Jejak Terkini

NASI’ ORAM

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

(Desain Salad Bowl Dalam Tradisi Multikulturalisme Klasik Masyarakat Sasak)

CUKUP sepadan jika kita mulai kritis terhadap adagium “The king can do no wrong,” apalagi "right or wrong is my country”. Dua pepatah ini berpotensi membangun sikap eksklusif. Demikian pula terhadap tradisi ataupun world view yang mengasumsikan pilihan pribadi atau kelompok sebagai ultimate concern. Sepatutnya kita mulai bermain di wilayah metaetik untuk sedikit demi sedikit lebih arif mendapatkan standar kebenaran yang bisa mengkonstruk sikap terbuka (open system) dengan ciri inklusif demokratis, dan historis. 
 
Adalah hal yang tidak mudah karena adagium dan world view yang relatif tertutup tersebut cukup lama tidak tertangani dengan tepat. Oleh sebab itu perlu kesabaran dan hati yang teduh dalam mengikis sikap closed system ini.

Ari Laso dalam penggalan syair lagunya melantunkan: “Segala perbedaan itu membuatmu jauh dariku. Biarlah Sang Waktu menjaga cintamu. Nyalakan api cinta untuk membakar ragu yang ada. Ku kan selalu setia, hingga saarnya tiba.”

Mengurut benang kusut untuk beringsut dari sikap  ekseklusif, emosional, ahistoris ke inklusif, demokratis, historis membutuhkan body of knowledge yang dapat menarik setiap pribadi atau kelompok untuk merdeka dalam hal saling melengkapi sebagai esensi dan fakta perbedaan. Bangunan pengetahuan atau body of knowledge yang demikian itu lebih akrab disebut multikulturalisme.

Multikulturalisme adalah term yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang atau komunitas tertentu tentang ragam kehidupan di dunia atau kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman dan berbagai macam budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat, terutama yang berhubungan dengan value system. Multikulturalisme menjadi penting dalam kemajemukan. Ajaran ini akan menghadirkan keberterimaan, saling menghargai, dan menghormati. Multikulturalisme pun membangun tasamuh. Nuansa pelangi sebagai sebuah harmoni, khususnya dalam ke-Indonesiaan kita, akan dibidani multikulturalisme.

Multikulturalisme adalah kenyamanan. Dengan multikulturalisme phobia kebinekaan menjadi jauh. Yang menguat adalah nikmat keberbedaan, keintiman berdialog, dan saling mengerti (understanding). Ujungnya adalah hidup dalam damai. Mengukuhkan keniscayaan multikulturalisme berarti menyahuti ‘amar “lita’arofu” untuk mengelola aspek perbedaan sebagai langkah merajut sikap kompak, utuh, dan bersatu.

Untuk memahami ‘amar “lita’arofu” dengan lebih seksama, sangat tepat bila membahas QS. Al-Hujarat Ayat 13. Alloh SWT dalam ayat tersebut menegaskan: “Hai sekalian manusia. Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi-Ku adalah orang yang taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal.

Dalam beberapa tafsir, para mufassir rata-rata menjelaskan kata “lita’arofu” sebagai sebuah proses yang seimbang. Para pihak berproses dalam mengenal yang lain dan memperkenalkan diri. Sebuah perspektif menggaris-bawahi bahwa dalam proses saling kenal-mengenal atau “lita’arofu” harus bermuara pada saling menerima dan saling menghargai. Maknanya adalah tidak boleh ada perasaan lebih mulia daripada yang lain, apalagi ada hasrat atau nafsu saling “mematikan.”

Kandungan  QS. Al-Hujarat Ayat 13 dalam pandangan sosiologis adalah momosisikan individu, bangsa dan suku sebagai teman bagi individu, bangsa dan suku yang lain. Dalam fungsi dan peran pun mereka diposisikan setara dalam arti saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain. Pandangan ini tidak berbeda dengan sebuah desain saling keberterimaan antar budaya yang beragam yang disebut multikulturalisme dengan desain Salad Bowl.

Multikulturalisme dengan desain Salad Bowl hadir ketika komposisi etnik Amerika semakin beragam dan budaya mereka semakin majemuk. Desain Salad Bowl ini mengemuka di bawah pengawalan seorang pakar, bernama Horace Kallen. Dia menggagas pentingnya multikulturalisme dengan desain Salad Bowl sebagai alternatif pengganti teori Melting Pot yang semakin termarginalkan karena dipandang melelehkan budaya – budaya, khususnya yang kurang berdaya. Salad Bowl sendiri mengusung saling keberterimaan tanpa ada hasrat atau nafsu saling “mematikan.” Walaupun kemudian ada yang harus aus, hal tersebut semata-mata disebabkan oleh kondisi internal budaya bersangkutan.

Multikulturalisme dengan desain Salad Bowl karya Horace Kallen memiliki korespondensi dengan pendapat Mufassir Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir yang terkenal dengan sebutan TGB (Tuan Guru Bajang). Dalam kajian akademiknya tentang tafsir frase “shirotol mustaqim,” TGB atau Dr. Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majdi, MA. menjelaskan bahwa  “shirotol mustaqim” bermakna sebuah jalan yang sangat lebar dan lapang. TGB mengilustrasikan kelapangan jalan tersebut dengan perumpamaan bahwa jika seluruh manusia yang ada di atas dunia ini berbaris dari ujung jalan yang satu sampai ujung lainnya, maka seluruh ummat manusia dapat dimuat dalam satu baris atau shaff tanpa berdesak-desakan. Lebih lanjut TGB (Tuan Guru Bajang) menegaskan bahwa Alloh SWT melalui frase “shirotol mustaqim” mengabarkan kepada ummat manusia bahwa mereka diciptakan dengan fasilitas masing-masing secara adil. Oleh sebab itu, manusia diharapkan agar senantiasa dapat hidup bersama dalam damai dan tidak saling curiga, serta saling berebut, walaupun faktanya manusia dalam keragaman.

Koresponden atau persesuaian kajian akademik TGB (Tuan Guru Bajang) tentang tafsir al-Fatihah, khususnya frase “shirotol mustaqim” dengan desain Salad Bowl karya Horace Kallen adalah pada ajakan mengusung multikulturalisme dengan imbuhan membersihkan diri dari nafsu memangsa pihak lain. Esensi dalam correspondence kedua isme ini adalah pengakuan kemerdekaan atau hak asasi individu dan atau kelompok lain sehingga berpeluang tetap eksis, sekali pun individu dan atau kelompok sangat terbatas dalam kapasitas, baik kualitatif atau pun kuantitatif.

Dalam masyarakat Sasak, ajaran-ajaran mengusung multikulturalisme desain Salad Bowl ini telah dikenal lama.  Masyarakat Sasak klasik hingga kontemporer sekarang ini tidak mengalami kesulitan dalam menerima dan menghargai etnis lain sekaligus ragam budayanya. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya akulturasi dengan beberapa budaya dari bangsa dan suku-suku lainnya, terutama yang datang dari seputar nusantara. Misalnya saja, Subak dalam pertanian, tongkek dalam alat musik tradisionil, serapan kata dalam Bahasa Sasak, persinggungan dalam seni tari dengan suku Melayu dan Bali, serta keyakinan maupun adat istiadat dengan Jawa, Bugis-Makasar, dan lain-lain.

Multikulturalisme desain Salad Bowl dalam masyarakat Sasak dikukuhkan dengan metafora Nasi’ Oram atau dalam dialek Bahasa sasak yang lain menyebutnya dengan Nasi’ Oras atau Nasi’ Kyai Tuan. Terminologi Nasi Oram ini diserap dari term-term dalam kegiatan ruwah, begawe, atau kenduri dalam Bahasa Indonesia.  Dalam tradisi ruwah, begawe, atau kenduri  masyarakat Sasak, terdapat porsi sajian atau dulang dalam Bahasa Sasak yang khusus disuguhkan kepada Kyai Tuan atau toga/toma. Porsi yang biasanya untuk dua yang disebut subuh atau paling banyak tiga orang yang disebut maghrib dalam term begawe Sasak, biasanya tidak habis. Separuh porsi yang tidak habis ini kemudian dicampur menjadi satu, baik nasi, lauk-pauk, dan lain-lainnya dengan imbuhan lauk-pauk secukupnya dari seoang Ran (juru masak) dalam upacara ruwah, begawe, atau kenduri tersebut. Porsi sajian yang telah tercampur inilah yang disebut Nasi' Oram. Dalam tradisi ruwah Sasak, Nasi Oram ini disajikan kembali kepada para ibu, anak-anak, dan seluruh yang membantu proses terselenggaranya upacara ruwah, begawe, atau kenduri.

Berdasarkan pengalaman, ibu, anak-anak, dan seluruh penerima sajian Nasi’ Oram rata-rata memberi apresiasi positip. Dari sisi rasa, Nasi’ Oram sangat mengundang selera. Dari sisi cara penyajian, yaitu tradisi begibung (makan seporsi bersama untuk 2 atau 3 orang), tanpa disadari dapat menguatkan persaudaraan. Dari sisi lain yang tidak kalah pentingnya, sajian rata-rata habis dan tidak ada yang mubazir.

World View  Nasi’ Oram memiliki esensi heterogenitas yang bergumul dalam sebuah kehidupan bersama yang saling melengkapi antara yang satu dengan yang lain tanpa saling mengganggu, apalagi membunuh eksistensi.  Multikulturalisme desain Salad Bowl dalam masyarakat Sasak yang dikukuhkan dengan metafora Nasi’ Oram ini sungguh penting dilestarikan. Inilah sebuah multikulturalisme klasik yang bersandar pada “pesan langit” dan tidak kalah dengan teori social modern. Wallohu’alamu.

*Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor dan tenaga pendidik di SMA NW Pancor.

Posting Komentar

0 Komentar