Jejak Terkini

Morel, Jamur Termahal Kedua Dunia dari Gunung Rinjani

Jamur Morel Rinjani (Foto: M. Mirzan Asrori)

SELONG—Gunung Rinjani ditahbiskan sebagai salah satu gunung dengan keindahan pemandangan yang luar biasa. Berkat keindahannya menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan.

Tak sekedar indah, gunung tertinggi ketiga di Indonesia ini juga disebut sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat Pulau Lombok. Pasokan dan suplai air bersih yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat juga dialirkan dari gunung ini. Tak heran jika Rinjani disebut pula sebagai tandon raksasa.

Di balik keindahan gunung ini, rupanya kekayaan flora dan fauna yang ada di dalamnya tak banyak yang tahu. Seperti keberadaan jamur Morel (morchella crassipe) misalnya.

Jenis jamur yang hanya bisa ditemukan di belahan dunia bersuhu dingin ini rupanya terdapat pula di Gunung Rinjani. Padahal lazimnya, Morel bisa tumbuh pada tempat berkelembaban bersuhu 3 derajat celcius.

Sedianya penemuan morel ini bukanlah hal baru. Ihwal penemuan jamur ini sudah berlangsung cukup lama. Yakni tepatnya pada tahun 2009 lalu.

Adalah Teguh Rianto yang pertama menemukan jamur ini. Sosok yang kini menjadi bagian penting di Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) itu menemukan jamur ini secara tak sengaja saat menggelar patroli di dalam kawasan hutan Rinjani.

Selepas penemuan itu rupanya ada fakta-fakta mencengangkan terkait keberadaan jamur tersebut. Morel diketahui sebagai jamur termahal kedua di dunia setelah jamur truffles. Betapa tidak, dalam 1 kilogram jamur ini bisa dihargakan mencapai Rp 6 juta. Tentu sebuah harga yang fantastis.

Morel sendiri sebenarnya sudah diproduksi secara massal di Eropa. Proses budidaya ini sudah berlangsung ratusan tahun silam. Budidaya juga rupanya diikuti oleh Tiongkok. Bahkan untuk skala produksi, negara Tirai Bambu ini sudah memulai sejak 2012 silam.

Sejak ditemukan pada 11 tahun silam, hasil uji uji DNA terhadap jamur ini, Morel merupakan satu-satunya yang pertama ditemukan di Indonesia. Uji DNA sendiri dilakukan Tim TNGR dan Tim Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor.

Fakta lain di balik temuan itu yakni Morel Rinjani mengandung antioksidan yang luar biasa. Ini diketahui setelah sebelumnya melalui uji fitokimia. Tak heran jika jamur morel dianggaop mujarrab sebagai pengobat kanker.

Kandungan lain dari jamur ini yakni memiliki karbohidrat, protein, serat, mineral, seluruh vitamin penting, dan senyawa aromatik.T

Jamur Morel Rinjani. (Foto: M. Mirzan Asrori)

Tidak sulit untuk mengidentifikasi jenis jamur yang satu ini. Morel ini biasa hidup di tanah atau di batu kapur. Dari sisi fisik, Morel memiliki ciri seperti tangkai berwarna putih pucat dan batangnya berbentuk silinder. Sementara bagian bawah lebih besar dan akan berongga apabila sudah matang.

Ciri lainnya yakni spora Morel berwarna kuning dengan bentuk elips lebar dan bertekstur halus. Ukuran jamur ini sekitar 6,5 hingga 18 sentimeter.

Rencananya, Morel ini akan dibudidaya dalam skala produksi. Hanya saja, sejauh ini temuan tentang jamur ini masih dirahasiakan.

“Masih kita rahasiakan dimana lokasinya. Jangan sampai keberadaannya diburu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” ungkap Kepala balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Dedi Asriyadi, dki hadapan awak media belum lama ini.

Tak hanya rencana budidaya, pihak TNGR juga berencana memberikan perlindungan terhadap sumber daya genetik jamur yang satu ini. Perlindungan tersebut dalam bentuk hak paten.

Dedi menegaskan, sejauh ini proses penelitian masih terus dimebangkan untuk budidaya Morel. Andai nanti rangkaian penelitian telah kelar, bukan tidak mungkin jamur ini bisa mendatangkan nilai ekonomis yang sangat besar bagi warga lingkar Rinjani.

Menyadari pentingnya keberadaan jamur ini, pihak TNGR pun masih merahasiakan lokasi dan habitat dimana jamur tersebut bisa ditemukan. Agar aman dari jangkauan tangan-tangan tak bertanggung jawab, pihaknya juga memberikan pengamanan serius.

“Kedepan kita ingin jamur Morel ini bisa mendatangkan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga. Kalua proses budidaya sudah berlangsung, masyarakat tidak lagi mengganggu ekosistem yang ada di dalam hutan Kawasan Rinjani,” tegasnya. (jl)


Posting Komentar

0 Komentar