Jejak Terkini

Pandemi Covid-19: Kemiskinan Petani Tidak Berganti Rupa

Suluh Rifai

DUNIA
di tengah pandemi Covid-19 sudah memicu banyak kalangan menyampaikan bahwa dunia sedang berproses untuk berganti rupa. 

Kata berganti rupa mengingatkan saya atas bait lagu Internasionale. Yah lagunya para Komunis, atas terjemahan tokoh nasional kita Ki Hajar Dewantara yang pernah saya nyayikan bersama kawan-kawan saya di Mataram saat mahasiswa. Karena menyanyikan lagu itu otomatis kami dibubarkan, diamankan ke Polresta Mataram karena ada teriakan dari Komunis, nih penggalan baitnya : 

Lenyapkan adat dan faham tua

Kita rakyat sadar! Sadar!

Dunia sudah berganti rupa

Untuk kemenangan kita.

Wah, bukan maksud mengkampanyekan paham Komunis loh ya. Apalagi sekarang mendekati tanggal 30 September. Sebuah tanggal dengan catatan sejarah yang selalu bikin tegang situasi bangsa dan seluruh penghuninya. Jadi saya berfikir keras betapa kuatnya aura 30 September itu. 

Kembali ke soal Pandemi Covid-19 yang katanya akan mengganti rupa wajah dunia. Ada benarnya memang misalnya dari sebelumnya ada sebagian kita yang tidak mau belanja online jadi belajar belanja online, terus sekolah dari tatap muka secara langsung sekarang tatap mukanya secara online. Prinsipnya umumnya penghuni bumi di paksa untuk melek teknologi, informasi dan komunikasi, semoga saja Indonesia sejajar dengan bangsa di luar sana. 

Eh, menyerempet sedikit soal kemerdekaan, kita sudah merayakan kemerdekaan ke-75 tapi saat ini jujur lah kita, bahwa masih bergulat memuju kedaulatan di sektor Teknologi, Informasi dan Komunikasi, bukan kasar ya, kalau saya bilang bangsa kita belum berdaulat urusan sinyal telekomunikasi, internet & data center. 

Perlu diingat, dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR pada Februari 2020, Johnny Gerard Plate, S.E. Menteri Komunikasi dan Informatika meralat target Indonesia Merdeka Sinyal pada 2020 itu, itu tandanya   saudara kita di  daerah terluar, terdepan dan tertinggal kesulitan belajar, belanja online.  

Kembali soal Pandemi Covid-19 yang berkemampuan mengganti rupa wajah dunia dan perilaku penghuninya, bikin saya khawatir dan mikir keras, yang kadang saya lampiaskan di Sosial Media sebagai status yang sekali waktu jadi chat panjang dengan sahabat sebagai bentuk respon dan kadang sebagai suport bahan diskusi. 

Khawatirnya saya itu, perubahan atau dunia berganti rupa tidak di iringi dengan ganti rupa wajah, nasib jutaan petani khusus di Indonesia, bayangkan upah nominal harian buruh tani menurut BPS pada Agustus 2020 Rp 55.677,- hanya naik 64 Rupiah [0.12 %] saja dari Juli 2020 sebesar Rp 55.613, jauh tertinggal dari Malaysia, Brunaidarussalam, Singapura dll. 

Sementara Nilai Tukar Petani[NTP], sebagai tolak ukur kemampuan daya belinya, pada Agustus 2020, BPS menyiarkan mengalami kenaikan 0,56 % yakni 100,65 yang pada bulan Juli 2020 sebesar 100,09. Jika kita ulas ke belakang sepanjang tahun 2020 NTP paling tinggi 104,16 pada bulan Januari, artinya bahwa Pandemi Covid-19 menurunkan produktifitas petani, sementara Bloomberg Billionaire Index merilis daftar 500 orang terkaya dunia, setidaknya ada Empat orang Indonesia yang masuk dalam rilis tersebut.

Jadi, khawatirnya saya itu sudah di jawab oleh rilis Bloomberg Billionaire Index dimana selama pandemi Covid-19 orang kaya melesat kekayaannya, orang miskin melesat kemiskinannya.

Balik lagi ingatan saya ketika nyanyi Internasionale bersama kawan-kawan saya yang bikin aparat mengamuk,tapi bikin aktivis ingusan seperti saya saat itu dan orang miskin tambah semangat, nih pengggalan bait lagunya : 

Bangunlah kaum yang terhina!

Bangunlah kaum yang lapar!

Kehendak yang mulia dalam dunia

Senantiasa bertambah besar

Sementara di tengah Pandemi Covid-19 di luar sana kita di suguhkan pertempuran Dua negara ; RRC vs Amerika, silih berganti saling ancam, entah soal asal muasal Covid-19, Vaksin, Barang Alat Utama Sistem Persenjataan [Alutsista] dll. 

Dalam negeri kita ya, biasa sebagai pusat pertemuan dari kegaduhan dunia luar, tidak jauh beda kayak orang yang jadi mediator bahasa kerennya calo berebut keuntungan entah itu dari pembeli atau penjual, ah tidak mau terlalu jauh mengulas soal percaloan, cukup sampai di sini saja, tidak mau ah, saya mau sampaikan percaloan itu ada di sini loh kedepan akan kita import Gula 672,600 Ton, Bawang Putih 196.549 Ton, Daging Sapi/Kerbau 109.253 Ton, semoga tida ada rencana buka import beras lagi, anggap saja itu tuah dari haluan konsep ketahan pangan. 

Terus bagaimana dengan rencana bangun lumbung pangan yang tersebar di Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Papua, Sumatera Selatan, NTT dengan biaya Triliunan Rupiah dan Jutaan Hektar yang di kelola oleh  BUMN, Kementrian, wah ini bukan tanggung tanggung ya, langsung di komandoi Bapak Menteri Pertahanan yang terkenal banyak tanah loh. 

Ee, sekilas program lumbung pangan yang selalu di kampanyenya dengan istilah food estate merupakan Proyek Strategis Nasional[PSN] ternyata sebagai pancingan agar Investasi dari RRC yang sering di tuduh Komunis, Abu Dhabi, Qatar, Korea Selatan, waduh bisa realisasiya masalahnya mengandalkan kekuatan asing, mana slogan Mandiri,Berdikari,Berkebudayaan, cita cita penyemangat yang di cetuskan Bung Karno, sudahlah!

Terlepas dari saling tuding menuding Dua negara besar di atas, fakta dunia menunjukkan empat negara yang unggul menjaga eksistensinya selama Pandemi Covid-19 entah itu sisi ekonomi [kebal ancaman resesi] politik, sosial dan sebagainya, negara tersebut adalah Republik Rakyat Tiongkok sendiri, Republik Sosialis Vietnam, Republik Sosialis Soviet Turkmenistan, Republik Islam Pakistan. 

Dari Empat negara yang eksistensinya terjaga selama Pandemi Covid-19, Satu yang selalu di tuduh Komunis, Dua Sosialis dan Satu Islam, nah Kapitalisme[Liberalisme] : Amerika dan sekitunya dimana nih ?

Tadi pagi Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan menyampaikan vaksin Covid-19 buatan China telah terbukti berhasil dalam uji klinis. Untuk itu, WHO akan memastikan vaksin dapat didistribusikan secara merata ke semua penjuru dunia, dahsiat bukan?

Ketimbang kesana kemari fikiran saat menulis baiknya saya akhiri tulisan saya ini dengan mengajak Sokoguru perubaha : Kaum Tani, Kaum Buruh di tengah Pandemi Covid-19 untuk bersatu, bergerak menuntut perubahan, tentu dengan berserikat, berpartai untuk kita ganti mereka yang jalankan kekuasaan tapi gagal wujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tentu dengan garis prosedural karena tidak ada berani pimpin kudeta, akhirnya mari sama sama nyikan bait lagu yang pernah bikin banyak orang di tangkap bahkan di bunuh, mulai : 

Perjuangan penghabisan

Kumpullah melawan

Internasionale

Pasti di dunia

Selamat Hari Tani Nasional!

*Penulis adalah anggota Serikat Tani Nasional [STN].

Posting Komentar

0 Komentar