Jejak Terkini

KETEPUK-KETEPAK JERINJING KUNYIT

(Mengurai Gaya Spekulatif dan Prediktif dalam Menejemen Organisasi Menurut Nalar Sasak dengan Metode Baca Abied Al-Jabiri) 

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

Separuh dunia pernah menangis karena “tebak-tebak buah manggis” Goerge  Soros. Dia membanting Pound sterling dalam insiden black Wednesday  di tahun 1992. Soros pun menekuk lutut Baht milik Gajah Putih hanya dengan kapital kurang 1 miliard dolar Amerika pada tahun 1997. Tergerusnya Baht tak urung menampar Asia hingga terkapar. Mahatir Muhammad sendiri akhirnya buka suara atas terkanvaskannya Asia dalam pertarungan perdagangan mata uang oleh Hudge dan Quantum Fund milik pialang Goerge  Soros yang gemilang. Dia menyatakan: “Perdagangan mata uang itu tidak penting, tidak poduktif, dan juga tidak bermoral.” Rizal Ramli tak ketinggalan. Dia angkat bicara, “Dosa terbesar Soros yang tidak terampuni adalah terpaparnya para manager investstasi secara massif oleh perilakunya dalam penguasaan perdagangan mata uang secara speculatif.”  

Dampak spekulasi Goerge  Soros mengikis ketahanan nasional beberapa negara. Tepatnya, krisis  yang tragis sontak memuncak bahkan mengkonstruksi sebuah revolusi. Bagi Thomas Kuhn, fakta yang diikuti revolusi cenderung akan diiringi oleh kehadiran paradigma baru. Prediksi Thimas Kuhn ternyata benar. Hampir disetiap negara yang mengalami krisis akibat spekulasi Soros, diniscayakan berproses membangun diri kembali dengan paadigma baru. Berbasis masalah dan SWOT, beberapa negara korban spekulasi Soros berusaha bangkit. Ada yang mulai dari pembaruan kebijakan moneter, bahkan ada Negara yang dengan tepaksa melakukan reformasi total. Republik Indonesia bukan pengecualian. Negara Kesatuan Republik Indonesia harus memilih untuk mengucapkan selamat tinggal orde baru dan dituntut berani berestorasi di era reformasi. 

Dua alenia terdahulu boleh dianggap cukup sebagai ilustrasi untuk memahami esensi artikel sederhana ini. Ilustrasi dalam kedua alenia terdahulu meliputi perbincangan tentang cara memanag sebuah nation, temasuk organisasi. Walaupun secara akademik banyak opsi-opsi managemen organisasi, namun demikian, artikel sederhana ini hanya membahas dua opsi, yaitu spekulatif dan Prediktif dengan argumentasi inilah yang terjangkau oleh nalat Sasak “Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit” yang menjadi pokok bahasan artikel ini. 

Nalar Sasak “Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit” awal mulanya adalah sebuah lirik sebuah pantun jenaka atau lelakak yang digunakan sebagai pengiring permainan bebade’an (tebak-tebakan) pada salah satu permainan tradisional Sasak. Bila dikutip lengkap, maka lirik tersebut adalah sebagai berikut: Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit. Sai Ngentut Sai Ngutak. Ne Pineng Dait Ne Nguit, Kalau dialih bahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, maka akan setara dengan: Manakala kebetulan tentu akan ketemu. Siapa yang kentut atau yang muntah, pasti akan pusing atau bergoyang.

Untuk mengurai nalar Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit, dibutuhkan sebuah proses pembacaan ulang yang cermat menggunakan multiperspektif. Dalam pembacaan ulang yang multiperspektif, metode bayani, irfani, dam burhani yang dirancang bangun oleh Abied Al-Jabiri tampaknya cukup memadai. Dengan metode bayani, nalar tersebut dapat dilihat sebagai narasi dengan diksi yang seksi, serta mengandung makna sebagai pelengkap keseruan sebuah permainan atau games. Sedangkan dalam tinjauan metode irfani, Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit akan bernuansa seperti transformasi ajaran dominasi penyerahan diri kepada takdir dan pentingnya kewajiban berikhtiyar. Sementara itu, dengan metode burhani, Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit akan memberikan perspektiv bahwa seluruh rangkaian pencapaian sebangun dengan kultur ilmiah yang memiliki tradisi mulai dari penelusuran kondisi objektiv dalam bentuk data, pengelolaan, analisa, interpretasi, penarikan simpulan, implementasi, pengawasan, evaluasi, serta tindak lanjut. 

Berdasarkan uraian di atas, maka nalar Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit dapat dikategorikan menjadi dua isme atau ajaran. Petama dengan makna sebagai symbol bunyi bahasa dalam sebuah lirik pengimbuh seru suatu system games, nalar Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit hanya sebuah alsesoris pelengkap yang sangat tidak signifikan pengaruhnya terhadap sistem.  Sementara itu, dengan makna sebagai ikhtiyar coba-coba mendapat keberuntungan, Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit juga merupakan anutan yang terlalu kaku dalam memaknai sikap pasrah kepada takdir. Akibatnya, dalam proses pencapaian dengan kandungan anutan dan ajaran yang sedemikian rupa menjadi tidak terstruktur dan terorganisasi. Artinya tidak ada model perencanaan yang berbasis setting latar, tujuan, apalagi grand theory yang jelas. Proses pencapaian seperti ini tentu mengambang dan hanya menunggu probabilitas. Proses pencapaian dengan cara ini termasuk spekulatif, kalau tidak boleh menyebutnya sebagai keja “akal-akalan” belaka. Kedua, proses yang berbasis pada kultur ilmiah yang secara akademik dapat dipertanggungjawabkan. Proses pencapaian dengan style ini ditunjukkan dengan analisis tehadap kalimat “Ne Pineng Dait Ne Nguit. Kalimat ini sesungguhnya menggambarkan sebuah proses yang berbasis pada data dengan seluruh rangkain pembacaannya sampai dengan penarikan simpulan. .Proses pencapaian ini betul-betul senafas dengan semangat QS. Al-Mujadalah Ayat 11 yang mencapai kemuliaan dengan iman dan ilmu. Proses pencapaian ini setara dengan gaya prediktif yang tebangun dari siklus kerja penelusuran kondisi objektiv dalam bentuk data, pengelolaan, analisa, interpretasi, dan penarikan simpulan cara dalam proses pencapaian itu sendiri.

Dua gaya atau model manajemen institusi atau organisasi, baik spekulasi maupun prediktif ini, sudah tidak asing lagi. Tidak sedikit pula institusi, baik secara sadar atau pun tidak mengimplementasi satu di antara dua style, bahkan ada yang melaksanakan kedua-duanya dalam pengelolaan aktivitas organisasi. Institusi atau oganisasi yang mengimplementasi, baik model spekulasi atau pun predictive dapat dilihat dari model perencanaan yang dirumuskan.

Bagi institusi atau organisasi yang cenderung menganut mazhab spekulatif,  maka menurut Berry ia akan merumuskan perencanaan dengan tipe: (1). Ameliorative problem solving, yaitu perencanaan yang disusun berdasarkan permasalahan  yang ada dan cenderung hanya beorientasi jangka pendek. (2). Explosive opportunity seeking, yaitu perencanaan yang sama sekali tidak mengidentifikasi permasalahan di masa yang akan datang melainkan langsung melihat peluang-peluang baru yang muncul. Model ini sangat memperhitungkan keuntungan dengan sangat sedikit memperhatikan perkembangan masa depan.

Institusi atau organisasi dengan model atau type perencanaan seperti ini cendeung tidak betahan lama atau paling untung dia akan sekedar mampu bertahan hidup. Sebab utama stagnasi institusi atau organisasi ini adalah ketidakpeduliannya dalam melakukan fungsionalisasi system institusi atau organisasi. Talcot Parson mengemukakan bahwa fungsionalisasi yang dibutuhkan institusi atau organisasi agar tetap mobile adalah dengan mengintensifkan adaptasi, baik internal maupun eksternal, mendeskripsi tujuan dengan lugas, terang dan jelas, menganut dan senantiasa melakukan aktivitas yang integratif, serta giat merawat, bahkan mengembangkan capaian yang telah diraih. 

Sementara itu, Berry menjelaskan bahwa institusi atau organisasi yang cenderung menganut mazhab predictive akan memilih tioe: (1). Allocation trend modifying yaitu perencanaan yang beroientasi ke masa depan dan disusun bedasarkan kecenderungan saat ini untuk mengantisipasi pemasalahan yang muncul di masa yang akan dating. (2). Normative goal oriented planning, yaitu perencanaan yang beroreuntasi ke masa depan dan mengidentifikasi tujuan-tujuan jangka panjang serta institusi induk yang memayunginya.

Institusi atau organisasi yang cenderung menganut mazhab predictive dengan tipe perencanaan di atas cenderung memiliki dinamika dan mobilitas yang tinggi. Ia memiliki fondasi gerakan yang kuat dan memiliki kapasitas adaptable dengan ciri bersikap modern atau berkemajuan  yang ditunjukkan dengan kecenderungan selalu meraih sukses dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai.  Disamping itu,  Institusi atau organisasi ini cenderung mengembangkan diri melalui instrument tasamuh dan wasathiya untuk menyokong tradisi integrative dan interconetive dengan seluruh aspek pergerakan menuju rahmatan lil alamin.

Dengan cara baca yang tepat, ternyata membaca ulang nalar Sasak Indonesia Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit terbukti mengandung nilai-nilai yang sangat hebat, utamanya terkait dengan model management institusi atau organisasi. Sekarang kita sudah tahu akan kekayaan kandungan Ketepuk-Ketepak Jerinjing Kunyit tersebut dan selanjutnya anda, saya, dan kita semua tinggal memilih antara mazhab spekulasi atau predictive dalam me-manag organisasi yang kita miliki. Wallohu’lamu.

*Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.

Posting Komentar

0 Komentar