Jejak Terkini

Belajar Menangani Sampah hingga Hidroponik di Dasan Lekong

BAWANG PREI: Kades Dasan Lekong, LM Rajabul Akbar menunjukan bawang prei yang ditanamnya.

SELONG--Halaman rumahnya nampak hijau dan asri. Beberapa tanaman sayur dan buah tumbuh berselang-seling. Ada juga kolam berukuran kecil berisi ikan nila.

Terik hari yang sudah melewati waktu Zuhur terasa masih teduh siang itu. Hijaunya tetumbuhan di dua rumah kaca halaman rumah itu seolah menegaskan kepribadian pemiliknya. Tak hanya bersih, tapi juga memancarkan aura kenyamanan.

Selada, caisim, kailan dan sawi serta beberapa jenis sayur tumbuh subur di batang-batang pipa yang telah disulap menjadi ladang hidroponik. Begitu juga dengan kangkung, pakcoi serta yang lainnya tumbuh menghijau pada bok-bok styrofoam.

Di salah satu pot yang ditumbuhi pohon buah, nampak gabus-gabus puntung rokok diserakkan. Beberapa diantaranya masih terbungkus plastik.

"Puntung rokok ini jangan dibuang sembarang. Ini bisa direndam selama dua hari dan bisa menjadi pengusir hama tanaman," ungkap Kepala Desa Dasan Lekong, Lalu Muhammad Rajabul Akbar, saat ditemui di kediamannya, Rabu (9/9).

Bersama seragam hitam putih yang melekat di tubuhnya, gurat wajah pria yang baru menjabat 2,5 tahun di desa itu nampak tetap semangat. Setelah menunjukkan puntung rokok, ia mengarahkan telunjuknya keluar mengarah ke atas tembok gerbang pekarangan rumahnya.

Di atas tembok samping gerbangnya itu, berjejer cabai, tomat dan bawang prei. Tanaman-tanaman itu tak kalah suburnya.

Khusus bawang prei ini, Akbar menanamnya dengan sistem kaviler. Pertumbuhan batang jenis tanaman sayur yang satu ini nampak lebih gemuk dan tinggi.

Akbar bercerita, desa yang dipimpinnya ini termasuk sebagai salah satu desa tua di Lombok. Argumentasinya ini lalu disandarkan pada nama masjid yang ada di desa itu.

"Cari di Pulau Lombok ini, hanya di sini yang masjidnya diberikan dengan nama lokal, tidak menggunakan nama Arab. Masjid kami namanya Raden Anji," ungkapnya.

Saat awal menduduki jabatannya sebagai kades, Akbar mengaku syok. Sebagai desa tua, seharusnya Dasan Lekong tidak menyandang status desa tertinggal. Terlebih, keberadaan desa ini berbatasan langsung dengan Kota Selong, Lombok Timur.

Sejak saat itu, terangnya, ia sangat gusar dan harus ada sesuatu yang luar biasa dikerjakan untuk mengubah desa itu. Ia pun memulai langkahnya dengan membidik sampah sebagai musuh utama.

Dipilihnya sampah sebagai musuh sangat beralasan. Dulu, sebelum ia menjadi kades, salah satu titik tikungan di desa itu yang dilewati jalan protokol dikenal karena bau menyengat. Setiap pengendara yang melewati tikungan tersebut wajib tutup hidung lantaran tak kuat menahan partikel bau yang bercampur di udara.

Sumber bau itu, jelasnya berasal dari warga yang membuat terasi. Selain itu, bau juga bersumber dari peliharaan ayam potong milik warga.

Akbar lantas mengenang bagaimana tikungan yang terkenal karena baunya itu. Tikungan tersebut tepat di jembatan yang membelah sungai di jalan tersebut. Di atas bantaran sungai itulah kerap menjadi sumber bau yang mengganggu penciuman para pengendara.

"Coba cek sekarang. Bau itu sudah lenyap, sudah tidak ada," ucapnya bangga.

Selain bau menyengat, aliran sungai yang membelah Desa Dasan Lekong juga dikenal kumuh. Sepanjang aliran sungai itu dipenuhi oleh bulu ayam.

Parahnya, bulu ayam yang mengotori aliran sungai itu bukan dari luar, tapi karena ulah warganya sendiri. Warga pemilik ternak ayam tanpa merasa berdosa membuang bulu ayam setiap hari.

Tentu, kondisi ini makin diperparah karena kesadaran warga yang minim. Nyaris semua penduduknya yang tinggal di bantaran sungai membuang sampah dari segala jenis di sungai tersebut. Praktis, bulu ayam, sampah plastik dan limbah rumah tangga berpadu menjadi satu di sungai tersebut.

Kondisi kesadaran mental yang akut ini rupanya menjadi tantangan yang sangat berat bagi Akbar. Bahkan, ketika pertama mengajak warga mengentas sampah lewat bank sampah yang diinisiasinya terasa mustahil.

Berbekal tekad dan keyakinan, Akbar tak mau menyerah. Terbersit di pikirannya membeli sampah warga agar bernilai tukar ekonomis.

"Tapi tetap saja berat. Sudah diajak pilah-pilih sampah mana yang organik dan non-organik, toh masyarakat juga tetap buang sampah sembarang," kenangnya.

Dari serangkaian kejadian itu, rupanya Akbar terus belajar mencari titik masuk menyadarkan warga. Rupanya, tabiat warga membuang sampah disebutnya bersumber pada mental dan perilaku. Percuma mengajak jika masyarakatnya sendiri belum memiliki kesadaran.

Mengetahui titik masuk itu, Akbar pun mengkonsolidasikan kekuatan tokoh masyay dan tokoh agama. Kepada tokoh masyarakat diajak berosisialisasi memberi pembinaan tentang bahaya sampah. Sembari itu, ia juga membagikan kantong plastik tempat sampah.

Sementara terhadap tokoh agama, Akbar butuh suara mereka. Lewat masjid, Musala dan majelis taklim, para tokoh agama diminta mengkampanyekan lawan sampah.

Cara ini rupanya dianggap cukup efektif. Pelan tapi pasti, perubahan mental di masyarakatnya mulai nampak. Bahkan bank sampah yang telah diinisiasinya kini selalu ramai oleh aktivitas penukaran sampah.

Untuk sampah organik seperti limbah rumah tangga, bahkan kotoran hewan, Akbar mengaku bisa menyulapnya dalam sekejap menjadi kompos. Tidak butuh waktu lama dengan cara fermentasi untuk bisa membuat pupuk.

Keterampilan dan pengetahuannya ini rupanya diimplementasikan pula. Warga desanya sudah mulai banyak yang belajar membuat kompos sebagai pupuk tanaman.

"Untuk sampah plastik, kita beli dan jual kembali. Tapi sedapat mungkin sampah non organik kita manfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Itu seperti puntung rokok itu," tunjuknya pada pot tanaman buah di rumahnya itu.

Dasan Lekong dengan kepadatan penduduk sampai 2.780 kepala keluarga rupanya dianggap tidak memiliki potensi luar biasa seperti desa lain. Desa itu tidak memilki potensi wisata yang bisa digerakkan untuk menumbuhkan perekonomian desa.

Satu-satunya yang diharap di desa dengan penduduk 8 ribu jiwa ini adalah sektor pertanian. Namun demikian, sektor inipun belum mampu memberi andil signifikan bagi ekonomi warga.

Dari kendala yang dihadapinya itu, Akbar berpikir keras bagaimana caranya memaksimalkan sektor pertanian. Di pikirannya, warga petani di desanya tidak perlu banting tulang dan berpanas-panasan, tali dengan hasil sepadan.

Rupanya dari pikirannya itu, terlintas membangun pertanian hidroponik. Pola pertanian macam ini disebutnya bisa menghasilkan untung berlipat denga tenaga dan biaya yang jauh lebih hemat dibanding pola bertani konvensional.

Untuk satu jenis tanaman sayur seperti selada misalnya. Akbar merincikan untung ruginya. Jenis sayur yang banyak dipergunakan sebagai sayur kebab ini harga perkilonya di pasaran minimal Rp 35 ribu.

Andai petani menanam sayur ini dalam jumlah yang masif, dipastikan keuntungan ynag didapatkan berlipat-lipat. Belum lagi dari sisi ketahanan, selada disebutnya sebagai salah satu jenis sayur yang cukup kebal denga serangan hama.

Jika semua warganya bisa memanfaatkan pekarangan rumah yang dimiliki dengan pertanian hidroponik, dipastikan mendatangkan manfaat luar biasa. Manfaat ini akan semaki kontras jika pertanian tersebut sudah terintegrasi dengan para pengusaha jasa wisata.

"Bayangkan kalau para pengusaha wisata seperti hotel dan restoran ini bisa kita suplai kebutuhan sayurnya. Mereka tidak rugi dan kuta untung," ucapnya.

Dengan terintegrasi bersama pengusaha wisata, jelasnya, sayur yang dibeli dari warga petani hidroponik dipastikan sehat dan bebas kimia. Tidak ada lagi konsumen seperti wisatawan atau warga ya g mengonsumsi sayuran yang bercampur bahan kimia.

Kini, Akbar tengah memproyeksi salah satu tanah aset desa sebagai sentral pertanian hidroponik. Di lahan yang sedang dibidik itu, pertanian hidroponik ini akan dipermak menjadi kafe alami.

"Nanti di sana, selain ngopi, bisa juga sambil makan mie telur dan sayur yang bersumber dari tanaman hidroponik itu," tandasnya. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar