728x90

ad

Emak-Emak Kini Ramai Budidaya Udang Vaname

TINJAU: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, H Yusron Hadi meninjau kesiapan pengembengan kampung budidaya udang vaname di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

MATARAM
-- Udang vaname kini keberadaannya mulai dilirik sebagai sumber penghasilan ekonomis. Jenis udang ini ramai dibudidaya oleh emak-emak di Lombok Utara.

Mereka membudidayakan jenis udang ini dengan mengembangkan sistem bioflok. Kalangan ibu-ibu ini membudidayakan jenis udang tersebut terutama mereka yang berada di kawasan pesisir.

"Para suami melaut, ibu-ibu nya berbudidaya udang. Ini kan sangat luar biasa," ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, H Yusron Hadi, Jum'at (12/3).

Budidaya udang vaname dengan sistem bioflok disebutnya sudah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Terbukti dengan tumbuhnya kelompok budidaya udang vaname yang tersebar di enam titik di wilayah itu. Salah satunya di Kecamatan Bayan.

Biasanya budidaya udang vaname dilakukan oleh perusahaan skala besar. Selain itu,  modal yang dibutuhkan pun tak sedikit dengan super intensif membangun tambak di kawasan pinggir pantai. 

Namun apa yang dilakukam para istri nelayan ini menepis anggapan tersebut. Bermodal kolam terpal, mereka sanggup melakukan hal tersebut.

Kata Yusron,  mereka ibu rumah tangga ini membentuk kelompok beranggota 80 orang dengan kolam 40 unit berdiamater 5 meter dan tinggi 1,5 meter. Dengan pola tersebut, pihaknya bisa memberi suppport demi peningkatan ekonomi warga pesisir.

Apa yang dilontarkan Yusron ini saat meninjau cikal bakal kampung budidaya udang vaname. Dimana kampung tersebut kini tengah diusulkan ke Kementerian Kelautan Perikanan.

Usulan itu, jelasnya, untuk dikembangkan di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Untuk membuat kolam udang vaname, nelayan setempat mengeluarkan modal mencapai Rp 25 juta. Masing-masing kolam berisi 5 ribu bibit. Sementara, waktu panen membutuhkan waktu hanya 3 bulan.

"Dari 5 ribu bibit per kolam para nelayan bisa memanen sekitar 70 sampai 80 kilogram per kolamnya," jelasnya. 

Selain itu, untuk menunjang budidaya kelompok tersebut, para nelayan bermitra dengan perusahaan. Di mana pihak perusahaan menyediakan bibit, pakan, sarpras sampai pemasaran sekaligus memberi pendampingan saat proses budidaya. 

"Jadi kegiatan budidaya seperti ini harus kita perbanyak, karena memang wilayah pesisir kita cukup potensial dan lahan pun juga cukup tersedia," terangnya.

Menurut Yusron, pemerintah pusat sendiri mempunyai 3 prioritas dalam membangun sektor kelautan dan perikanan. Di antaranya bagaimana meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor perikanan tangkap. Selanjutnya pengembangan perikanan budidaya dan pengembangan masyarakat pesisir serta bagaimana konservasi sumberdaya laut dan perikanan.

"Tiga hal ini sejalan dengan program industrialisasi perikanan laut maupun budidaya di NTB tanpa abai dengan konservasi sumberdaya laut dan perikanan," katanya.

Karena itu, pria yang akrab disapa Yusron ini telah mengusulkan kepada pemerintah pusat memperbanyak kampung budidaya ikan di NTB. Baik untuk budidaya lobster, udang vaname, ikan nila, ikan lele, dan lain sebagainya menurut potensi wilayah perairan masing-masing kabupaten kota. 

"Konsep kampung budidaya ini mengelola area dari sisi hulu ke hilirnya, dari produksi ke pemasarannya," ujarnya.

Baginya,. Industrialisasi perikanan budidaya bisa masuk jika ada tersedia bibit yanv cukup, pakan memadai, produksi yg baik, hasil yang olahan hingga pasar. Untuk menggerakkan ini perlu pihak lain yang bisa mendampingi.

Koperasi atau Bumdes, jelasnya, bagus ikut berperan secara bertahap membangun kemandirian. Ini penting sebagai  contoh yang berhasil dan harus ditiru untuk wilayah lainnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar