728x90

ad

Aneh! Hasil Rapid di Puskesmas Berubah-ubah

BERBEDA: Hasil rapid rest Ahmad Siswandi menunjukkan dua hasil berbeda.

SELONG
--Kejanggalan hasil pemeriksaan ralid test masih saja terdengar. Kali ini datang dari Puskesmas Labuhan Haji Lombok Timur.

Kabar ini bermula dari salah seorang pasien bernama Ahmad Siswandi. Saat pemeriksaan rapid, ia menduga hasil pemeriksaan dirinya dipalsukan.

Saat memeriksa, Ahmad Siswandi tidak sendiri. Ia datang bersama salah seorang keluarganya berinisial M. Keduanya merupakan warga Desa Teros Kecamatan Labuhan Haji.

 Dugaan ini diungkap lantaran M menemukan beberapa fakta membingungkan ketika itu. Sebut saja seperti hasil rapid test yang tidak jelas dan dapat berubah-ubah dalam hitungan jam.

M menceritakan kronologi awalnya Ahmad Siswandi melakukan rapid test di Puskesmas Labuhan Haji. Pada Rabu (18/11) Ahmad Siswandi melakukan rapid test itu untuk melengkapi persyaratan kerjanya yang berlokasi di luar daerah.

Seusai melakukan rapid test, kata M, pihak Puskesy meminta  Ahmad Siswandi menunggu hasil pemeriksaannya sekitar 15 menit. Namun kata dari pihak Puskesmas pada waktu itu, untuk mendapatkan kesimpulan hasil maka harus menunggu pihak dari koordinator tim gugus tugas penanganan Covid-19 kecamatan.

"Ketika 30 menit kemudian, barulah muncul tim dari gugus tugas kecamatan. Yang pada saat itu juga memberikan hasil dari rapid test yang dilakukan oleh Ahmad Siswandi," ungkapnya, Sabtu (21/11).

Mendapati hasil rapid test bergaris satu, Ahmad Siswandi sendiri kaget ketika dirinya dinyatakan reaktif. Padahal, pada umumnya yang ia ketahui, jika garis satu pada hasil rapid test maka menandakan hasilnya itu non-reaktif. 

"Hasil rapid test dari Ahmad Siwandi itu bergaris satu, kok bisa reaktif," herannya.

Tak puas dengan hasil rapid test dari Puskesmas Labuhan Haji itu, M berinisiatif mengajak Ahmad Siswandi pergi menanyakan kejanggalan tersebut ke pihak gugus tugas penanggulangan Covid-19 Kabupaten Lombok Timur yang berada di rumah dinas Bupati Lotim.

Anehnya, M mengatakan jika pihak dari tim gugus tugas Lotim juga merasa heran ketika melihat hasil yang bergaris satu. Namun demikian, Ahmad Siswandi dinyatakan reaktif oleh pihak Puskesmas Labuhan Haji. 

"Setelah kami konfirmasi ke gugus tugas yang ada di pendapa bupati, di sana juga petugas kaget karena garis satu kok bisa reaktif. Yang sewajarnya itu harusnya non-reaktif," katanya.

Alasan dari pihak gugus tugas kabupaten, lanjutnya, bahwa bisa saja terjadi dua kemungkinan. Yakni pertama, bahan yang digunakan di Puskesmas Labuhan Haji kurang memadai dan yang kedua bisa saja hasil rapid test itu berubah oleh tiupan angin ketika pasien berada di atas motor.

Dengan simpang siurnya hasil yang Ahmad Siswandi dapatkan dari hasil rapid test itu, maka M menyuruhnya rapid test ulang di gugus tugas Kabupaten Lotim. Hanya saja, karena alat yang digunakan oleh tim gugus tugas Kabupaten Lotim sama dengan yang ada di Puskesmas Labuhan Haji, maka Ahmad Siswandi tidak diperkenankan untuk rapid test ulang di tempat tersebut.

"Untuk itulah Ahmad Siswandi tidak diberikan rapid test ulang disana," ulasnya.

Tak habis akal, akhirnya M mengajak Ahmad Siswandi pergi ke salah satu klinik swasta yang berada di Lotim untuk rapid test ulang. Setelah 15 menit menunggu, hasilnya keluar dan Ahmad Siswandi dinyatakan non-reaktif.

"Kami kemudian ke klinik swasta, untuk melakukan rapid test ulang. Setelah 15 menit hasilnya keluar dan Ahmad Siswandi dinyatakan non-reaktif oleh pihak klinik swasta itu," paparnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Labuhan Haji Lalu Rusli Anhar memaparkan kalau pada awalnya, garis yang dihasilkan dari hasil rapid test pasien berjumlah dua. 

"Dari hasil laboratorium itu, awalnya memang ada dua garis," ucapnya.

Namun, kemungkinan bisa saja terjadi kesalahan teknis yang bisa menyebabkan hasil rapid test tersebut berubah. Kemungkinan juga, pada saat itu hasil dari rapid test itu mengalami pemudaran sehingga menjadikannya satu garis.

Pihaknya juga mengatakan bahwa pasien yang datang sewajarnya diberikan pelayanan yang baik, terutama dalam hal efektivitas waktu. Tak terkecuali ketika pelayanan rapid test, pasien wajib mendapatkan pelayanan yang cepat dari PKM Labuhan Haji.

Di tempat yang sama petugas laboratorium yang waktu itu memeriksa pasien Ahmad Siswandi yakni Dian Irmayani menceritakan, ketika awal pasien itu datang, pihaknya sudah melayani sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Setelah menunggu selama kurang lebih 15 sampai dengan 20 menit, kata Dian, hasil dari rapid test tersebut pasien dinyatakan reaktif. Ini karena terdapat garis dua yang tertera pada hasil rapid test.

Namun ia mengaku tidak memberikan langsung hasil itu kepada pasien. Ini dilakukan karena masih menunggu petugas gugus tugas penanganan Covid-19 Kecamatan Labuhan Haji

"Karena petugas kecamatan sedang berada di sekolah, untuk itulah ia datang setelah 30 menit kemudian," tandasnya.

Tak lama berselang, lanjutnya, setelah kedatangan dari petugas gugus tugas Covid-19 kecamatan, pasien kemudian dijelaskan dengan hasil yang sama. Yakni sesuai dengan kesimpulan awal (garis dua yang menandakan reaktif).

Dirinya juga menjelaskan, jika kemungkinan bisa saja terjadi ketika antibodi pasien tersebut sudah mulai membaik. Kemungkinan hasilnya itu bisa berbalik arah menjadi tidak reaktif, setelah 7 hari ke depannya. 

Pada saat itu juga, Dian menerangkan belum berani menyimpulkan hasil dari rapid test tersebut. Sebab, kalau sudah lebih dari 20 menit ia tidak berani menyatakan kesimpulan itu reaktif ataupun non-reaktif. Pasalnya, secara SOP jika di atas 20 menit maka hasil rapid test itu tidak boleh dibaca. 

"Jadi patokan saya itu mengatakan reaktif sebelum 20 menit itu," katanya.

Ia tidak mengelakkan, karena alat rapid test sifatnya hanya screrning. Karena itu, bisa saja virus yang lain juga ikut dapat menyebabkan pasien menjadi reaktif.

Dari itu, jika pasien membutuhkan waktu yang cepat maka dirinya menyarankan untuk dilakukan test swab agar waktu lebih efisien.

"Untuk itulah kalau ada pasien yang butuh waktu cepat, kami sarankan untuk melakukan test swab saja," sarannya.

Adapun terkait dengan adanya perubahan status dari reaktif ke non-reaktif ketika dilakukan test di tempat yang berbeda, ia membeberkan sering juga terjadi hal seperti itu. Sehingga pasien lebih memilih hasil yang non reaktif karena dianggap lebih menguntungkan pasien.

Tentang adanya bahan kimia yang digunakan oleh PKM untuk rapid test, ia meyakini bahwa itu merupakan bahan yang sudah direkomendasikan oleh dinas terkait. Mengingat, bahan tersebut juga belum mencapai batas kadaluarsa. 

"Bahan yang kami gunakan juga belum expired kok," imbuhnya. (zaa)

Posting Komentar

0 Komentar