728x90

ad

Hanya di Pal Jepang, Getir dan Puas Berpendar

TERBAYAR: Lelah selama pendakian menuju puncak Bukit Pal Jepang terbayar lunas dengan keindahan yang disajikan bukit ini.

SELONG
--Pernah mendengar nama Bukit Pal Jepang? Bukit yang satu ini berada di bagian sebelah timur Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur.

Menapaki bukit ini terasa sangat istimewa. Betapa tidak,  dua rasa berpadu antara getir dan bahagia bisa disesap sekaligus.

Ihwal ditemukan bukit ini tidak lepas dari jasa para pencari kayu dan madu hutan. Mereka lah yang menemukan sejumlah pal masih tertanam utuh di bukit ini.

"Itulah kenapa bukit ini dinamakan Pal Jepang. Karena ada beberapa pal yang ditemukan di atas sana," tutur Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sapit, Jannatun Firdaus, belum lama ini.

Oleh para pencari kayu dan madu ini, terangnya, Bukit Pal Jepang ditemukan sekitar tahun 1990-an. Setelah diusut-usut, belakangan diketahui bahwa pal-pal di bukit itu rupanya dibangun sekitar tahun 1940. Lima tahun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya.

Bilangan tahun pembangunan pal ini, jelasnya, terkonfirmasi dari penuturan orang-orang tua di tempat itu. Dari para tetua banyak pula diungkap tentang kepedihan masa itu.

Getir terasa merambati sekujur tubuh saat mengetahui bahwa bukit ini menjadi bagian dari saksi sejarah masa lalu. Di tempat ini terdapat sejumlah pos pengintaian serdadu Jepang di masa kolonialisme tempo dulu.

Sebagai anak bangsa yang tak sudi negerinya dijajah, di bukit ini pula bisa disaksikan keangkuhan Dae Nippon.

Membayangkan negara yang menyebut diri sebagai "Saudara Tua" itu rupanya hanya menyisakan luka mendalam. Penindasan atas hak hidup, perampasan hasil bumi, pemerkosaan, dan sederet aksi keji yang tak bisa ditoleransi oleh rasa kemanusiaan menyeruak menjadi gumpalan rutukan.

Pal yang secara etimologi berarti tapal batas ini dilengkapi pula dengan 6 pos pengintaian di bukit tersebut. Pal-pal yang ada tersebar di berbagai tempat dan terbuat dari beton.

Di puncak bukit dengan ketinggian 2.300 MDPL ini juga ditemukan bekas alat penyadap. Dari alat ini konon berfungsi mengintai gerakan musuh. Bangunan pengintaian inilah yang disebut warga setempat sebagai pal.

Sisa puing bangunan tersebut sudah lama ditemukan warga sekitar. Hingga saat ini kepingan-kepingan puing bangunan tersebut masih dapat ditemukan di puncak bukit tersebut.

Kendati penuh dengan bercak sejarah, keindahan bukit ini rupanya mampu mengubur kenangan kelam itu. Buktinya, bukit ini belakangan menjadi sasaran pendakian bagi traveler penghobi gunung.

Untuk bisa sampai di bukit ini sangatlah mudah. Ini karena dukungan infrastruktur yang tersedia di tempat tersebut.

Pengunjung bisa menapaki bukit ini setelah sebelumnya masuk melalui depan halaman Langgar Pusaka Desa Sapit. Untuk sampai ke kaki bukit Pal Jepang, wisatawan bisa menggunakan sepeda motor sampai dengan kaki bukit. 

Namun, bagi wisatawan yang ingin berjalan kaki sampai di kaki bukit juga bisa. Lagi-lagi karena infrastruktur pendukungnya sudah memadai.
Untuk sampai puncak, Pal Jepang bisa ditempuh dalam kurun waktu 4-5 jam perjalanan. Sebelum sampai ke atas bukit, di ketinggian 1.730 MDPL wisatawan bisa berswafoto di hamparan ilalang sembari menikmati suasana berkabut. 

Berada di ketinggian itu, bebernya, pengunjung seumpama sedang menemukan diri menikmati istana di atas awan. Belum lagi di waktu pagi, paparan sinar matahari dan kabut tipis menjadi magis tersendiri di stop point tersebut.

Hanya saja, keindahan bukit ini belum lengkap rasanya jika perjalanan tidak dilanjutkan ke puncak. Di sana terdapat tanah lapang dan pohon kayu yang berjejer rapi. 

Di  tempati ini cocok untuk memasang hammock. Tak jauh dari situ, ada aliran mata air yang dijadikan tempat mengambil air minum ataupun sekedar untuk membilas diri.

Sementara itu, salah seorang pemandu wisata, Didik Kurniawan menuturkan, sudah ada berapa tamu ia bawa ke bukit Pal Jepang. Di tempat tersebut selain sangat indah, juga alami. 

Pengunjung dipastikan akan sangat betah berada di atas, terutama di padang ilalang di ketinggian 1.730 MDPL. Di tempat itu, tamu biasanya istirahat sembari berswafoto.

"Sepulang dari Pal Jepang, tamu biasanya menikmati kopi Sapit. Tapi sekarang tamu sepi, sejak oandemi Corona," jelasnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar