Jejak Terkini

Celepuk Rinjani dalam Bayang Kepunahan Akibat Degradasi Hutan

HAMPIR PUNAH: Celepuk Rinjani adalah satwa endemik yang statusnya ditetapkan hampir punah.
MATARAM--Penghormatan teramat tinggi sekiranya patut dipersembahkan kepada pasangan suami istri George Sangster dan Jolanda Luksenburg. Dua ilmuan ahli biologi di bidang morfologi asal Swedia ini berjasa besar atas temuan sekaligus upaya identifikasinya terhadap Celepuk Rinjani.

Ihwal penemuan terhadap burung bernama latin Otus Jolandae ini bermula pada 3 September 2003 lalu di kaki gunung Rinjani. Lewat serangkaian analisa dan identifikasi, Sangster bersama Jolanda membandingkan suara burung ini dengan sejumlah burung hantu yang masih memiliki kekerabatan. Sebut saja seperti burung hantu Jawa, Sulawesi dan Kepulauan Maluku.

Dalam proses identifikasi itu, Celepuk Rinjani sama sekali berbeda dengan kerabatnya. Perbedaan itu terutama pada kekhasan suara "pok" yang dikeluarkan burung ini. Tak heran jika masyarakat lokal menyebutnya dengan Burung Pok karena suara yang dikeluarkan.

Berdasarkan klasifikasi morfologis, sedikitnya ada sekitar 51 jenis burung hantu. Jenis burung hantu oleh para ilmuan ditetapkan dalam genus Otus.

Ketertarikan atas temuan pasutri dari Departement of Zoology Stockholm Swedia University rupanya mengundang minat yang sama pada peneliti lain. Berselang empat hari, tepatnya pada 7 September di tahun yang sama, peneliti American Museum of Natural History AS juga mengaku berjumpa dengan burung ini.

Lima tahun berselang, pada 2008 rekaman suara yang sukses didokumentasikan oleh Sangster dan istri rupanya menjadi bekal penelitian ilmuan lainnya. Kali ini, peneliti asal Belgia, Philippe Verbelen dan rekannya Bram Demeulemeerlster juga membawa misi sama.

Kedua peneliti ini juga mengunjungi kaki Gunung Rinjani dan berhasil menjumpai jenis burung yang sama. Mereka sukses pula memotret dan merekam suara burung tersebut.

Rupanya ketertarikan serupa juga dialami Jan van der Laan. Pada 2011 lalu, ilmuan asal Belanda ini justru memperlebar jangkauan penelitiannya. Ia tak berfokus di wilayah kaki Gunung Rinjani.

Jan van der Laan malah mengeksplorasi beberapa kawasan hutan sekunder. Sebut saja seperti Senggigi dan Sesaot. Di tempat-tempat ini, ilmuan tersebut juga sukses menemukan burung bernama latin Otus Jolandae tersebut.

Kembali pada pasutri Sangster dan Jolanda, temuannya tentang Celepuk Rinjani kemudian dituliskan dalam jurnal ilmiah. Nama Rinjani pada burung ini dinisbatkan pada teritori penemuannya. Celupuk ini hanya dapat ditemukan di Pulau Lombok dan ditetapkan sebagai burung endemik.

Sangster secara spesifik mengulas, dari sisi fisik Celepuk Rinjani memiliki kemiripan dengan Otus Albiventris (endemik di Pulau Sumbawa). Namun dari proses penelitian, perbedaan yang mencolok terletak pada bentuk tubuh bagian atas. Perbedaan itu terutama pada motif garis kecoklatan yang lebih tipis dengan mahkota yang lebih gelap.

Celepuk Rinjani juga dari sisi komposisi suara memiliki kemiripan dengan Otus Magicus asal Maluku. Yang berbeda dari dua jenis ini terutama pada siulannnya. Otus Magicus mengeluarkan suara lebih serak dibanding Otus Jolandae yang jauh lebih bersih.

Sangster menisbatkan nama belakang Jolandae pada Otus ini sebagai penghormatan kepada istrinya, Jolanda. Sangster ingin mengabadikan nama sang istri lewat penemuan mereka.

Dalam Ancaman Kepunahan

Celepuk Rinjani saat ini masuk dalam daftar 1 dari 25 fauna yang hampir punah dalam catatan Balai Taman Nasional Rinjani (BTNGR). Status ini diperkuat lagi oleh Uni International Conservation of The Nature (UICN).

Badan yang mengurus soal konservasi alam ini sejak 2016 lalu menetapkan Celepuk Rinjani sebagai fauna Near Thretened (hampir punah).

Kepunahan Celepuk Rinjani sebagian besar disebabkan akibat degradasi lahan hutan. Terlebih habitat jenis Otus yang satu ini berada di ekosistem ekoton.

"Ekosistem ekoton merupakan wilayah peralihan dari hutan primer. Misalnya berbatasan langsung dengan sawah, perkebunan atau hutan sekunder," jelas Staf Pengendalian Ekosistem Hutan (PEH) BTNGR, Keny Apriliani kepada JEJAK LOMBOK, Senin (3/8).

Bersama staf PEH BTNGR lainnya, Budi Soesmardi, Keny membeberkan, Celepuk Rinjani merupakan satwa yang masuk dalam prioritas perlindungan. Hewan ini dimasukan prioritas lantaran statusnya sebagai endemik.

Kendati sudah menjadi prioritas, Keny dan Budi tidak menampik jika pihak BTNGR belum memiliki tempat penangkaran khusus bagi burung yang memiliki ketinggian tubuh antara 20-25 centimeter ini. Pihaknya sejauh ini masih dalam proses pencarian dan identifikasi sarang burung tersebut.

"Kita perlu belajar juga bagaimana prilakunya. Ini penting agar saat ada penangkaran sudah kita tahu bagaimana treatment-nya," ucapnya.

Ia membeberkan, habitat burung ini biasanya bisa ditemukan pada ketinggian 25 hingga 1.350 meter dari permukaan laut (MDPL). Pohon hinggap yang paling digemari terutama pada pohon Dadap dan Bajur.

Lantaran tidak adanya penangkaran, Otus Jolandae masih dibiarkan hidup bebas di alam lepas.

Menyadari potensi bahaya kepunahan yang sedang membayangi, BTNGR tidak tinggal diam. Berbagai kampanye pelestarian disuarakan untuk melindungi spesies yang satu ini.

"Kami juga melakukan monitoring dan pembinaan habitat," ujarnya.

Bukan hanya degradasi lahan hutan yang menjadi pemicu ancaman kepunahan Celepuk Rinjani. Aktivitas perburuan tangan-tangan usil disebutnya turut pula memberi andil.

Lebih spesifik, Keny dan Budi membeberkan kondisi degradasi hutan kawasan TN Rinjani. Lahan terbuka sejauh ini ditemukan hanya di wilayah hutan Pesugulan, Resort Aikmel, SPW II, Desa Bebidas, Kec. Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur. Luasnya mencapai 113 ha.

Kendati ada temuan degradasi, pihaknya sudah melakukan penanaman secara bertahap. Langkah ini diambil untuk memulihkan ekosistem fauna yang ada di kawasan Rinjani.

Mereka berdua lantas membeberkan data populasi Celepuk Rinjani dalam beberapa tahun terakhir. Terbaru pada tahun 2019 lalu, terdapat 245 ekor pada rentang April hingga September. Jumlah ini ditemukan di kawasan hutan Kembang Kuning Lombok Timur.

"Sementara di Senaru di rentang waktu yang sama, jumlahnya sekitar 14-18 ekor," jelasnya.

Saat ini, Celepuk Rinjani hidup bersama 154 jenis burung yang ada di kawasan TNGR. Bersama Elang Flores dan Kakatua Jambul Kuning, Celepuk Rinjani masuk dalam ancaman Kepunahan.

Agar endemik ini tidak punah, ia meminta masyarakat agar benar-benar sadar tentang penting Celepuk Rinjani. Mengingat fauna yang satu ini sangat berperan penting dalam rantai makanan.

Dalam rantai makanan, Celepuk Rinjani diketahui sebagai pemangsa hama pertanian. Makanan favoritnya adalah belalang dan tikus. (jl)

Posting Komentar

0 Komentar