Mengenal Badri, Sang Maestro Pupuk Organik

Ciptakan Dua Jenis Pupuk Organik, Terkendala Hak Edar

DEMO: Badri mendemonstrasikan hasil temuannya dengan alat ukur kadar PPM yang diciptakannya sendiri.

----------

"Semakin banyak PPM dalam air, maka lampu itu akan semakin terang. Kondisi ini eakan semakin berpengaruh pada tanaman. Begitulah cuplikan observasi yang dilakukan pria ini."

SAEPUL HAAKUL YAKIN -- SELONG

BADRI nampak begitu santai dengan penampilan seadanya. Saat itu, sekitar pukul 11.50 WITA, Rabu kemarin (14/4). Ia hanyA mengenakan kaos oblong dan kolor sembari bermain bersama sang buah hati.

Sesiang itu rupanya memaksa pria berambut pendek dengan poni di depan itu berpenampilan seadanya. Maklum, siang itu cukup gerah.

Tak sulit menemui kediamannya. Di kampungnya, ia memang cukup tersohor. Bukan hanya di tempat tinggalnya saja. Tapi juga namanya cukup dikenal terutama pada organiasi seperti pegiat sampah. O

Di teras rumah berukuran 4x4 itu, nampak tong berukuran besar. Tong itu merupakan tempat dirinya menampung setidaknya dua dari produk pupuk organik yang diciptakannya.

Kedua pupuk organik yang telah diciptakan itu yakni Asa Green dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Produk satunya lagi berupa butiran kecil, yang bermanfaat untuk mengusir hama siput.

Tak lama setelah berbincang dengan JEJAK LOMBOK. Badri menunjukan sebuah alat pengukur kadar air yang sangat sederhana.

Alat itu dibuat dari sebuah pipa bekas, yang di ujungnya terdapat fitting dan balon. Alat itu disebutnya telah menemaninya sejak awal penemuan pupuknya tersebut.

"Alat ini saya buat dulu sekitar tahun 2014 atau 2015. Alat ini yang menemani saya temukan dua produk ini," ucapnya.

Ia menerangkan alat tersebut, terilhami dari stop kontak pada listrik pada waktu itu. Di lain sisi, ia hanya membaca beberapa referensi terkait temuannya itu.

Baru lah setelah itu ia mencoba merakit alat tersebut dari bahan yang ada di sekitar. Sebut saja seperti kabel listrik, colokan, dan besi bekas roda mobil mainan anaknya.

Ia menjelaskan, cara kerja bahan alat tersebut yakni melalui sambungan listrik. Air itu nantinya akan menjadi stop kontak bagi aliran listrik ke lampu itu.

Dengan alat ini, dirinya sukses dalam menciptakan produk. Buktinya sudah dua pupuk organik yang dapat dibuatnya yakni Asa Green dan yang terbaru ZPT.

Di lain sisi, alat tersebut selain dapat mengukur banyaknya kandungan PPM dalam air. Alat ini juga dapat mengetahui besaran kadar air dalam tanah.

"Untung ada alat ini, jadi meringankan biaya," ujarnya.

Menurut pria kelahiran Dusun Suka Mulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur ini, jika ingin memeriksa di laboraturium, kandungan zat yang ada pada pupuknya tersebut harus merogoh kantong dalam jumlah yang tak sedikit. Dibutuhkan biaya sekitar ratusan juta rupiah untuk sekali periksa.

Namun demikian, dibandingkan dengan alat sederhana itu, hasil laboraturium diakuinya lebih detail dan prosesnya cepat. Tidak seperti menggunakan alat tersebut, harus menunggu waktu yang sedikit lama dan harus dilakukan dengan cara berulang-ulang.

Pria 32 tahun ini menjelaskan, mendemo temuan barunya itu dengan mengambil empat botol bekas. Di masing-masing botol diisi dengan kandungan air yang berbeda. Seperti air biasa, cairan pupuk organik Asa Green, ZPT, dan bakteri E4 hasil penemuan IPB.

Ia menerangkan, semakin banyak PPM dalam air maka lampu itu akan semakin terang. Tentunya akan semakin berpengaruh pada tanaman.

Dalam uji cobanya itu, ia menggunakan lampu berkekuatan 75 watt. Hasilnya cukup mencengangkan, lampu itu jauh lebih terang dari biasanya.

Dia menerangkan, air biasa memiliki kandungan PPm mulai dari 300 sampai 600. Dan bakteri E4 ini 600 dan kurang dari seribu.

Dibandingkan dengan dua temuannya tersebut, yakni Asa Green, memiliki kekuatan 3000 sampai dengan 5000 PPM. Sememtara produk barunya itu yakni ZPT 1000 sampai 3000.

"Jadi kedua produk saya ini memiliki fungsi yang berbeda dari kandungan PPM-nya," beber pria yang aktif sebagai aktivis lingkungan NTB ini.

Dia menerangkan, Asa Green dan ZPT yang dibuatnya tak memiliki campuran bahan lain seperti produk lainnya. Lantaran banyak produk serupa.

Kedua pupuk organik ini, terangnya, memiliki bahan yang berbeda namun sama-sama lahir dari tumbuhan alami. Jika Asa Green lahir dari tumbuh-tumbuhan seperti tembakau, ampas kulit pisang dan lainnya, maka ZPT lahir dari sampah dapur rumah tangga. Bahannya berupa sisa-sisa potongan bahan dapur yang tidak dikonsumsi.

Perbedaan selanjutnya, kata Badri, pada lama fragmentasinya. Yakni seminggu dan hanya dua hari. Cairan Asa Green lebih bening dibandingkan dengan ZPT.

Pemanfaatannya juga berbeda jika ZPT hanya untuk perangsang yang berfungsi untuk akar. Sementara Asa Green berkerja untuk kesehatan buah.

ZPT, ucapnya, dapat digunakan saat tumbuhan mulai dari 0 sampai berumur dua bulan. Sedangkan Asa Green dari dua bulan sampai dengan panen.

"Kedua produk saya ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar," ujarnya.

Ia mengaku, untuk Asa Green sendiri sejauh ini sudah banyak yang meminta. Tak hanya datang dari petani lokal, tapi juga petani di luar Lombok bahkan, sampai luar negeri. Namun demikian, ia belum berani lantaran belum ada izin edar dari pihak yang berwenang. 

Ia mengakui, sampai saat ini usahanya meraih izin edar dan hak cipta merk masih terus dilakukan. Namun sejauh ini, ia hanya mengalami kendala keuangan saja.

Ia mengakui, tak ingin menyalahkan siapa-siapa dengan belum dimilikinya hak edar. Hanya saja ia tetap berharap agar pemerintah daerah bersedia membantu dirinya mengantongi hal tersebut. (*)

Posting Komentar

0 Komentar