728x90

ad

Komunitas Senine Gelar Pameran Seni "Nol Kecil"

SENI: Seniman asal Lombok Timur, Phalonk, kala sedang menggarap karyanya.

SELONG
-- Komunitas seniman yang tergabung dalam Senine Lombok Timur bakal menggelar pameran seni. Kegiatan ini akan digelar secar simultan di dua tempat.

Kedua tempat itu yakni, pertama di Weeday Kedai Art Gallery pada 27 sampai 31 Maret nanti. Sementara lokasi kedua di Rumah Kucing Montong (Erkaem), Senggigi, Lombok Barat pada 4 April mendatang.

Kepada JEJAK LOMBOK, Ketua Senine Lombok Timur, Saparul Anwar Phalonk menyebut, pameran ini menjadi presentasi karya spesial bagi komunitasnya. Kendati acara ini digelar simultan, diakui prosesnya tak mudah.

Pada gelaran tersebut, bebernya, akan dinilai langsung kurator asal NTB. Kurator itu juga dosen di salah satu perguruan tinggi Kota Mataram yakni Sasih Gunalan.

"Tema pameran kali ini dipilih kurator, bertajuk Nol Kecil, representasi gerak seniman pinggir," kata pria yang akrab disapa Phalonk ini, Kamis (11/3).

Dipilihnya teman Nol Kecil oleh kurator, lanjut Phalonk, berarti pameran penting memberikan ruang kepada seniman pinggiran. Hal ini berlaku khususnya bagi pelaku seni di Lombok Timur untuk mempresentasikan karyanya.

Istilah Nol kecil, terangnya, merupakan sebutan yang dipinjam kurator untuk memberikan opsi kepada para seniman. Opsi ini terkait keberadaan mereka dalam peta kesenian yang ada. 

Nol juga, beber pria kelahiran Lendang Nangka Kecamatan Masbagik ini, kerap diasosiasikan untuk dipadupadankan dengan arti kosong. Dua kata tersebut (nol dan kosong) sejatinya beda dalam pemaknaan, yang tentunya berlainan pula.

Phalonk menjelaskan, kata nol sering dilambangkan denan bilangan 0. Bilangan itu berarti tak ada kenyataannya, tidak ada hasil.

"Sedangkan kosong bermakna tidak berisi; tidak berpenghuni, berongga dan hampa," sebutnya.

Dalam filosofi agama, jelasnya, angka 0 bisa diartikan sebagai kembalinya diri terhadap penyucian jiwa dan ketulusan hati. Sehingga titik ini merupakan keikhlasan dan penyerahan, mengosongkan dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Proses penyadaran diri tentang nol disebutnya tak jarang mengantarkan setiap individu pada posisi pengenalan keberadaan sendiri. Dan kiranya hal inilah yang disebutnya mendasari lima belas perupa di bumi Lombok Timur mengetengahkan keberadaan mereka pada medan kesenian yang ada. 

"Lombok timur dengan segala potensi seniman yang dimiliki, pernah menjadi tonggak seni rupa Lombok melalui komunitas-komunitasnya," ujarnya.

Kini pihaknya berpikir tentang perlunya regenerasi gagasan berpikir untuk membangun ruang komunal kesenian. Dimana ruang ini terus dihidupkan.

"Varian karya pada pameran ini, mengindikasikan semangat dan varietas gagasan estetik yang akan coba disajikan. Kepada apresian untuk dibedah, dikritisi atau dibaca kembali," ucapnya.

Pengalaman serta kemampuan mengolah, terangnya, karsa adalah modal para seniman ataupun komunitas perupa, untuk memuculkan berbagai subject matter dan tema karya. Seperti yang dapat disimak dalam pameran kali ini. 

"Semoga pameran ini, memberikan isyaratkan kepada kita, tentang spirit berkesenian para perupa pinggiran ini. Dan waktu akan menguji eksistensi serta kesungguhan mereka, untuk bisa hidup dan menghidupi diri dengan kesenian," tandasnya. (kin)

Posting Komentar

0 Komentar