Jejak Terkini

Bingung Jual Hasil Panen, Petani Bawang Putih Sembalun Menjerit

MELIMPAH: Hasil produksi bawang putih Sembalun melimpah, tapi terkendala pembeli.

SELONG
-- Sembalun tak hanya disorot lantaran keindahan alamnya. Kawasan yang terletak di kaki Gunung Rinjani ini terkenal pula karena bawang putihnya.

Sejak dulu Sembalun dijadikan sebagai sentra penanaman bawang putih. Bahkan beberapa tahun belakangan ini kawasan tersebut menanam komoditi yang satu ini dalam skala besar.

Buntut penanam skala besar itu rupanya membuat petani kebingungan menjual hasil produksi pasca panen.

Salah seorang petani bawang putih, Hazrul Azmi mengungkapkan, rata-rata hasil panen petani sedang melimpah. Namun saat ini mereka dihadapkan dengan kendala penjualan.

Pria yang berasal dari Dusun Bawak Nao Daya, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur mengungkapkan, melimpahnya hasil panen ini rupanya menjadi ladang para tengkulak. Mereka membeli bawang putih petani per kilo dengan harga miring.

Keluhan Hazrul Azmi ini juga dilontarkan Ketua Kelompok Tani Lendang Tinggi Sembalun, Abdul Rais. Awalnya, pihaknya sangat mengapresiasi kawasan tersebut dijadikan sebagai sentra benih nasional.

"Awalnya kami bangga, tapi belakangan kendala kami adalah pembeli," ucapnya.

Rais mengaku cukup terbantu di awal mula proses tanam. Ini karena para petani dibantu bibit dan obat-obatan.

Saat itu, ia dan para petani lain sempat berpikir akan lebih untung. Nyatanya harapan itu terbalik.

Bantuan ini sendiri berasal dari APBN dan penyalurannya biasa diberikan akhir tahun. Namun sekarang program tersebut ditarik ke bulan Juli lalu disuplai bulan Agustus. Hal ini disebutnya omong kosong.

Dari rentang waktu antara Juli dan Agustus disebutnya sangat riskan menanam komoditi ini. Mengingat di Sembalun dalam rentang waktu tersebut debit air sangat minim.

"Jadi ini kan namanya omong kosong. Percuma dong kita tanam," ucapnya.

Hal itu disebutnya kontra dengan keinginan petani setempat. Petani menginginkan penanaman pada saat kondisi persediaan air memadai. Dimana interval waktunya berada antara bulan Februari atau Maret.

Ia kemudian membeberkan bantuan bibit yang biasa diterima para petani. Mereka biasa diberikan beberapa varietas seperti Lembu Kuning, Lembu Kayu, Lembu Hijau, dan Bagong.

Sayangnya dari semua jenis varietas yang diberikan itu bercampur menjadi satu. Sementara saat ini di Sembalun sendiri ada tiga varietas yakni Lembu Kuning, Lembu Kayu, dan Lembu Hijau. 

"Dengan begitu seharusnya ada tiga gudang," ucapnya.

Lantaran kondisi bibit yang campur baur, petani khususnya di Desa Sajang disebutnya menolak bantuan bibit tersebut. Mereka memandang percuma menerima lantaran tak ada petani yang akan menanam bibit tersebut.

Dia menerangkan, bantuan bibit tersebut diakuinya tak ada akad apapun, terlebih pengembalian. Karena tujuannya untuk mempertahankan swasembada bibit nasional di kawasan ini. 

Dia mengaku, Sembalun sebagai sentra bibit bawang putih dalam skala besar ini sudah berjalan dua sampai tiga kali. Namun demikian ketika sudah menanam, diberikan bantuan tapi setelah panen tidak ada yang beli. 

Karena itu, ia berharap pemerintah menyediakan pembeli hasil panen tanaman bernama latin Allium Sativum tersebut. 

"Kalau budidaya Alhamdulillah sudah bagus. Ada buktinya kalau mau lihat, tapi itu ketika panen tidak ada yang beli," keluhnya.

Sebenarnya kata dia, dengan harga pasar sekarang saja, yakni Rp 700 per kwintal, petani sudah untung. Padahal di lain sisi, petani juga harus berhitung beban biaya pengeringan dan pengangkutan.

Karena tak ada pembeli, jalan satu-satunya dijual ke tengkulak dengan harga murah. Hanya saja, ia tak membeberkan secara rinci berapa harga yang diberikan.

Dirinya membandingkan, sebelum ada program tersebut masuk harga bawang putih mencapai Rp 1,5 juta per kwintal. Namun setelah bantuan masuk, harga jadi anjlok.

"Itulah masalah kita petani di sini, dan itu berlaku untuk semua jenis hasil panen," ujarnya.

Di Sajang sendiri, jelasnya, luas pertanian mencapai 400 hektar. Di kelompok taninya saja luas lahan mencapai 15 hektar.

Sedangkan luas perkebunan di lokasi itu ialah 300 hektar. Sehingga luas lahan keseluruhan mencapai 700 hektar.

Untuk bawang putih, ia mengklaim hasil produksi sudah sesuai dengan kriteria kementerian khususnya di Sajang. Produksi para petani Yang memiliki persentasi paling baik di kawasan kaki Gunung Rinjani tersebut.

Persentasi hasil di desa itu mencapai 5 berbanding 2. Artinya, 5 ton basah dan 2 ton setelah dikeringkan.

Selain itu, di wilayah itu jika dijadikan benih tumbuhnya lebih seragam dibandingkan dengan kawasan lainnya di Sembalun.

Ia menjelaskan, untuk biaya sendiri berdasarkan tahun 2010 yang lalu mencapai Rp 60 juta per satu hektare. Saat ini sudah mencapai Rp 90 juta per hektare. Itu include semuanya, dari awal sampai panen.

Dalam satu hektare, ucapnya, jika kualitas super, hasil panen bisa 35 sampai dengan 40 ton. Namun saat terpuruk tak bisa panen. Terlebih saat ini, bawang merah dan putih diserang hama.

Terpisah Sekretaris Desa Sajang, Hidmatul Arif, mengakui jika petani setempat menolak bantuan bibit tersebut. Pasalnya selain tak sesuai waktu tanam, juga benih yang diberikan bercampur atau tak satu varietas.

Tak hanya bawang putih, tapi juga hal serupa terjadi pada bawang merah. Komoditi yang saat ini juga harganya anjlok.

"Kita butuhnya pembeli, pemerintah mungkin bisa gandeng perusahaan untuk beli hasil panen kita, khususnya bawang putih," ujarnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar