Jejak Terkini

Ritual Mangan Bakeq, Pesan Harmoni Perayaan 1 Muharram untuk Bumi

MAKAN BARENG: Warga dari semua kalangan usia nampak berkumpul makan bareng di Dusun Sukamulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. 

SELONG
-- Waktu magrib sudah menjelang. Warga nampak bergegas menyiapkan aneka sesajian. Ada banyak jenis makanan yang yang terhidang.

Berwadah nampan, ada beberapa menu yang mencolok. Tak saja nasi, ada juga telur rebus dan sejumlah koin logam. Semuanya dilapisi daun pisang.

Anak-anak di lokasi itu nampak bahagia. Satu persatu duduk berjejer rapi, dan seraya memanjatkan do'a di musala itu. 

Begitulah suasana yang terjadi di Dusun Sukamulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. 

Keramaian pada Senin (9/8) petang itu rupanya ada sebuah hajatan. Warga setempat menyebut hajatan itu sebagai ritual Tetulak Gubuk atau lebih populer disebut Mangan Bakeq.

"Ritual ini diadakan saat masuk bulan Muharram," ucap salah seorang tokoh pemuda setempat, Asri, kepada JEJAK LOMBOK di sela acara tersebut.

Ritual ini, tuturnya, telah dilaksanakan secara turun temurun hingga sekarang. Tujuannya ialah untuk tolak bala. 

Ritual ini juga untuk memohon keselamatan kepada Yang Maha Kuasa dari musibah dan wabah yang sedang terjadi maupun yang akan datang.

Tanggal satu Muharam ini, kata dia, sebagai awal yang diyakini memiliki kelebihan untuk bermunajat. 

Yang kedua, jelasnya, pelaksanaan ini sebagai memiliki makna sedekah bagi makhluk lainnya. Sebab, sisa dari makanan itu dibiarkan di tempat. Sisa makanan itulah yang menjadi bagian makhluk lainnya.

"Kita kan berdampingan dengan makhluk lain. Tidak hanya makhluk astral tapi juga hewan dan yang lainnya. Jadi sisa makanan itu diberikan kepada mahluk itu," jelasnya.

Ritual ini dinamakan Mangan Bakeq, lantaran dilaksanakan pada saat mau memasuki waktu Magrib. Di saat itu, kata dia, bakeq (makhluk astral) keluar mencari rezeki berupa makanan dan yang lainnya.

Tak heran dulu, orang tua melarang anak-anak untuk keluar bermain. Terutama bagi perempuan saat waktu Magrib tiba.

Satu Muharam juga, ucapnya, dijadikan sebagai waktu untuk menyantuni anak yatim piatu. Santunan itu diharap membawa berkah untuk satu tahun kedepan

"Kita berdampingan sehingga makanan itu kita sedekahkan untuk mereka," ucapnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar