MATARAM — Kemandirian ekonomi dan penguatan toleransi menjadi dua pesan yang mengemuka dalam kegiatan Komunitas Peduli Inklusi dan Toleransi (KoPITol) Nusa Tenggara Barat (NTB) di Mataram, Minggu (25/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Sayung Resto tersebut membahas optimalisasi UMKM, pariwisata, dan ekonomi biru untuk mendorong kemandirian ekonomi daerah. Diskusi menghadirkan Baiq Dewi Anjani dan Lalu Ahmad Rizkan, akademisi UIN Mataram, dengan Lina Komalasari sebagai moderator.
Pembahasan ekonomi menyoroti perlunya memperluas kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Baiq Dewi Anjani menekankan bahwa UMKM perlu diperkuat agar masyarakat, termasuk generasi muda dan kelompok rentan, memiliki peluang untuk tumbuh dan mandiri secara ekonomi.
Sementara itu, Lalu Ahmad Rizkan menyoroti pentingnya pengembangan potensi kelautan yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Di luar pembahasan ekonomi, kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat. Pesan tersebut diwujudkan melalui deklarasi pemuda yang memuat komitmen menjaga persatuan Indonesia serta melawan disinformasi, fitnah, dan kebencian.
Keterkaitan antara ekonomi dan kehidupan sosial menjadi salah satu perspektif dalam kegiatan tersebut. Pembangunan ekonomi membutuhkan partisipasi masyarakat, sedangkan ruang sosial yang sehat mendukung komunikasi dan kerja sama di antara kelompok yang berbeda.
Deklarasi pemuda juga menempatkan generasi muda sebagai bagian dari upaya menjaga kohesi sosial. Sikap kritis dalam menerima informasi dan tanggung jawab ketika menyebarkannya menjadi unsur penting dalam menghadapi disinformasi serta ujaran kebencian.
Melalui kegiatan tersebut, KoPITol NTB mengangkat pendekatan pembangunan yang menghubungkan pemberdayaan ekonomi dengan pemeliharaan persatuan. Pengembangan potensi lokal diharapkan berjalan seiring dengan upaya membangun masyarakat yang inklusif dan toleran.
