendaraan bermesin dengan empat roda, body berbentuk kotak, dan berukuran lebih besar dengan fungsi utama mengangkut barang dan penumpang di pedesaan. Dalam hal ini, “vano” masih berkenaan dengan pedesaan yang tentu didominasi oleh areal persawahan.

Bedasarkan tiga makna kata “pano” di atas, dapat diyakini bahwa “panoang”  dalam Bahasa Sasak berarti perempuan Sasak yang pergi ke sawah, kebun, atau ladang dengan mengenakan pakaian adat Lambung, yang bila jarak tempuh cukup jauh, perempuan Sasak itu menumpangi Cikar (alat transfortasi tadisional sasak). Biasanya, perempuan ber-Lambung, tampil cantik dan memikat. Adalah wajar bila para petani yang mendengar istrinya mengungkapkan frasa “Tiang Panoang”, dipastikan akan berubah menjadi lebih bergairah dan bersemangat berangkat bekerja ke   sawah, kebun, atau ladang.

Sementara itu kata “mano” dalam Bahasa Sanskerta bermakna rotan. Dalam konteks Bahasa Sasak makna kata ini dipahami sebagai segala bentuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari rotan, seperti bakul, piring, dan alat saji linnya. Dengan demikian maka, “panoang” selain bermakna sebagaimana uraian sebelumnya, juga berarti perempuan berdandan Lambung menuju sawah, kebun, atau ladang dengan membawa sesuatu menggunakan alat yang terbuat dari rotan.

Dalam tradisi masyarakat Bulisu Kecamatan Batulappa Sulawesi kata “pano/panoang” sangat mirip dengan ritual mappano. Pada jurnal “Maiyyah” volume II bulan Januari 2018, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, Marni dalam penelitiannya tentang “ Nilai Budaya Mappano Dalam Pelaksanaan Aqiqah Masyarakat Bulisu Kecamatan Bayulappa”, menjelaskan bahwa mappano  adalah sebuah ritual yang diselenggarakan oleh msyarakat Bulisu Kecamatan Batulappa Sulawesi setelah pelaksanaan aqiqah dan atau tasyakkuran lainnya dengan membawa bulosaji (sajian) makanan beraneka-rupa yang terbuat dari bahan makanan pokok setempat ke sungai setelah dibacakan mantra oleh dukun (sanro) sebagai persembahan kepada “ruh” dan kekuatan ghaib lainnya.

Ada kemungkinan tradisi “mappano” masyarakat Bulisu Kecamatan Batulappa Sulawesi pernah dibawa ke Lombok oleh orang-orang Sulawesi yang terkenal sebagai pelaut ulung dengan kapal-kapal bercadiknya. Tidak menutup kemungkinan pula, tradisi ini dibawa oleh lasykar Kesultanan Gowa-Talo yang singgah di Lombok ketika bertugas meronda laut untuk mengawasi pelayaran dagang VOC dari Maluku ke Batavia. Orang-orang Sulawesi yang singgah di Lombok tentu melewati proses akulturasi atau pun asimilasi sehingga transformasi tradisi “mappano” ke masyarakat Lombok pun tak dapat dielakkan. Namun demikian, dalam suatu akulturasi, sebuah budaya dan tradisi tidak mungkin secara total mendapat penerimaan. Dipastikan ada yang disesuaikan. Seperti tradisi “mappano” tidak be hundred percent sama implementasinya pada masyarakat Sasak. Akulturasi “mappano” lebih ke model “salad bowl” ketimbang “melting pot”.

“Mappano” dalam wujud tradisi masyarakat Sasak yang disebut “panoang atau pano” berarti cara perempuan Sasak menunjukkan perhatian kepada suami-suami mereka dengan: 1). Tetap merawat penampilan diri, baik dengan kebersihan badan dan kepatutan dalam berpakaian. 2). Rajin mengurus suami yang bekerja keras mengolah sawah, kebun, atau ladang dengan membawakan makanan dan minuman sesuai selera suami-suami mereka. Tidak sekedar itu, tetapi menemani suami menikmati sajian makanan dan minuman di alam sawah yang indah. 3. Tetap sabar dan berusaha selalu ada untuk suami-suami mereka.

Dari sisi romantisme, ikhtiyar perempuan Sasak klasik melaksanakan tradisi panoang atau pano, menunjukkan bahwa perempuan Sasak klasik adalah mahkluk seksi yang tak kan menyerah mencari dan merawat cinta. Perempuan Sasak klasik  adalah pemburu cinta (love hunter). Dan tatkala cinta itu dimiliki, maka perempuan Sasak klasik akan memperjuangkan lebih dari selamanya. Pantas saja, suami-suami mereka tak mampu membagi “cintanya” untuk perempuan-perempuan lain. Buktinya, angka perceraian pada kehidupan orang-orang Sasak tempo dulu nyaris nol percent.  Kisah kutural ini tidak berarti hanya memberi pengakuan terhadap kepiawaian perempuan Sasak klasik memperjuangan cintanya, tetapi sekaligus mendeskripsikan keberterimaan dan kearifan kaum laki Sasak klasik menghargai perjuangan cinta istri mereka.  Wallohu ‘alamu.

*Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW. Dosen IAIH NW Pancor dan Tenaga pendidik Di SMA NW Pancor

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Tetap menginspirasi Ustdzuna...

    BalasHapus
  2. Tulisan ini menggambarkan kehidupan keluarga sasak yang murni,apa adanya sejujur pribadi mereka yang taat padabpenciptanya

    BalasHapus
  3. Tulisan yang sangat bermanfaat.
    Dapat tambahan pengetahuan. Trimakasih ustazd

    BalasHapus
  4. Mantap pak Doktor, tulisannya enak dibaca...

    BalasHapus