728x90

ad

DEDEBUL BEBEAK SASAK

(Menelusur Tradisi Pendidikan Informal Orang Sasak)


Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd


Cukup lama narasi-narasi hoax memfungsikan kabin memori orang Sasak sebagai recycle bin. Dalam kaedah Al-jinsiyah Al-tsaqafiyah, praktek ini merupakan sebuah kezaliman sekaligus extraordinary crime. Betapa tidak, Siklus masa naïf Orang Sasak yang mestinya difasilitasi  agar segera beringsut ke siklus kritis, secara tidak manusiawi dipasung dalam kesesatan. Bukan sekedar itu, otak dan emosi telah dibentuk sedemikian rupa hingga seseorang merasa malu, benci, dan tidak sedikit yang rendah diri sebagai Orang Sasak.

“Bodoh orang Sasak, jual sawo murah-murah” adalah salah satu narasi yang sejak dini telah mengisi rak-rak memory Orang Sasak. Demikian pula tudingan yang menyebut Orang Sasak memiliki kebiasaan saling sikut atau berkompetisi secara tidak sehat. Tidak tanggung-tanggung, tudingan itu diimbuh lagi dengan sifat olah-raga tradisional “pejurakan”. Padahal, “pejurakan” sendiri tidak memiliki kesepadanan dengan kompetisi yang tidak sehat. 

Narasi-narasi yang dapat dipastikan sesat dan menyesatkan di atas sangat menyakitkan dan menyudutkan Orang Sasak. Perlakuan tidak mengenakkan ini adalah hal buruk dan dikecam oleh Alloh SWT dalam QS. An-Nur Ayat 15 yang menegaskan: “ Tatkala sebagaian kamu dengan berita bohong dari lidah ke lidah menuturkannya, sementara kamu tidak mengetahui apakah hal tersebut benar atau tidak, berarti kamu telah meremehkan perkara itu. Janganlah kamu menganggap hal tersebut remeh, karena menurut Alloh,  perkara itu adalah sesuatu yang besar dan akan kamu pertanggungjawabkan kelak.

Selain narasi-narasi di atas, banyak narasi hoax yang dengan sengaja ditebar begitu saja untuk menjegal perkembangan Orang Sasak. Salah satunya adalah “tradisi mengenakan dedebul” pada keluarga Orang Sasak, yang secara kebetulan menjadi pokok ulasan dalam artikel ini. Penulis telah berhasil mentransformasi makna inplisit “tradisi pemakaian dedebul” pada sebagaian banyak keluarga Orang Sasak, yang sebelumnya ditonjolkan sebagai praktek “rendahan”.

Penulis menemukan sesuatu yang berbanding terbalik dengan narasi “dedebul” yang dimaknai sebagai praktek “rendahan” dan mungkin sekaligus bermaksud mengerdilkan Orang Sasak. “Tradisi pemakaian dedebul” pada sebagaian banyak keluarga Orang Sasak, ternyata mengandung pesan-pesan educational atau rububiyyah dalam tradisi pendidikan informal keluarga Orang Sasak.


Dalam tradisi Sasak, “dedebul” adalah kain lusuh yang masih sering dikenakan. Karena terkontaminasi narasi hoax, tidak sedikit orang Sasak mensejajarkan “dedebul” ini dengan kata kotor, jelek, dan kata lainnya yang sepadan. Pada tulisan ini, penulis ingin menggiring para pembaca untuk mengartikan “dedebul” sebagai kain usang  yang masih dimanfaatkan. Dalam daftar kosa kata Jawa, “dedebul” setara dengan kata “menonjol” (dominan). Secara parsial, kata “dedebul”  dalam kultur Sasak-Jawa sangat kontradiktif. Lain halnya jika dua makna yang hadir pada kedua kultur yang berbeda ini didialogkan secara metodologis (dikawinkan dengan mahar dan cinta yang mekar), tentu akan sangat mungkin menghadirkan kesetaraan dan keseimbangan dalam makna.

“Dedebul” dalam tradisi bahasa Jawa yang berarti “menonjol” (dominan) secara sosiologis sepadan dengan sesuatu yang sangat lazim dan mudah diindra. Lebih akrab lagi bila disebut sebagai sesuatu yang biasa. Sifat sesuatu yang lazim dan biasa dalam perspektif “waktu”, sepadan dengan seuatu yang sudah lama terjadi (ada). Jika kita menarik makna dalam dimensi sosiologis, maka “dedebul” dalam tradisi bahasa Jawa dapat pula berarti “lusuh atau usang”. Artinya melalui dialog metodologis, “dedebul”  dalam kultur Sasak-Jawa mengandung kesetaraan atau kesepadanan makna.

Pada geguritan (tulisan) ini, kita tidak akan bedebat serius soal makna kata. Yang akan kita bedah dengan hati-hati dan seksama adalah tradisi Pendidikan Keluarga Orang Sasak. Sementara itu, kaedah “pemakaian dedebul” kita jadikan sebagai belati bedah atau teori analisanya. Bahasan ini akan sangat unik karena memiliki sifat “novelty”.  Diasumsikan sebagai “something New” atau mengantongi sifat kebaruan (novelty) karena dalam tulisan ini “dedebul”  untuk pertama kali dientas sebagai sebuah grant theory untuk mengurai pendidikan informal keluarga Orang Sasak.

Dalam tradisi Orang Sasak, “ pemakaian dedebul” memiliki cerita tersendiri, terutama bagi generasi yang lahir sebelum tahun 1975. Soal kapan mulai, rerata orang Sasak tidak mengetahuinya. Orang Sasak hanya bisa memastikan bahwa tradisi “pemakaian dedebul” ini betul-betul expos facto and active by nature (ada dan berlangsung secara alami).  Alur tradisinya sangat mengalir. Ketika bebeak (anak) Sasak hendak tidur atau bermain, inak-amak (orang tua) memberinya “dedebul” sebagai selimut (simbut) atau pakaian.


Berdasarkan pengalaman orang Sasak yang pernah menikmati masa-masa “mengesankan” itu, “dedebul” ternyata menjadi pilihan mereka. Menurut mereka, “dedebul” menghadirkan sensasi luar biasa. Sensasi hangat dan kelembutannya sungguh berasa. Jika mengenakannya saat bermain, anak-anak Sasak tidak lekas gerah. Jika mengenakannya sebagai selimut malam, anak-anak Sasak lekas pulas dan lelap dalam tidur, bahkan sering mengundang mimpi indah. Sungguh hebat dan mengagumkan.

Tradisi ini biasanya sampai bebeak (anak) Sasak bersusia 15 tahun atau setara tamat pendidikan dasar 9 tahun. Namun demikian, karena di antara mereka terlanjur nagih dengan sensasi hangat dan kelembutannya, tidak sedikit yang sulit melepas tradisi “pemakaian dedebul”. Artinya “dedebul” menjadi bagian yang memformat pilihan bebeak (anak) Sasak. Tentu bukan saja dalam pengertian tersurat, seperti selera berbusana pada saat bermain dan berbaring, tetapi juga dalam pengertian tersirat, seperti bangunan kesadaran Orang Sasak yang berkepribadian.

Ketika “dedebul” telah berhasil memikat dan menghadirkan selera yang khas, maka “dedebul” secara otomatis telah memainkan peran sebagai azas atau prinsip dalam proses sosiologis Orang Sasak. Dalam perspektif filosofis, “dedebul”  telah mensifati Orang Sasak dengan “kebiasaan bersyukur, kesetiaan, kesederhanaan, dan ikhlas menerima sesuatu apa adanya. Dengan beberapa sifat dasar sebagai intaj pembumian nilai melalui tradisi dedebul, Orang Sasak memiliki distinction. Hal inilah yang memudahkan komunitas lain mengenal sekaligus bersosialisasi dengan Orang Sasak.

Dedebul telah dengan rapi mendandani qolbu Orang Sasak. Walau menurut takaran umum, keadaan mereka memprihatinkan, dalam qolbu Orang Sasak, cenderung merasa “cukup” dengan karunia dan berkah Alloh yang mereka terima. Rasa cukup tersebut kemudian menghadirkan kebiasaan bersyukur. Habitual (kebiasaan) yang mulia itu mendorong Orang Sasak senantiasa berusaha lebih dekat dengan Alloh. Fakta ini bisa dibuktikan dengan menjamurnya pembangunan masjid hingga Lombok sebagai bumi pijak Orang sasak sangat intim dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Pembangunan ribuan masjid ini merupakan bentuk usaha mempermudah penyelenggaraan ibadah sebagai manifestasi rasa syukur kepada Alloh Ta’ala.

Tradisi “dedebul” juga telah optimal membantu membumikan kesetiaan Orang Sasak. Tidak mudah bagi Orang Sasak untuk melupakan sahabat dan kerabat, walau sahabat baru hadir lebih menjanjikan. Dedebul betul-betul mengalahkan opportunism. Orang Sasak ditradisikan untuk senantiasa merawat pertemanan, terutama dengan sahabat dan kerabat lama. Kaedah “dedebul” memastikan, semakin lama pertemanan, semakain kuat pula ikatan kesetia-kawanan.

Dedebul dengan prinsip-prinsip yang unik, telah berhasil membangun kesederhanaan Orang Sasak. Eviden-nya di depan mata. Lihat saja profesi pilihan Orang Sasak. Dominan mereka memilih jadi guru, imam, petani dan nelayan. Profesi-profesi di atas adalah profesi yang dalam pandangan birokrasi merupakan profesi yang tidak favorit. Tahun 2019-2020, ada sebelas profesi favorit, antara lain: pilot, ahli perminyakan, ahli pertambangan, menejer ekskutif, manajer Human Resources Departement, dokter spesialis, ahli teknik informatika, ahli konstruksi, pengacara, dan anggota legislative. Walau demikian, jangan salah, profesi-profesi Orang Sasak yang sederhana ini menjadi target pertarungan para fighter (petarung) di panggung politik. dengan asumsi bahwa profesi sederhana Orang Sasak merupakan mainstream kantong suara, maka tanpanya, tabuhan genderang issue dan drama politik tidak akan harmony dengan rancak tari dan lantunan syair-syair yang menjanjikan.

Selain pilihan profesi, dedebul-isme telah mewarnai kesederhanaan gaya hidup Orang Sasak. Kebutuhan pangan, sandang, dan perumahan, masih seperti tempo dulu. Beras masih menduduki tempat paling utama dalam kebutuhan pangan. Pakaian-pakaian harian, kerja, ibadah, dan seragam belum ditundukkan  oleh kebutuhan pakaian pesta dan gaun pengantin. Sementara perumahan masih sekedar untuk berteduh dan berlindung dari cuaca atau hewan liar. Perumahan mewah untuk Orang Sasak tentu menginspasi, tetapi belum menjadi alternasi.

Sikap orang Sasak yang cenderung menerima seuatu apa adanya pun merupakan produk penanaman nilai melalui falsafah “dedebul”. Sikap menerima sesuatu apa adanya menandakan menguatnya “kesabaran”. Jadi, kesabaran dan falsafah dedebul menjadi dua dimensi yang integrative dan saling interconnecting. Kesabaran adalah ‘amar atau perintah dalam dimensi “relegiusitas. Sementara itu, falsafah dedebul merupakan akumulasi ikhtiyar memastikan belajar dengan sungguh-sungguh mengamalkan kesabaran. Dalam dimensi religiusitas maupun sosiologis, kesabaran menjanjikan kebahagiaan. Integrasi dan koneksitas dimensi religious-falsafah dedebul ini menjadi menarik karena mengilustrasi bahwa Orang Sasak berazam dan berusaha memperoleh capaian “kebahagiaan”, baik di dunia maupun di akhirat. 

Sungguh, filosofi dan penanaman value melalui “pemakaian dedebul” dalam pendidikan informal, telah benar-benar membumikan sikap dan perilaku beragama dan berbudaya yang insyaalloh melangitkan kualitas Orang Sasak. Hipotesis ini sekaligus menolak pemberian cap jelek (ugle) pada tradisi pemakaian dedebul oleh keluarga Orang Sasak. Wallohu’alamu.

*Sekretaris Lajnah Kaderisasi PBNW. Dosen IAIH NW Pancor, dan Tenaga pendidik Di SMA NW Pancor.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Sederhana tapi sangat menarik.baru sadar klau kita pernah mengalami

    BalasHapus