Bingung Berwisata? E-Lombok Bisa Jadi Panduan

Yogi Sugandi

SELONG
-- Pernah dengar aplikasi E-Lombok? Ya, starup satu ini lahir dari tangan dingin salah satu pegiat wisata di Lombok Timur.

Faounding E-Lombok, Yogi Sugandi menerangkan, program tersebut menyusun kebutuhan orang yang menjadi hajatannya. Tapi saat ini aplikasi itu disebutnya masih berkonsentrasi di beberapa segmen saja, khususnya untuk wisatawan.

"Tapi lebih berkonsentrasi ke informasi, tiketing, podcasting pariwisata, dan sebagai Tourism Information Center (TIC)," kata pria yang akrab disapa Yogi itu kepada media, Senin (12/4).

Aplikasi satu ini juga, terangnya, menjadi bioskop pariwisata yang hendak menayangkan kekayaan alam Lombok. Kekayaan ini khususnya destinasi Gumi Patuh Karya dalam kacamata video dokumenter.

E-Lombok juga, bebernya, menyiapkan transportasi bagi wisatawan berupa gojek wisata. Bagi pengunjung yang tengah mencari solo traveller.

Segmen satu ini disiapkan untuk pengunjung wisata yang mencari orang lokal yang dapat membawanya berkeliling dengan naik sepeda motor. Ia mengakui, servis seperti itu belum ada bagi wisatawan di Lombok.

Ia menerangkan untuk segmen satu ini, pihaknya telah berkerjasama dengan masyarakat lingkar destinasi.

Nantinya, para gojek ini tinggal online, dan akan ada notifikasi masuk ke aplikasi tersebut. Pilihannya beragam mulai dari 3 jam sampai dengan full day.

"Ada banyak grab dan Gojek tapi tidak menuju segmen itu," ucapnya.

Kendati demikian ia mengakui pihaknya tengah dalam proses penyempurnaan secara berkelanjutan.

E-Lombok sendiri, ucapnya, menunjukan revolusi industri 4.0 yang berbasis digital. Aplikasi ini sudah berbentuk up web. Yaitu berupa sebuah aplikasi dan web atau ganda. Aplikasi tersebut sudah dapat di unduh langsung di playstore. 

Program satu ini disebutnya sebagai salah satu cara mendongkrak pengunjung dan memobilisasi wisatawan ke destinasi yang belum tersentuh, khususnya di Lotim.

"E-Lombok bicara wisata Lombok secara umum, hanya saja dominannya bicara soal Lombok Timur," ujarnya.

Kata Yogi, aplikasi tersebut memiliki kelebihan yakni telah bekerjasama dengan pelaku pariwisata di Lotim secara keseluruhan. Dia mengklaim perbedaannya dengan aplikasi raksasa tak memiliki networking seperti yang dimilikinya.

Setiap pengelola, ujarnya, berteman sehingga destinasi tersebut dapat dikelola secara maksimal. Selama ini sebutnya, pengelolaan wisata ini bersifat parsial. 

Di aplikasi itu wisatawan memiliki ragam pilihan. Takk hanya menyuguhkan destinasi, tapi juga berupa kuliner dan penginapan.

Namun demikian, ia mengaku tak memasarkan hotel layaknya yang lainnya. Dia hanya menyiapkan penginapan berupa homestay.

"Khusus di Lotim homestay bukan hotel tujuannya meningkatkan ekonomi masyarakat," ucapnya.

Aplikasi ini juga, terangnya, telah terintegrasi dengan map. Pengunjung yang ingin menuju ke salah satu destinasi wisata, sepeti Pal Jepang misalnya, aplikasi itu dapat menjadi roadmap-nya.

Selain itu, di aplikasi itu juga disediakan tour guide yang dibagi menjadi lima segmentasi. Yakni bahari, budaya, gunung, alam dan yang terakhir interpreter geopark Rinjani. Di aplikasi ini sendiri sudah ada empat pulu tujuh destinasi yang telah terdaftar.

Ia mengatakan, basis pengembangan ini holistik dan terintegrasi dengan seluruh elemen. Baik itu pelaku wisata, pengelola, akademisi, praktisi, dan media.

Profit dari jualan itu nantinya untuk pengembangan dan beasiswa ke masyarakat  nantinya. Sebab transaksi langsung di aplikasi tersebut.

"Pokoknya kita siapkan semua sampai dengan tiketing," tandasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar