Jejak Terkini

Wakili Indonesia di Best Tourism Village UNWTO, Tete Batu yang Pertama Ditetapkan

JUMPA PERS: BPPD Lombok Timur menggelar konferensi pers terkait keikutsertaan Desa Tete Batu di ajang Best Tourisme Village UNWTO.

SELONG
-- Desa Tete Batu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur terpilih mewakili Indonesia pada ajang Best Tourism Village 2021. Gelaran ini diselenggarakan United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

Tete Batu menjadi desa pertama yang ditetapkan mewakili Indonesia. Sementara dua desa lainnya akan menyusul.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lombok Timur, Muhammad Nursandi menerangkan, Pulau Lombok sebenarnya telah memiliki branding, yakni The Best halal Tourism. Namun ia menyebut persoalannya siapa pihak yang konsen mengembangkan branding itu.

Hal itu disebutnya hanya sebuah gambaran. Ia mengklaim, pencapaian ini merupakan keberhasilan pengurus baru di badan promosi itu.

"Ini pencapaian kami tiga puluh hari mencari cinta. Itulah saya bahasakan kepada teman-teman BPPD," kata pria yang akrab disapa Sandi ini, pada konferensi pers, Senin (2/7).

Dirinya menyebut, perkembangan pariwisata di di Lombok Timur ini sangat pelan. Lantaran itu, pihaknya bersama dinas terkait mencari cara, salah satunya dengan teknik muncul.

Teknik satu ini, kata dia, kerap digunakan pada teori teaterikal. Menurutnya siapa yang memiliki teknik muncul yang bagus akan menjadi pemenang. Konsep inilah yang hendak diterapkan di dunia pariwisata, khususnya di Lotim. 

Bak gayung bersambut, belum tiga puluh hari rencana itu, salah satu desa wisata di Lotim terpilih mewakili Indonesia di kancah internasional.

"Ada sembilan item yang menjadi penilaian untuk memenangkan kontestasi ini," ucapnya.

Yang pertama, yakni harus memiliki sumber daya budaya dan alam. Kedua, promosi dan pelestarian sumber daya budaya. Ketiga, keberlanjutan ekonomi. 

Lalu keempat, keberlanjutan sosial. kelima, pelestarian lingkungan. Keenam, potensi dan pengembangan pariwisata terintegrasi nilai-nilai. 

Berikutnya yang ketujuh, tata kelola dan fasilitas pariwisata. Kedelapan, infrastruktur dan konektivitas, dan yang kesembilan, kesehatan, keselamatan serta keamanan.

Kesembilan item itu, kata dia, yang tengah disiapkan dalam bentuk dokumen. Baik berbentuk foto maupun narasi. 

"Per satu item itu minimal ada 300 kata, sudah kita persiapkan dengan baik dan benar," ujarnya.

Sekretaris BPPD Lotim, Yogi Birul Walid Sugandi menerangkan, terpilihnya Desa Tete Batu sebagai perwakilan tak lepas dari sejarah pariwisata desa itu. Wilayah itu termasuk lokasi wisata tertua di Lombok, bahkan sejak zaman Belanda menguasai Lombok. 

Setidaknya, kata Yogi, ada tujuh kriteria yang menjadi starting poin keinginan organisasi kelas dunia tersebut. Kriteria itu telah melalui kajian yang cukup dalam.

Yang pertama, perdamaian dunia. WTO disebutnya akan melihat hal itu dengan tajam dari tim analisis yang dimilikinya.

Tete Batu, sejauh ini telah berperan menjadi agen meminimalisir risiko konflik di wilayah pedalaman melalui pariwisata. Hal itu, disebutnya masuk ke dalam konsep perdamaian dunia.

Kedua, kesetaraan gender. Di dunia pariwisata, peranan perempuan masih minim. Hal ini terjadi hampir di seluruh wilayah NTB. Hal itu menjadi salah satu konsen yang masih dikritisi oleh dunia internasional.

Tapi tidak bagi desa wisata Tete Batu. Di lokasi itu telah berlangsung kehidupan yang harmonis. Hal itu dipandang sebagai keberhasilan desa tersebut.

Partisipasi kaum perempuan dalam konteks pariwisata telah mampu diwujudkan di tempat itu. Para perempuan telah dilibatkan mulai dari perencanaan, eksekusi, hingga pada tahap evaluasi. Hal itu disebutnya, jarang ditemukan di tanah NTB.

Ketiga, shifting paradigma dari masyarakat setempat yang memiliki tingkat inklusivitas yang cukup baik. Inklusivitas tersebut tidak lagi memandang perempuan sebelah mata dan dimarginalkan dalam sektor pariwisata.

"Dulu di bawah tahun 2014 perempuan yang bekerja di dunia pariwisata masih dipandang sebelah mata, bahkan dimarginalkan," ucapnya.

Tete Batu hadir melalui pariwisata hadir meredam isu tersebut. Desa ini sanggup menawarkan nilai universal. Ini bisa nampak dari rekam jejak di lokasi itu.

Keempat, Tete Batu menjadi pelopor desa pariwisata di daerah. Hal ini terbukti dengan tempat ini menjadi destinasi sejak penjajahan Belanda di Lombok, melalui nilai inklusivitas yang universal. 

Kelima, menyangkut ekonomi, sosial dan lingkungan. Desa ini merupakan desa yang memiliki delegitimasi mengelola hutan dan kerjasama dengan berbagai instansi. Namun demikian, daya tarik tempat itu tidak hilang.

Keenam, mempertahankan keahlian desa tersebut. Ketujuh, Tete Batu berkontribusi terhadap perubahan iklim hutan.

"Ini dasarnya biar tidak bias, kami juga selama lima tahun konsen penelitian di tempat itu," ujarnya.

Praktisi Pariwisata NTB, Taufan Rahmadi mengatakan, dulu pada tahun bumi berjuluk seribu masjid ini terpilih mewakili Indonesia pada bidang kepariwisataan.

Hal itu terjadi pada saat pemerintahan Presiden Soeharto dan gubernur NTB pada waktu itu ialah Gatot Suherman. Dari sanalah gelar Gumi Gora pertama kali disematkan.

Saat ini, sejarah itu kembali terulang. Sekarang Tete Batu menjadi wakil dan akan dilihat hasilnya pada 12 Oktober 2021 mendatang.

Dari 75 ribu desa di indonesia, hanya tiga yang akan mewakili di ajang internasional itu. Tete Batu telah menjadi salah satu wakil yang sudah ditetapkan

"Tete Batu masuk ke dalam prioritas A oleh kementrian," ucapnya.

Sementara itu Sekda Lotim HM Juaini Taofik, ikut bangga dengan hal itu. Ia bahkan mengucapkan terima kasih atas kinerja pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Lombok Timur.

Ia mengakui, ajang berkelas itu dulunya hanya bisa diikuti oleh pariwisata dari Bali dan Jogja. Tak disangka, ajang ini justru diikuti oleh Tete Batu, salah satu desa di Lombok Timur.

"Atas nama pemerintah daerah saya ucapkan terimakasih atas keringat BPPD," ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar