728x90

ad

NTB Dilirik Jadi Model Kesetaraan Gender Nasional

BANGGA: Provinsi NTB harus bangga dengan banyaknya hadir tokoh perempuan berkiprah di sektor publik.
MATARAM--Memiliki wakil gubernur perempuan membuat Provinsi NTB disebut sebagai contoh daerah dengan kesetaraan gender yang baik.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Ir. Agustina Erni MSc saat membuka acara webinar WIE IEEE Women in Leadership mengatakan, NTB akan memjadi model bagaimana perempuan diberikan peran tak hanya di ranah domestik. Namun juga di berbagai bidang termasuk pemerintahan.

Webinar yang diikuti 549 peserta se-Indonesia menyebut NTB sebagai model yang tepat. Ini mengingat cukup banyak pejabat publik dan kepala daerah perempuan yang tampil di ranah publik.

"Itulah kenapa kita mau jadikan NTB sebagai model," ucapnya, Senin (22/6).

Terhadap Webinar itu, Wagub NTB Sitti Rohmi Djalilah menyambut baik. Ia menceritakan bagaimana perempuan di NTB sudah masuk ke berbagai bidang profesi. Tak hanya di bidang pemerintahan, tapi juga di bidang engineering dan sains.

Data terakhir Penduduk Usia Kerja, Angkatan Kerja dan TPAK menurut jenis kelamin, di NTB pada tahun 2018 menunjukan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan. Pada tahun itu sebesar 54,25 persen. Angka ini, memang lebih rendah bila dibandingkan dengan TPAK penduduk laki-laki sebesar 78,83 persen.

Dalam rilis BPS Statistik Gender NTB 2018 menyebutkan ini wajar terjadi. Mengingat penduduk laki-laki umumnya menjadi tulang punggung keluarga (bread winner) dalam sistem patriarkal. Namun data TPAK perempuan sebesar 54,25 persen menunjukan perempuan sudah banyak yang terjun di bidang profesi.

Masuknya perempuan di ranah profesional, dikatakan sudah cukup diterima oleh masyarakat. Meskipun masih menyisakan PR stigma negatif di kalangan masyarakat. Namun biasanya perempuan yang sudah terjun ke dalam dunia profesi tak akan terganggu dengan stigma negatif tersebut.

Perempuan-perempuan tersebut, lanjutnya,  akan membuktikan bahwa mereka mampu membagi peran antara keluarga dan jabatan. Sehingga dengan bukti nyata tersebut lama-lama akan mengikis stigma negative yang ada.

“Saya tidak terlalu terganggu dengan stigma perempuan yang sering diremehkan, karena memulai dari dunia professional. Kita bisa menunjukan kepada masyarakat melalui aksi nyata,” kata Wagub.

Rohmi yang juga merupakan alumni  Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mengaku, latar belakang pendidikan engineering yang dimilikinya sangat bermanfaat pada setiap jenjang kariernya. Ditambah perannya sebagai perempuan dalam rumah tangga yang menuntutnya untuk selalu disiplin dan multitasking.

Hal tersebutlah yang mengantarkannya mendapatkan berbagai capaian yang dimilikinya sekarang. Karena itu, ia berharap dapat menginspirasi perempuan-perempuan yang lain.

“Menjadi perempuan adalah kelebihan bagi saya. Membuat saya bisa mengambil banyak opportunity di bidang-bidang yang lain,” tandasnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar