Empat pekan, tiga tahapan, empat kelompok penggerak. Inilah kisah
pengabdian integratif yang menjadikan Desa Gapuk, desa lingkar Kampus 3 UIN
Mataram sebagai model desa berdaya.
Lombok Barat, Ada yang berubah di Desa Gapuk. Bukan
perubahan yang riuh, melainkan yang tumbuh perlahan dari dalam: warga yang
mulai memetakan kekuatannya sendiri, keluarga yang bertekad menghentikan
perkawinan anak, dan komunitas yang belajar merawat perbedaan sebagai berkah.
Selama empat pekan terakhir, desa yang berada di lingkar Kampus 3 Universitas
Islam Negeri (UIN) Mataram ini menjelma menjadi ruang perjumpaan antara ilmu
dan kehidupan nyata.
Perjumpaan itu berlangsung melalui rangkaian Pengabdian Integratif Dosen
UIN Mataram, sebuah program yang dirancang bukan untuk “menggurui” desa,
melainkan untuk menggali dan menumbuhkan potensi yang sudah lama dimiliki
warganya. Dilaksanakan dalam tiga tahapan selama empat minggu, program ini
menempatkan Desa Gapuk bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek dan mitra
sejajar kampus.
Memetakan Kekuatan, Bukan
Kekurangan
Tahap pertama dimulai dengan pemetaan aset. Alih-alih
mendata kekurangan, tim dosen bersama warga justru memetakan kekayaan desa,
aset sosial keagamaan, budaya dan adat istiadat, aset ekonomi, literasi
digital, hingga ketahanan keluarga. Dari proses ini lahir empat kelompok
penggerak yang akan menjadi motor perubahan: Kelompok Ekonomi Keumatan,
Kelompok Literasi Digital, Kelompok Ketahanan Keluarga untuk Menghentikan
Perkawinan Anak, dan Kelompok Moderasi Beragama. Masing-masing kelompok
merumuskan rencana tindak lanjut sesuai potensi yang dimilikinya.
Dari Gagasan ke Aksi
Pada tahap kedua, keempat kelompok memasuki fase
pendampingan intensif. Di sinilah dosen berperan sebagai fasilitator, mendampingi
warga menggali lebih dalam potensi masing-masing kelompok, mematangkan gagasan,
dan menyusun langkah konkret agar rencana tidak berhenti sebatas catatan di
atas kertas.
Lima Huruf, Satu Cita-Cita
Tahap ketiga menjadi puncak sekaligus titik mula. Seluruh
kelompok merumuskan rencana tindak lanjut dan bersama-sama menginisiasi sebuah tagline
yang kelak menjadi arah pembangunan desa: “GAPUK Sejahtera”. Lebih dari
sekadar slogan, lima huruf ini merangkum seluruh cita-cita warga:
G = Gerakan Ketahanan Keluarga
Anti Pernikahan Anak
A = Amanah Moderasi Beragama
P = Penguatan Literasi Digital
U = Upaya Pemberdayaan Ekonomi
Ummat
K = Komunitas Desa
Setiap huruf mewakili satu kelompok penggerak, dan bersama-sama
membentuk satu wajah desa yang utuh: sejahtera lahir dan batin, berdaya secara
ekonomi, melek digital, teguh menjaga keluarga, dan damai dalam keberagaman.
Penutupan dan Komitmen
Kampus
Rangkaian kegiatan ditutup secara resmi dengan kehadiran Wakil Rektor
III UIN Mataram, Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I., dan Ketua Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Mataram, Prof. H. Kadri,
M.Si. Kehadiran keduanya menegaskan bahwa pengabdian di Gapuk bukan kegiatan
sesaat, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang kampus terhadap
masyarakat di sekelilingnya.
Dalam sambutannya, Prof. Jumarim menyampaikan pesan yang menggugah
tentang makna kehadiran kampus di tengah masyarakat:
Kampus
tidak boleh menjadi menara gading yang berjarak dari denyut masyarakatnya. Apa
yang kita saksikan di Gapuk adalah bukti bahwa ilmu yang sejati selalu
menemukan jalan untuk turun ke tanah, menyapa keluarga, menumbuhkan harapan.
Desa Gapuk berikut segenap masalah sosialnya terutama tantangan perkawinan
anak, sebagai lingkar kampus bukan sekadar tetangga geografis; ia adalah bagian
dari napas UIN Mataram. Ketika dosen kita mendampingi warga merumuskan gerakan
anti perkawinan anak dan merawat moderasi beragama, literasi digital dan
memperkuat kapasitas dan keterampilan ekonomi warga, di situlah sesungguhnya
Tri Dharma Perguruan Tinggi berdetak. — Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I. (Wakil Rektor III UIN Mataram)
Senada dengan itu, Prof. Kadri menekankan filosofi pemberdayaan dan pentingnya
keberlanjutan:
Kami berangkat dari
keyakinan bahwa setiap desa kaya akan asset, bukan sekadar kumpulan masalah
yang harus diselesaikan. Tugas kami bukan membawa solusi dari luar, melainkan
membantu warga menemukan kekuatan yang sudah lama mereka miliki. “GAPUK
Sejahtera” bukan proyek yang selesai dalam empat minggu. Namun benih yang kita
tanam bersama, dan yang akan terus tumbuh di tangan masyarakat sendiri. Insya
Allah, model pengabdian integratif ini akan menjadi rujukan bagi desa-desa
lingkar kampus lainnya. — Prof. H. Kadri, M.Si. (Ketua
LP2M UIN Mataram)
Empat pekan telah berlalu, tetapi bagi Desa Gapuk, ini justru baru
permulaan. Di tangan empat kelompok penggeraknya, “GAPUK Sejahtera” kini bukan
lagi sekadar harapan yang dituliskan di kertas plano dan plow chart kegiatan,
melainkan gerakan yang siap ditumbuhkan warganya sendiri, sebuah bukti bahwa
ketika kampus dan desa berjalan seiring, perubahan bukan lagi kemungkinan,
melainkan keniscayaan.
Tentang
program: Pengabdian Integratif Dosen UIN Mataram
merupakan wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mengintegrasikan
penelitian dan pengabdian berbasis aset (asset-based) di desa-desa lingkar
kampus, dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek dan mitra pembangunan.
