Jejak Terkini

Kisah Sukses Lalu Thoriq, Eksportir Kopi Lombok

Mulai dari Pemandu Wisata, Buka Pasar ke Empat Negara 

SIAP EKSPOR: Thoriq bersama anak buahnya ketika mengupas kulit kopi dari bijinya di salah satu gudang miliknya di kawasan Bintaro Ampenan, Kota Mataram.

-----------------

"Beruntung benar nasib Lalu Thoriq. Berawal sebagai pemandu wisata dengan menjual paket wisata ke kebun kopi, tak disangka telah menyulap hidupnya sebagai satu-satunya eksportir kopi di Lombok, bahkan NTB."

FATHUR ROZIQIN -- MATARAM

Mesin heuler menyalak bising. Sesiang itu suaranya terus menerus memecah keheningan hari yang belum juga beranjak menuju waktu Ashar.

Dari mesin itu, debu-debu beterbangan memenuhi rongga-rongga udara. Andai saja ruang itu tertutup, sudah pasti debu-debu itu membuat pekat cahaya sekalipun.

Begitulah Lalu Thoriq. Ia sedang bergumul dengan mesin heuler pengupas ampas kopi miliknya. 

Beruntung bagian belakang ruko yang menjadi gudang penyimpanan kopinya itu terbuka. Debu yang menyeruak ke udara langsung diterbangkan angin. Itu pula yang membuat pekatnya udara bisa diurai.

Bersama seorang pekerjanya, ia nampak begitu gigih memisahkan berkwintal-kwintal biji kopi kering dari kulitnya. Pengupasan kopi itu berlangsung di sebuah ruko berwarna hijau di Jalan Saleh Sungkar, Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Ruko itu berjejer di antara ruko yang lain dan berada bersisian di sebelah barat Rumah Duka Bintaro.

"Serapan kami masih sangat terbatas. Kami hanya mampu menyerap 150 ton kopi petani per tahun," ungkapnya, di sela-sela kesibukannya, Sabtu (26/12).

Apa yang diungkapkan pria berwajah Arab ini terkait daya serap kopi yang mampu dibeli dari petani. Terbesar serapannya berasal dari Lombok Utara, baru setelah itu dari Lombok Timur.

Ketersediaan kopi petani di dua daerah itu, jelasnya, mencapai 600-700 ton per tahun. Dari jumlah itu belum terserap semuanya. Akibatnya, tak sedikit para petani yang kebingungan menjual hasil panennya.

Saat ini, ayah tiga anak itu juga sedang melirik kopi asal Lombok Barat. Ada dua tiga tempat yang sedang dibidik, yakni Punik, Kumbi dan Prabe.

Kepada JEJAK LOMBOK, pria kelahiran Pringgabaya Lombok Timur ini menuturkan, ihwal mulanya tertarik berbisnis kopi. Aktivitasnya itu dimulai sejak 2015 lalu.

Kala itu, Thoriq masih menjadi pemandu wisata. Salah satu paket perjalanan yang ditawarkan kepada para tamunya yakni berkeliling mengunjungi kebun-kebun kopi penduduk.

Paket ini rupanya cukup diminati wisatawan. Acap kali saat akan balik ke negaranya, para wisatawan tersebut menjadikan kopi sebagai buah tangan.

Lantaran kadang kopi di petani tidak tersedia karena belum masa panen, seringkali ia harus keluar masuk pasar. Itu dilakukan untuk membeli kopi agar hajat tamunya terpenuhi.

"Dari sana saya berpikir, kenapa tidak berusaha kopi. Sembari tetap menjadi pemandu wisata, saya juga mencoba bisnis kopi," ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, bisnis kopi pria kelahiran 23 November 1977 ini semakin membaik. Peruntungannya dalam bisnis kopi rupanya di kemudian hari mengantarkan dirinya sebagai pengusaha pertama eksportir kopi di Lombok, bahkan NTB.

Di bawah bendera UD. Berkah Alam, Thoriq membeli kopi para petani. Bendera ini pula yang dijadikan sebagai legalitas mengirim barangnya ke mancanegara.

Bisnisnya kini merambah Korea dan Kanada. Bahkan Arab Saudi dan Irlandia siap dijajal sebagai pangsa pasar baru.

Tak mudah perjuangan yang dilalui Thoriq sebagai eksportir kopi. Sebuah proses titik balik juga pernah dilaluinya.

Titik balik itu terjadi pada 2016. Saat usaha kopinya mulai dirasa berkembang, tak cukup baginya hanya mengandalkan pasar lokal. Ia berpikir harus menembus pasar mancanegara jika ingin usahanya berkembang lebih baik lagi.

"Saya ingat betul saat itu harus mengumpulkan uang sampai Rp 30 juta. Uang itu untuk pergi ke Korea memasarkan kopi saya," ucapnya.

Bagi Thoriq, mengumpulkan uang sebanyak itu tidak mudah. Terlebih usahanya baru saja merangkak. Namun karena keyakinannya yang kuat, ia pun mengikhlaskan mobilnya digadai. Itu tak lain agar bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 30 juta.

Apa yang diusahakan Thoriq tak sia-sia. Berbekal lawatannya ke Negeri Ginseng itu, ia mulai mendapatkan pasar luar negeri. Sekitar sebulan lamanya ia berada di negara itu demi memastikan pasar baru terbuka untuknya.

Setahun berselang, tepat di 2017. Thoriq melakukan ekspor perdananya ke negara itu. Sekitar satu kontainer kopi ia kirim berkapasitas 140 ton. Pengiriman ini rupanya disusul pengiriman lainnya di tahun-tahun berikutnya.

Hebatnya, bukan hanya Korea, Kanada juga jadi pasar baru yang dijajalnya. Untuk Kanada, ia melakukan pengiriman pada November 2020 kemarin. Rencananya, di akhir Januari 2021, ia akan kembali mengirim ke negara itu.

Tak hanya itu, Irlandia dan Arab Saudi juga sudah menanti. Thoriq hanya tinggal menuntaskan kerjasama kedua belah pihak agar bisa mengirim kopinya.

Khusus untuk Arab Saudi, jelasnya, permintaannya bukan dalam bentuk biji. Rekanan bisnisnya meminta kopi yang dikirim dalam bentuk olahan.

Kini sebagai eksportir kopi, Thoriq sudah mampu memberdayakan ratusan petani kopi di Lombok Utara dan Lombok Timur. Kepada para petani binaannya, ia memastikan membeli kopi lebih mahal dibanding pengepul.

"Ini saya lakukan agar petani kita senang. Jangan sampai mereka hanya dapat lelahnya saja," tandasnya. (*)

Posting Komentar

0 Komentar